
Review by : Addy Gembel [http://addygembel.multiply.com]
Masih lekat dalam ingatan saya ketika umur 9 tahun saya duduk dipangkuan bapak saya. Bapak memutar lagu Rolling Stones dengan volume kencang sambil bercerita tentang ‘kenakalan’ band ini. Sambil tersenyum bapak saya berujar “yang merusak anak muda di dunia adalah band ini…”. Waktu berlalu dan kini saya kembali duduk berdampingan dengan bapak saya menonton video concert documentary berjudul “Stones Scorsese, Shine A light”. Sebelumnya saya sempat memberikan sebuah buku biography “According To The Rolling Stones” pada bapak sebagai hadiah ultah beliau.
Yup benar…dokumentasi konser ini disutradarai oleh Martin Scorsese. Seorang sutradara handal dan kerap mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi atas karya filmnya. Pada akhir 2006 mereka berkolaborasi bersama menggarap sebuah film dokumentasi konser. Film dibuka dengan adegan Mick jagger yang sedang bersungut-sungut ketika di sodori denah panggung mereka. Dia menganggap dekorasi panggungnya mirip dengan rumah boneka, sementara Martin menganggap dekorasi itu adalah keinginan dari pihak band. Sangat menarik menyimak konflik-konflik yang terjadi antara idealisme band dan sutradara yang lebih banyak dilakukan melalui hubungan telepon.
Ya…karena selama persiapan pembuatan film ini Stones sedang tour dunia jadi segala persiapan dan pembicaraan persiapan konser dilakukan hanya lewat telepon. Yang pasti Martin dibuat pusing oleh tingkah nakal para personil Stones. Seperti ulah Keith Richard yang ngotot pengen ada kamera di dalam bass drumnya Charlie Watts atau ulah Mick Jagger yang dengan seenaknya merubah songlist yang telah disepakati bersama sutradara beberapa jam menjelang konser.
Yang tidak kalah ribetnya adalah persiapan teknis terutama setting kamera. Mick Jagger sempat complain dengan banyaknya kamera yang dipasang diseputar panggung dan area penonton. Kamera film berukuran besar dan bergerak kesana kemari membuat Mick sempat merasa tidak nyaman diatas panggung dan meminta sang sutradara untuk menset ulang penempatan kamera.
Dalam salah satu sessi latihan dan gladi resik mereka didatangi oleh Bill Clinton dan keluarganya. Yup…Mr President Of The United States datang membawa 30 orang termasuk keponakan dan ibunya. Mereka datang hanya untuk melihat Stones latihan dan berfoto bersama!…tentu saja kedatangan mereka sangat mengganggu ditengah tekanan jadwal yang padat. Hal itu nampak sekali dari ekspresi Mick Jagger yang kesal dan komentar Keith Richard yang rada ‘nyepet’ pada Bill Clinton, “hi Clinton, I’m bushed”.
Konser dibuka dengan lagu “jumpin’ jack flash”, nampak sekali disini kualitas Martin sebagai seorang sutradara handal. Pergerakan kamera yang dinamis bergerak ke segala sudut berhasil menangkap setiap detail ornamen konser. Setiap pergantian scene dimasukan insert berupa dokumentasi Stones dimasa lampau lengkap dengan beberapa kasus kontroversialnya. Martin mencoba menangkap energi liar rock n’ roll Rolling Stones dan menyuguhkannya lewat kualitas gambar yang mantap. Kegilaan setiap personilnya yang telah berusia senja beraksi diatas panggung disuguhkan dengan sempurna oleh Martin, bahkan umpatan dan candaan sesama personil diatas panggung berhasil terekam dengan baik. Kita seolah berada diantara mereka dan ikut merasakan energi mereka.
Entah disadari atau tidak, tangan kiri bapak saya bergerak-gerak mengikuti ketukan drumnya Charlie Watts sepanjang menonton video konser tersebut. Padahal pasca serangan stroke tangan dan kaki kirinya nyaris lumpuh. Di balik kegilaan Stones ternyata mereka mampu menghadirkan mukjizat buat bapa dan saya terharu untuk hal itu. “nanti kalo dah beres nonton film ini, kamu bacain bukunya ya buat saya” demikian salah satu permintaannya sambil terbata ketika film tersebut menyuguhkan lagu terakhir “I can’t get now, satisfaction”.
Okay dad, just keep your spirit rollin’ like a stones…
———————————-
DVD Stones Scorsese, Shine A Light
Harga : IDR 40,000
Order to :
+ Omuniuum +
Ciumbuleuit 151 B Lt.2
Bandung 40141
Ph. 022-2038279
e. omuniuum@gmail.com / order@omuniuum.net

















