CD “the Headless Songstress” TIKA & The Dissidents

Published on July th, 2009

CD "the Headless Songstress" TIKA & the dissidents

TIKA & THE DISSIDENTS

IDR 38,000

Untuk pemesanan silakan via email order@omuniuum.net / omuniuum@gmail.com atau datang langsung ke ciumbuleuit 151 b lt.2 bandung

[SIARAN PERS]

The Headless Songstress
Karnaval provokatif TIKA & The Dissidents

Posisi perempuan dalam industri musik sulit lepas dari imej serba glamor dan gemerlap. Namun beberapa tahun silam, di tahun 2005 tepatnya, muncul seorang penyanyi perempuan di Indonesia yang menantang norma pasar dengan mengusung musik gelap dan dingin melalui album ‘Frozen Love Songs’ yang dikemas ulang dengan judul ‘Defrosted Love Songs’. TIKA namanya. Banyak yang mempertanyakan mengapa seorang penyanyi dengan kualitas vokal kelas satu seperti TIKA memilih jalur independen yang konon tak seberapa komersil? Hanya TIKA yang tau jawabannya. Yang pasti ia telah mendobrak klise Diva di Indonesia dan memahat reputasi sebagai salah satu penyanyi perempuan paling berbahaya di masanya. Namun kemudian TIKA menghilang begitu saja dari kancah musik.

Kemana ia menghilang dan apa kabarnya TIKA saat ini? Setelah hibernasi panjangnya, kini TIKA telah kembali dengan album terbarunya yang bertajuk ‘the Headless Songstress’.

TIKA tidak sendirian lagi kali ini. Ia menggandeng tiga musisi yang dibaptis dengan nama the Dissidents sebagai partnernya dalam album ‘the Headless Songstress’. “Sekarang tidak memakai nama TIKA lagi, tapi berubah jadi TIKA & the dissidents,” ia menjelaskan. Mereka adalah Susan Agiwitanto (bass) Okky Rahman Oktavian (drum) dan Luky Annash (piano). The Dissidents pula lah yang turut berperan atas perubahan musik TIKA yang melompat jauh dari karya-karya sebelumnya. “Kira-kira 60% materi album ini dibuat TIKA bersama-sama dengan the Dissidents,” tutur Susan sang bassist. Bahkan kali ini TIKA yang dikenal dengan akrobat vokalnya, memilih bernyanyi lebih santai untuk mengimbangi the Dissidents. Dua gitaris dari kubu jazz dan postrock juga digamit TIKA untuk memproduseri album ini. Iman Fattah, gitaris band Zeke & the Popo, dan Nikita Dompas gitaris jazz muda berbakat. Mereka lah yang membungkus lagu-lagu TIKA & the dissidents menjadi sebuah paket musik yang kaya bumbu dalam album ‘the Headless Songstress’.

Namun yang paling drastis berubah, adalah lirik yang ditulis TIKA untuk album ini . Apabila dulu ia dikenal dengan lirik galaunya, kali ini TIKA banyak melempar kritik sosial dengan sarkasme yang nakal namun tajam. Di lagu ‘Polpot’ misalnya, TIKA mengangkat pembantaian intelektualitas massal oleh televisi. Di lagu ‘Red Red Cabaret’, ia menyentil polah selebriti yang haus ketenaran. Lagu ‘Clausmophobia’ menyindir kemunafikan masyarakat menyikapi homoseksualitas. Dan tentu yang paling jelas terasa adalah lagu ‘Mayday’ yang bertema hari buruh.

“Secara pribadi, ini bukan perubahan besar,” ujar TIKA. “Tema-tema ini sudah menjadi ketertarikan saya sejak remaja. Kalau lirik di album yang dulu galau, itu karena saat itu hidup saya memang sedang galau saja,” aku perempuan yang sejak kuliah aktif mendukung gerakan literasi, liberasi gender, dan gerakan swadaya atau DIY ini.

Saat ditanya soal genre musik album ‘the Headless Songstress’, baik TIKA, anggota the dissidents, maupun kedua produser merasa tidak ada satu genre yang bisa mewakilli seluruh lagu di dalamnya. Adanya unsur jazz, rock, blues, hingga tango dan waltz membuat album ini sulit dikotakkan. Ditambah lagi dengan keterlibatan banyak musisi tamu seperti Anda, Riza Arsyad (simakdialog), Adrian Adioetomo, dan banyak lagi. “’the Headless Songstress’ ibarat sebuah karnaval setelah tutup di malam hari. Menyenangkan tapi menyeramkan” ungkap Nikita Dompas, mendesripsikan album ini. “Saya percaya album ini dapat menjadi salah satu album lokal yang paling unik yang pernah ada” tambah Iman Fattah.

Sedangkan TIKA, apa harapannya akan album terbarunya sendiri? “Ini bukan album instan. Musiknya pun perlu waktu untuk dicerna. Tapi saat orang sungguh-sungguh mencernanya, semoga dapat memprovokasi telinga dan pikiran pendengarnya. Membuat perubahan yang meski kecil namun berarti.”

Siapkah pasar Indonesia dengan konsep musik seperti ini? Mari kita lihat sambil menikmati karnaval provokatif TIKA & the dissidents dalam album ‘The Headless Songstress’.

sumber : www.suaratika.com

Comments

  1. Posted by Rainer on August 9th, 2009, 21:46

    Saya pertama kali jatuh dalam lembah ke-TIKA-an ketika Paul Agusta, teman baik saya, memperdengarkan “Fever Fairy Tale”. Suara seorang perempuan dibalut musik kelam membuat saya yg notabene memang pecinta musik ‘unik’ [Bjork, Antony & The Johnsons] langsung jatuh hati pada TIKA.

    Saya beli album pertamanya Frozen Love Songs, kemudian Defrosted Love Songs, download single kemudian di tahun 2006 “Mayday”. Saya tahu saya fana-TIKA. Setelah album pertamanya, mungkin saya menjadi orang yg paling menyebalkan untuk Kartika Jahja. Selalu saya SMS, My Space, Facebook atau email untuk menanyakan kapan album berikutnya keluar.

    Begitu gaung Headless Songstress terdengar setahun yg lalu saya semakin bernafsu. Hingga tanggal 28 July 2009 CD tersebut keluar dipasaran saya langsung menyabetnya dari Aksara. Tidak dipungkiri, musik dan lagu di album ini menjadi kelanjutan kiprah Tika & The Dissidents yg menakjubkan.

    Long live Tika! Keep fighting the power!

  2. Posted by Anto on December 23rd, 2009, 05:35

    “Album of the Year” dari majalah TEMPO!! Kado tutup tahun untuk Tika & the Dissidents.

    Di sela hiruk pikuk akhir tahun, sebuah berita menggembirakan kami terima beberapa hari yang lalu. Album kami, the Headless Songstress, terpilih sebagai “Album of the Year, 2009” versi majalah TEMPO.
    Kado tutup tahun yang cukup membayar lelah atas kerja sepenuh hati dari personil maupun tim pendukung kami yang luar biasa.
    Tak hanya ini, kami pun ingin berterimakasih kepada para redaktur TRAX Magazine yang menyertakan kami dalam daftar “10 Best Local Albums of 2009” di edisi desember ini. Juga majalah HAI, yang menominasikan kami dalam kategori Best Album dan Best Female Artist dalam Poling Musik Hai.
    Ini adalah tahun yang penuh kejutan bagi kami. Semenjak dirilisnya album kami bulan lalu, begitu banyak apresiasi sekaligus kritik yang kami terima dari berbagai media, kawan-kawan sekaligus pembeli album kami.
    Untuk setiap kawan, wartawan, penyiar, pembeli album kami, penonton pertunjukan kami, pendukung setia kami, pendengar baru kami, yang telah memberikan opini kalian terhadap musik kami baik lewat tulisan, gelombang udara, dunia maya, maupun tatap muka….kami berterimasih dan bersulang untukmu.
    Selamat menutup tahun 2009. Kita jumpa lagi di 2010.

    sumber: http://www.suaratika.com

  3. Posted by Andin on September 30th, 2010, 18:39

    gw mau beli nie …
    masih ada kan yah??????????
    Original kan????????

    gmn cara nya??????

  4. Posted by boit on October 6th, 2010, 06:10

    sms ke 087821836088 yaa… :)

Reply

Comment guidelines, edit this message in your Wordpress admin panel