Tak usah berpanjang kata, silakan disimak review album Suar Marabahaya ((Auman)) ini. Ditulis oleh teman kami Benjing yang awalnya sempat ragu karena dirasa sudah terlambat tapi menurut kami tidak ada kata terlambat untuk ikut mensyiarkan raungan sang raja. Mari. :)

- boit

***

Menghambur Raung Gemuruh: Suar Marabahaya

IMG_0506

Suar Marabahaya sebenarnya sudah dirilis semenjak Januari lalu, yang mana :

1. Satu setengah tahun semenjak saya mendengarkan pertama kali single ‘W.K.G.G’. Jarak yang panjang antara single dan album penuh. Sempat membuat kening berkerut juga awalnya, ketika mendengarkan pilihan mereka untuk menggunakan bilingual pada tatanan lirik. Tapi lama kelamaan, ya, enak juga.

2. Dua bulan semenjak pertama dan kedua kalinya saya menyaksikan mereka di Soundrenaline dan suatu gigs di Borneo Beerhouse. Beberapa hal yang saya tangkap saat itu adalah, para personilnya memakai kaos keren dari band-band keren, mereka punya kualitas sound dan lagu-lagu baik lambat ataupun cepat yang mudah diterima, alasan kenapa lamanya album ini dirilis, dan ocehan Rian Pelor yang mengatakan mereka tidak bermaksud menginvasi ibukota (semacam “kami hanyalah band kampung, datang dengan baik-baik”, dsbg.), yang terdengar sangat merendah selepas uji dengar (dan pandang) kualitas ((AUMAN)).

Tiga bulan kemudian, semakin meresap dan saya merasa perlu untuk mengulasnya. Oh ya, saya belum membaca twit-twit dari abang vokalis -yang menurut seorang kawan- yang pernah menceritakan tentang makna-makna keseluruhan liriknya. Jadi, sesuai dengan nalar dan apa yang saya rasakan saja.

Intronitroduction: Year of the Tiger Ternyata tembang yang telah saya nantikan sedari melihat performa langsungnya, merupakan unit perkenalan. Tentang ((AUMAN)) yang lahir di tahun harimau, di tanah raja, Sriwijaya. Dinyanyikan dengan alunan yang semakin melambat, tegas, gahar, sebelum dilanjutkan potongan lirik..

Unholy Terror “Jari tengahku di mukamu!” Wah, sialan. Gempuran stoner rock nan ngebut segera dihantarkan. “Kibarkan panji di udara, seolah kau pegang marka surga..” langsung menyiratkan lagu paling keras terbaru, tentang para penebar teror atas nama agama. Diakhiri dengan keyakinan bahwa orang-orang tersebut tak akan menang.

W.K.G.G Saya yang terlahir dan tumbuh kembang di kepulauan di Selatan Sumatera, cukup sering mendengar term “Wong Kito Galo” yang diplesetkan menjadi “Wong Kito Gilo Galo”, tapi mendengarnya dalam tembang beracun penyulut pesta, baru kali ini. Mungkin mengisahkan tentang kerasnya skena underground di sana, jika dikaitkan dengan cerita sang vokalis di sela-sela penampilan mereka, tentang orang yang datang-ke-gigs-malah-kena-tujah. Ngeri juga, meski bagian “kureguk cuko”, cukup untuk membuat saya nyengir.

Viva Rimau! Rimau! Saya suka akan kesadaran ((AUMAN)) dalam pemilihan imej, yang juga disertai dengan kesadaran akan pentingnya menjaga hewan yang menjadi imej tersebut. Panthera Tigris Sumatrae (Harimau Sumatera), dihadirkan pada lagu yang mengundang decak kagum. “Fear not the tiger! We’re the fear!” adalah potongan lirik penuh keprihatinan dan ironi, atas eksistensi sang raja hutan seiring tempo lagu yang terus menurun. Seperti jumlah sang raja sendiri.

City of Ghosts Saya tidak tahu ((AUMAN)) bercerita tentang kota apa, tapi membaca liriknya serta-merta mengingatkan saya akan Jakarta. Ibukota tercinta yang terus menerus digerus oleh orang-orangnya, untuk membuat orang-orangnya sendiri merasa terus ingin pergi dari sana. Dinyanyikan dengan tempo lambat sepenuhnya pada kata-kata seperti “gemerlap bilbor jual fantasi”, “hidup dalam siklus, terberangus dan mampus”, atau “feed dreams of lies”. Diiringi sayatan-sayatan gitar yang mengiris pada penghujungnya, memicu perenungan kembali.

Suara Marabahaya Meski saya sampai saat ini masih bingung kenapa ada lagu dengan judul berbeda satu huruf saja dengan judul albumnya, juga istilah “Maradanger”, pada akhirnya semuanya tidak masalah setelah lirik-lirik self-labeled nan rebel, dikawal gitar yang berkejaran sepanjang lagu.

Subsonic Teenage Dream Machine Dibangun dengan tetabuhan drum, selanjutnya lagu terus berkembang dalam menyampaikan kemarahan dan protes kepada mereka-yang-tak-mengerti. Galak namun tak lupa untuk tetap catchy. Meski saya sudah mulai bosan dengan tema tersebut, tapi cukup mampu untuk mendorong agar semangat perlawanan yang takkan berhenti, tetap dipertahankan.

Broken Hardrock Lagu paling “rockish” di album muncul dengan judul tersebut, dengan lirik anti-patah hati, juga menjadi satu-satunya yang berbahasa Inggris penuh. Tepat untuk membangunkan kamu-kamu yang menikmati meratapi diri sendiri akibat permasalahan susah-melangkah-maju, yang dewasa ini semakin tampak kronis saja.

(We Are) The Sons of the Sun Lagu yang secara eksplisit memuja matahari, sekaligus bagai mengingatkan kembali kita yang sedikit-sedikit mengeluh kepanasan, (terlebih beberapa pekan terakhir akibat meningginya temperatur) tentang arti sang surya sebagai sumber penghidupan. Tema lagu yang menarik, dan selalu membuat saya tidak tahan untuk ikut melantunkan bagian-bagian seperti, “merayap dari ufuk timur langit..”

Sangkakala Apokalips Salah satu lagu terbaik diletakkan di penghujung dan langsung diteriakkan secara parau, mengisahkan bahwa Musa dan Nuh melakukan hal-hal terbesarnya untuk kalian para peminta-minta, pendosa, dan jalang, untuk kemudian melambat di tengah, dan mewanti-wanti tentang denial karena ketakutan terhadap Tuhan kalian yang pencemburu, dan diakhiri kalimat-kalimat semacam “Menyitir wahyu, menjadikan bencana, dst.” Gila.

Macho Menurut saya, Sangkakala Apokalips adalah penutup yang paling tepat untuk mengakhiri cemerlangnya album, alih-alih demikian, ((AUMAN)) memilih untuk mengakhiri dengan cover version dari lagu dangdut terkenal milik Vetty Vera, dengan lirik yang digubah seolah ditujukan kepada mereka para tough guy. ((AUMAN)) memilih untuk meredakan ketegangan, dan bersenang-senang di akhir.

Kesebelas lagu tersebut dibalut dengan kemasan cukup solid dengan artwork (saya tidak tahu persis nama style-nya) yang seolah datang dari abad pertengahan, merangkum kebuasan, mistis, hingga syahdu, menjadi satu. Dieksekusi langsung oleh gitaris dan drummernya, yang membuat saya membatin “weits, lengkap nih!”

IMG_0507

Maka, dimana posisi Suar Marabahaya di peta musik negeri ini? Saya pikir, ini sanggup menarik penggemar musik rock/metal yang lebih segmented tanpa membuat penggemar rock arus utama berjengit. Juga menunjukkan cara penyampaian turunan jenis musik yang akhir-akhir ini semakin mewabah, tanpa perlu terlihat murah. Album ini pun seakan membuka kans untuk band-band di luar Jawa (khususnya Sumatera), untuk semakin “keluar”. Lalu, dimana posisi album ini untuk saya? Suar Marabahaya ada di jajaran album segan nan segar versi pribadi, saya stell saat membutuhkan semangat (terbukti sepanjang kuartal awal tahun ini), juga menjadi salah satu yang membangunkan di pagi hari. Segan. Tabik. (Words and photos – Benjing)

Dikala sedang bersiap untuk menggelar pentasnya Melancholic Bitch di Bandung pada tanggal 31 Mei ini, semesta tampaknya mendukung semua keinginan. Tiba-tiba sebuah email mampir dan ketika dibuka, isinya adalah review CD re-anamnesis – Melancholic Bitch. Apa namanya kalau ini bukan jodoh? Haha. Silakan membaca review yang dikirim dari Benji, jika mau membeli cdnya bisa kontak @omuniuum atau kontak @pengeratshop ya. 

Semoga harinya menyenangkan. :)

- boit

****

Melancholic Bitch – re-anamnesis

IMG_2682

“Wake up, don’t you hide now. Sometime this morning someone will take you on the run.”

Nyaris setiap pagi, atau, setiap waktu, mendengarkan kalimat tersebut, tersulutlah delusi berupa dibangunkan di pagi buta oleh seseorang wanita (cantik, misterius, dsbg. sesuai referensi personal tentunya) untuk melintas bumi menjalankan misi-misi teramat rahasia tepat seusai mengganti identitas saya sepenuhnya. Berkhayal, band (mereka lebih memilih disebut sebagai kolektif) ini selalu membawa saya ke tahap itu. Setelah menghadirkan bebunyian terompet dan tarikan suara Frau -favorit kita semua-, kini lirik tersebut dan sepenuh lagunya telah bertransformasi menjadi suatu ledakan yang lebih manis. Bukan tembang pembuka sebenarnya, namun lebih kepada pengenalan kembali sebelum munculnya album, sekaligus menjadi tembang yang paling kentara perbedaannya dengan versi awal di album Anamnesis, telah di master ulang, serta menjadi lebih ‘ramah’ untuk era sekarang dengan bentuknya yang berupa cakram padat, Re-Anamnesis.

Melancholic Bitch (selanjutnya disingkat Melbi), saya awali perkenalan dengan menyelami album keduanya terlebih dulu, Balada Joni & Susi, berisikan kisah sepasang kekasih dari awal hingga akhir yang penuh dengan kegetiran, segera menjadikan Anamnesis (yang lagu-lagunya berdiri sendiri) terlihat ‘normal’. Menarik minat saya untuk mencari tahu lebih banyak Melbi versi normal tersebut, semakin menarik karena sedikitnya info yang beredar. Hingga saya (dan mungkin kamu juga) menemukannya di blog bertajuk kotakgelas, yang juga merangkum banyak hal tentang kolektif ini.

IMG_2681

Melbi, adalah tentang tembang-tembang eklektik nan catchy bermuatan penerapan diksi yang menggelitik, luar biasa melankolis, yang dinyanyikan pada mayoritas nada-nada rendah hingga mengerang. Memaksa kita tak kuasa untuk tidak bersenandung (terbukti dengan terseretnya beberapa kawan seusai mendengar rintihan saya kala menyetel album-albumnya), atau sekedar men-tweet potongan syairnya. Tentang kita yang tidak menyelami lebih dalam kesusastraan tetap merasa terfasilitasi, meski terkadang sedikit mengernyitkan dahi. Bahkan menurut kawan saya seorang pegiat sastra: tentang karya Ugo yang paling keren.

Maka Re-Anamnesis, sejauh apa yang bisa saya tangkap, adalah : -Tentang Anamnesis yang versi poles ulangnya menjadi lebih nikmat didengar tanpa perlu aransemen ulang yang berpotensi ‘merusak’ lagu-lagunya yang sudah kuat. -Tentang karya-karya milik para pendahulu yang diterjemahkan dengan syahdu, juga sedikit mengenalkan saya pada Rudyard Kipling, bahkan Sapardi Djoko Damono. -Tentang ‘My Feeling for You’, yang tempatnya digantikan dengan versi reprise dari ‘Requiem’. -Tentang dua penyegaran yang cukup sukses oleh Ari Wvlv dan Bottlesmoker. -Tentang untuk tetap berpijak di bumi, dengan menyiapkan segelas rasa sakit pada tiap awal musim. -Tentang legenda sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa, yang mana setiap dilantunkan, mengantarkan seorang gadis menemani saya yang tadinya melayang di angkasa seorang diri. Antariksa untuk kita berdua saja. -Tentang kekerasan adalah bagian tak terpisahkan dari setiap kita, sambil mengharapkan kelemahan kuno dalam diri kita untuk disentuh (terdengar menyakitkan). -Tentang cinta yang membusuk di lagu-lagu, dan dibawakan dengan alunan paling ngepop. Juga tentang menjadi lebih rileks, jika kurang tepatdisebut pelarian, semenjak saya merasakan benar ingin memiliki jendela yang menghadap langsung ke lahan kosong penuh ilalang di sebelah kamar. -Tentang “bernapaslah denganku, kuberjanji kita tak akan terengah” meski hadir di lagu dengan judul yang menyiratkan habisnya masa peredaran di dunia, namun memuat janji paling berkelas serta sangat beresiko, yang kamu bisa ucapkan. Membuat saya penasaran, bagaimana ekspresi seseorang ketika hal tersebut diucapkan pemujanya sembari berlutut. Maaf, maaf. -Tentang pengulangan “yang kau inginkan, takkan kau dapatkan.” Aduh.

Juga tentang deklarasi ‘Melancholic Bitch’ sebagai identitas yang tepat guna. Tentang lagu-lagu yang tidak lekang dimakan masa. Tidak cukup sampai di situ, saya masih mencoba menerka banyak hal di dalamnya (Kita adalah Batu, dll.). Tentang hal-hal, juga pemaknaan gagasan yang belum usai.

Menarik pada setiap sudutnya, sangat layak dengar. Kapan saja. Biarkan interpretasi apapun melintas dan hinggap di pikiranmu. Sementara saya masih akan menanti kedatangan wanita yang saya sebutkan di paragraf awal. (words & photos – Benjing)

 

“Maddah adalah perpanjangan,” begitu ungkap Risa Saraswati saat ditanya mengenai makna dari judul bukunya yang baru. Ditulis dan diterbitkan kurang dari setahun setelah rilisnya Danur, buku pertamanya, menunjukkan produktifitas Risa dalam menulis.

 Awalnya Risa menulis di blog pribadinya sampai pada akhirnya menarik perhatian salah satu penerbit yang mencium bakatnya dan menawarinya untuk membukukan kayanya. Bermodal itikad yang kuat tanpa pengetahuan seputar seluk-beluk dunia penulisan buku dan sasrta, Risa memberanikan diri untuk menyambut tawaran itu dan merilis “Danur” pada tahun 2011 silam. Ternyata, buku pertamanya berhasil mendapatkan perhatian pembacanya, meskipun Risa menawarkan karya yang mengusung tema yang sedikit berbeda dengan penulis-penulis kebanyakan. Sejatinya hal-hal yang dikisahkan Risa adalah hal-hal yang biasa terjadi di sekitar kita. Ada kisah cinta, persahabatan, eratnya kasih sayang keluarga, serta pahitnya cerita tragedi. Namun, apa jadinya saat karakter yang diceritakan olehnya tidak berasal dari alam yang sama dengan kita semua, manusia biasa?

 Mengikuti jejak “Danur” yang merupakan komplemen dari album musik “Story of Peter”, album pertama dari band Risa, Sarasvati, Maddah juga begitu. Beberapa cerita yang terdapat dalam Maddah bisa ditemui dalam album “Mirror” yang dirilis berbarengan dengan peluncuran bukunya. Bukan suatu kebetulan memang, karena sejatinya kisah-kisah yang ditulis Risa dalam “Maddah” adalah inspirasi dari penciptaan lagu-lagu di album terbaru Sarasvati, “Mirror”.

 “Kalau menulis buku adalah bagian saya pribadi, maka untuk penciptaan musik, saya harus berterimakasih pada Sarasvati (band saya). Beruntunglah saya bertemu dengan mereka, dan akhirnya kita bersatu menjadi band, yang untuk saya pribadi, adalah sebuah keluarga,” ungkap Risa. “Pada awalnya Egi Anggara yang membantu saya menterjemahkan musik yang ada di dalam kepala saya menjadi lagu-lagu dan menjadi sebuah album penuh”, ungkapnya lagi. Berangkat dari inti atom yang terdiri dari Risa dan Egi, maka terbentuklah SARASVATI, sebuah entitas musikal yang menyertai dan menjadi bagian dari karir musik Risa.

 Terlepas dari aspek lirikal yang terinspirasi dari pengalaman pribadi Risa yang dekat dengan alam berbeda yang berada di luar pemahaman kita pada umumnya, secara musikal, Sarasvati masih mengusung warna musik yang setia dengan pakem di album sebelumnya. Namun, banyak eksplorasi baru yang dilakukan Sarasvati di album ini. Album “Mirror” lebih menonjolkan iringan orkestrasi, lebih dominan jika dibandingkan “Story of Peter”. Warna-warna baru muncul sebagai bentuk kreativitas pribadi para personel, seperti Hinhin Akew (guitar), Gallang Perdhana (bass), Yunita Rachman (keys), dan Papay Soleh (drums), di mana masing-masing mendapatkan porsi kontribusi kreatif pada departemen musik. Egi Anggara (guitar), arranger utama di album perdana, masih dominan porsinya sebagai arranger utama di album kedua ini.

Highlights dari “Mirror” adalah beberapa kolaborasi dengan sejumlah musisi lintas genre yang semakin memperkaya warna musikal di album ini. Passion Risa terhadap music tradisional Sunda, dimanifestasikan dalam interpretasi “Gloomy Sunday” karya Rezso Seress berkolaborasi dengan Trah Project, proyek musikal dari Gigi Priadji (programming), yang juga adalah personel Sarasvati. Risa juga tampil berduet dengan Arina Ephipania (Arina Mocca) dalam lagu “Danur” dan Cholil Machmud (Cholil Efek Rumah Kaca) dalam lagu “Mirror”. Selain itu, gitaris Gigi Dewa Budjana menyumbangkan permainan gitarnya yang apik dalam lagu “Solitude”.

 Maddah dan Mirror adalah satu kesatuan yang saling melengkapi, keduanya terpisah namun membentuk satu keutuhan. Membaca Maddah, sembari mendengarkan Mirror, atau menikmati musik Mirror sambil mencari tahu kisah-kisah lebih detailnya di dalam Maddah, demikianlah harapan Risa Saraswati dan Sarasvati kepada para penikmat buku dan penikmat musik. Melalui Maddah dan Mirror, pembaca dan penikmat musik akan diajak untuk menyelami kisah-kisah Risa Saraswati dan pengalaman musikal ala Sarasvati.

 Ditulis oleh Iit Sukmiati dan Pak Dosen

 

Untuk pemesanan CD Mirror dan buku Maddah, sementara hanya melalui Omuniuum atau mention @omuniuum

 

+

 

Sertakan nama, alamat, nomer telepon, kode. kirim ke email omuniuum@gmail.com / order@omuniuum.net

 

atau sms via 087821836088 Pembayaran transfer via rek BCA/Mandiri/BNI Pengiriman memakai jasa JNE.

 

*Jika dalam waktu 3 hari tidak ada transfer, pemesanan dianggap batal*

 

+ Omuniuum + Ciumbuleuit 151 b Lt.2 Bandung 40141 ph. 022-2038279 087821836088

+++++

Anak keduaku telah lahir di awal bulan November, kuberi judul “Maddah” yang kuambil dari saduran bahasa Arab yang artinya “dibaca panjang”. Kudefinisikan “Maddah” sebagai perpanjangan dari buku pertamaku “Danur”.  Kembali kutelanjangi kehidupan pribadiku bersama “Mereka”, bukan untuk menyelewengkan kepercayaan kalian tentang keberadaan mereka… aku hanya ingin kalian membaca kisah-kisah mereka, itu saja. Aku tergugah dengan penuturan mereka yang merasa pernah punya kehidupan, dan memberikan banyak pandangan baru tentang hidup. Aku harap kalian bisa merasakan apa yang pernah kurasakan… itu saja.

Bersama tim mandiri kali ini dan bantuan sposor (Djarum Black Mild), kuterbitkan “Maddah” tanpa memakai nama besar Penerbit. Dibantu oleh Maria M Lubis sebagai Editor, Isa panic monsta sebagai ilustrator, Herry Sutresna sebagai Designer buku, dan Iit Sukmiati sebagai Proof reader. Jika kalian semua bertanya-tanya “Sudah adakah Maddah di toko buku besar”, kujawab “Belum dan mungkin Tidak akan Ada”, karena tidak ada nama besar perusahaan penerbit pada kelahiran anak keduaku ini.

“Selamat datang di kehidupanku… kehidupan sahabat-sahabatku… kehidupan yang mungkin akan membuat kening kalian mengernyit…”

Risa Saraswati

Silahkan dibaca dengan baik.

Album terbaru Seringai, Taring, akan resmi dirilis hari Rabu, tanggal 11 Juli 2012. Ada 2 versi untuk format CD ini, yaitu regular version CD dan deluxe edition CD.

Regular version dari album Taring, adalah versi kemasan dengan jewel case [seperti CD pada umumnya], yang beredar di toko-toko CD dan distro yang bekerjasama dengan distributor demajors.

Harga Rp.35.000,-

Deluxe edition dari album Taring,  adalah versi kemasan eksklusif , hardcover booklet dengan bonus poster A3, stiker & sebuah cerita pendek tentang dunia paska-apokaliptik karya Soleh Solihun [jurnalis, penulis, stand-up comedian]. Tersedia hanya 999 copies, dan hanya bisa didapatkan langsung atau mailorder di 2 outlet ini:

LAWLESS JAKARTA | Jl.Kemang Selatan 8/67K | Kemang Raya | JAKARTA | telp.: 021-7192871 & 088210062199 | email: lawlessjakarta@gmail.com | facebook: http://www.facebook.com/lawlessJKT

OMUNIUUM | Jl.Ciumbuleuit 151B lt.2 BANDUNG 40141 | telp.: 022-2038279 & 087821836088 | email: omuniuum@gmail.com | facebook: http://www.facebook.com/omuniuum 

Tidak ada PRE-ORDERS untuk deluxe edition. First come, first go basis tepat di hari Rabu, tanggal 11 Juli 2012. Kedua outlet ini akan buka jam 10 pagi dan tutup jam 10 malam. Order sebelum tanggal & jam ini, tidak akan dilayani.  Dan sebaiknya jangan order via Twitter untuk hari tersebut bila tidak ingin kehabisan.

Harga Rp.75.000,-   

GOOD LUCK EVERYONE! \m/

Diambil dari : FB page Seringai

Datang ke Omu atau pesan ke Omu mulai jam 10 pagi, via SMS 087821836088 [nama + alamat + pesanannya], email ke omuniuum@gmail.com [nama + alamat + no hape + pesanannya]. Di Omuniuum tersedia versi reguler dan deluxe. Sampai jumpa tanggal 11! :)

 

3 April 2012, Album ketiga kami “Gemuruh Musik Pertiwi” dirilis dibawah bendera Progresiv Barbar Musik yang berisi 9 track, masih memainkan Heavy Metal dan direkam secara live yang memakan waktu satu hari, serta disusul take gitar tambahan dan vokal latar. Hal ini dikarenakan kami tidak mau ambil pusing dengan hal-hal teknis proses rekaman.

httpv://www.youtube.com/watch?v=FXRwkUQi-58

Gemuruh Musik Pertiwi adalah dedikasi dan pengabdian kami terhadap Heavy Metal, serta sebuah album penghormatan kepada “GODBLESS” dengan alasan, ketika Gemuruh Musik Pertiwi masih dalam bentuk rumusan ide, kami ingin mencontek habis apa yang pernah mereka buat di album “Raksasa”. Namun seiring perjalanan waktu dan keterbatasan kemampuan kami, Gemuruh Musik Pertiwi jauh berbeda tetapi kami yakin memiliki spirit yang sama.

Secara lirik Gemuruh Musik Pertiwi menceritakan betapa menyenangkan bermain musik didalam institusi yang bernama KOMUNAL.

Ini adalah album tanpa harapan ,tanpa diragukan karena sudah dipastikan kehebatannya, selamat menikmati, Heavy Metal tetap berkibar.

Kontribusi skill : Muhammad Anwar Sadat – Doddy Hamson – Arie Khomaini – Rezha H.K

info dan kontak Komunal email : komunalhellyeah@yahoo.com www.facebook.com/komunalindonesia www.twitter.com/KOMUNAL Informasi : Ary Purwanto 022 7007 9170 Edo Gordo 0856 1880 510

*********

 

CD GMP – IDR 25,000

Sertakan nama, alamat, nomer telepon, kode dan size. kirim ke email omuniuum@gmail.com / order@omuniuum.net atau sms via 087821836088 Pembayaran transfer via rek BCA/Mandiri/BNI Pengiriman memakai jasa JNE

+ Omuniuum + Ciumbuleuit 151 b Lt.2 Bandung 40141 ph. 022-2038279 08782183608

‘Laras Perlaya’ adalah titel dari album baru Forgotten yang dirilis oleh Rock Records pada tahun 2011. Album ini adalah album ke 5 bagi Forgotten yang telah berdiri sejak tahun 1994. Bermaterikan 10 lagu yang direkam di Masterplan Recording Chamber Studio sedangkan untuk tahap mixing dan mastering dilakukan di Dialog Studio, Bandung. Aransemen pada komposisi lagu pada album kelima ini masih tetap dengan genre death metal yang progresif. Yang membuat album ini menjadi berbeda dengan album sebelumnya adalah adanya kolaborasi Forgotten dengan musisi tradisional sunda yang memainkan kesenian tarawangsa dan beluk.

Di tanah Pasundan, keberadaan Tarawangsa lebih tua umurnya daripada rebab. Dalam naskah kuno Sewaka Darma (abad ke-18), menyebutkan Tarawangsa sebagai nama alat musik. Kesenian Tarawangsa dimainkan oleh dua instrument yaitu Tarawangsa dan Jentreng. Tarawangsa adalah sejenis alat musik gesek yang prinsip memainkannya mirip dengan alat musik rebab. Akan tetapi yang digesek hanya satu dawai, yakni dawai yang paling dekat kepada pemain sementara dawai yang satunya lagi dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri. Jentreng adalah sejenis kecapi kecil dengan tujuh dawai. Seniman yang dilibatkan adalah Kang Asep dan Kang Jaja dari daerah Ranca Kalong, Sumedang. Kesenian Tarawangsa biasanya ditampilkan pada upacara-upacara sakral tertentu yang berkaitan dengan pemujaan kepada alam dan arwah leluhur.

Kata beluk berasal dari kata ba dan aluk. Ba artinya besar dan aluk artinya ‘gorowok’ atau dalam bahasa Indonesia `berteriak’. Berbeda dengan “nembang” atau seni suara yang lainnya, kesenian Beluk tidak ‘menembangkan’ atau menyanyikan syair yang digunakan, tetapi hanya membaca dengan memainkan tinggi-rendahnya frekuensi suara. Seni Beluk merupakan sajian sekar berirama bebas atau merdeka. Salah seorang maestro Beluk yang dilibatkan adalah Mang Ayi yang berasal dari kota Subang, Jawa Barat.  Syair yang dilantunkan adalah jenis Wawacan (hikayat/cerita) yang dibawakan seperti kita jumpai dalam berbagai pupuh mulai dari pembukaan sampai pada penutupan seperti: Pupuh Kinanti, Asmaradana, Pucung, Dangdanggula, Balabak, Magatru, Mijil, Ladrang, dan sebagainya.

Jenis wawacan yang disampaikan juru beluk tergantung apa yang dikuasainya seperti Babar Nabi, Barjah, Amungsari, Jayalalana, Natasukma, Mahabarata, Mundinglaya, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, dan sebagainya. Menurut Mang Ayi seni beluk di daerah Subang pada awalnya digunakan untuk  memberikan perintah pada kerbau ketika membajak sawah. Para petani jaman dahulu ketika membajak sawah biasanya melantunkan beluk untuk mengarahkan laju dan gerakan kerbau.

‘Laras Perlaya’ diambil dari kata bahasa sunda yang mempunyai makna ‘lagu kematian’. Tema yang diusung di album ini adalah bercerita tentang kematian dan hancurnya tatanan nilai-nilai kemanusian yang diakibatkan oleh makin menguatnya gerakan fundamentalisme dan fasisme yang mengatasnamakan agama, politik dan kekuasaan golongan tertentu. Dalam pengemasan album ini juga ikut disertakan sebuah novel yang dilengkapi dengan ilustrasi engraving karya Dinan Art yang memberikan penjabaran terhadap setiap makna lirik yang sarat dengan kalimat sarkas.

Kontak Manajemen: Indira 0818612793 http://www.facebook.com/666forgotten666 http://www.reverbnation.com/forgotten666
 

*Album Forgotten Laras Perlaya seharga Rp 75,000 bisa didapatkan di: Omuniuum, Remains, Arena 

Hei hei hei,

mau menyapa dan memberi tahu barang-barang baru di bulan Oktober – November nih kita kedatangan tshirt Koil, TDS, Thinking Straight, Infamy, Straight Answer,  Bottlesmoker, Hollywood Nobody dan banyak lagi. Untuk CD rilisan baru ada Angsa dan Serigala, Tulus, Gelap, Glosalia, Forgotten terus juga ada Majalah Cobra edisi dua dengan bonus CD Desis Cobra yang ciamik, isinya ada Hightime Rebellion, Homogenic dan kawan-kawannya.

Yuk, silakan klik gambar untuk melihat katalog kita di facebook atau bisa juga cek flickr kita.

Ditunggu ordernya atau datang langsung ke toko kita yang ngumpet di lantai 2 Ciumbuleuit 151 B seberang Unpar.

Semoga harinya menyenangkan ya! :)

Memasuki tengah bulan puasa yang merupakan bulan suci ini, marilah kita bersama-sama mendoakan Kak Katy Bon agar persiapan pernikahannya lancar sentausa dan juga semoga ujian Kak Gendat juga lancar, amin. Selagi kedua orang itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing, siang tadi ada kiriman surat elektronik dari Mas Bram berisikan review album terbaru dari band kesayangan kita yang katanya menyegankan. Mari kita membaca, ugh!

Rajasinga | Rajagnaruk |Demajors | IDR 30,000

Seks bebas adalah kata pertama yang terbesit dalam pikiran saya saat mendengar nama band ini. Dilanjutkan dengan kata “infeksi kronis” dan “pengaman”. Mengapa? Karena, kalau Anda belum tahu, rajasinga ini adalah nama penyakit kelamin yang diakibatkan oleh seks bebas dan menyebabkan infeksi kronis pada penderitanya. Solusinya hanya satu, cegahlah dengan menggunakan pengaman.

Walaupun Rajasinga dalam konteks ulasan ini tidak ada kaitannya dengan penyakit rajasinga tersebut, tapi Anda tetap membutuhkan pengaman. Namun, bukan pengaman seperti itu. Pengaman yang Anda butuhkan adalah pengaman untuk kedua telinga Anda. Kenapa? Karena mereka akan dihajar habis-habisan oleh Rajasinga dalam album Rajagnaruk ini!! ugh yeah

Sedikit sejarah singkat tentang Rajasinga. Band yang digawangi oleh Morrg (vokal & bass), Biman (gitar & bass), dan Revan (drum) ini telah berdiri sejak tahun 2004. Sebuah album live demo, mini album, dan full album telah mereka rilis sebelum akhirnya pada tahun ini mereka merilis Rajagnaruk.

Oke, masuk ke album. Hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah judul albumnya. Rajagnaruk? Awalnya saya mengira rajagnaruk ini adalah semacam dewa dari mitologi Nordic, tapi kemudian saya tersadar kalau para personil Rajasinga tidak memakai eyeliner ataupun memainkan musik black metal. Pasti bukan itu. Atau mungkin rajagnaruk ini adalah bahasa Ibrani untuk rajasinga? Bisa jadi. Tapi setelah melakukan konsultasi ke Google Translate, ternyata jawabannya bukan. Lalu saya pun tersadar setelah membalikkan kata tersebut, ternyata menjadi sebuah kosakata yang begitu kickass : kurangajar. Cadas bray!!

Tapi memang album ini secara harafiah menurut saya kurang ajar. Mengapa? Karena setelah mengeroyok kedua telinga saya habis-habisan dalam satu putaran, dia meminta saya untuk mengulanginya kembali.  Saya pun melakukannya…. lagi… lagi… dan lagi! Terus menerus!! Benar-benar tidak tahu malu. Seberapa kurangajarnya album ini dapat pula disimak dari lirik-lirik bertemakan sex, drugs, dan rock & roll yang begitu kental di seluruh album, namun tetap dibawakan dalam nuansa yang humoris oleh Rajasinga. Sekedar cuplikan, simak track Ujung Tombak (“Gerbang Nirvana telah terbuka / telah terhunus ujung tombak“) dan Roda Roda Gila (“Adrenalin berkuasa / hati tak seluas samudera / polisi tidur kami gilas!!). Selain itu, bicara soal judul lagu, Rajasinga cukup nakal juga memberi judul yang membuat orang berpikir. Coba, angkat tangan siapa yang bisa langsung paham arti dari N.A.D. Kush, 99%THC 1%Skill, dan favorit pribadi saya, Kokang Batang?

Dari departemen tata suara, walaupun mengatasnamakan grindcore, namun metal yang Rajasinga bawakan tidak selalu ala Napalm Death atau kerabatnya Pig Destroyer. Memang, album ini penuh dengan musik yang bertempo cepat, gebukan drum yang menggebu, growl yang membabi buta, serta distorsi yang padat karya. Namun, ada juga lagu-lagu anthemic yang sekiranya dapat dipakai untuk karaoke berjamaah di sebuah ritual bernama moshing. Coba dengarkan track pembuka Anak Haram Ibukota dan Angkasa Murka, dijamin mulut ikut komat-kamit.

Akhir kata, segera genggam CD ini, bayar di kasir, masukkan ke dalam CD player, dan nikmati dengan khidmat. Hati-hati, headbanging yang terlalu brutal dapat mengakibatkan sakit kepala dan gejala muntah, tapi di samping itu dapat juga membuat Anda puas dan lega selama 7 hari 7 malam. SEGAN UNTUK RAJASINGA!!

P.S. Ugh! Ugh! Ugh! Buat kalian yang mau order CD-nya langsung kontak 087821836088 atau silakan via email order@omuniuum.net. Kalau mau kirim penganan, tajil atau kue lebaran, silakan langsung kirim ke Ciumbuleuit 151 B lantai 2 Bandung. Kalo mau curhat, ngajak ngobrol dan lain-lain bisa via twitter kita @omuniuum. Salam ugh! 

Berjumpa lagi dengan Kak Gendat, karena Kak Bram lagi sibuk dan tanggal pernikahan Kak Katy Bon pun makin dekat. Kali ini dia membahas Morfem, mari membaca..

Morfem | Indonesia | Demajors | IDR 25,000

Inilah dia super group yang sedang semarak menjadi buah bibir di mana-mana, mengapa super group ? Karena personil dari Morfem ini masing-masing memiliki band yang sudah malang melintang di dunia persilatan musik indie. Sebut saja Jimi (The Upstairs) pada vokal, Pandu (The Porno) pada gitar, Bram (JARB) pada bass, dan Freddie (Nervous Breakdown) pada drum. Pasti udah pada tau lah orang-orang yang saya sebutkan itu, kalau tidak tahu, sekalian kenalan dan yak, saat ini mereka tergabung dalam Morfem.

 Morfem baru saja mengeluarkan sebuah album yang dikasih ngaran “Indonesia” pada tahun 2011 ini, mengapa “Indonesia”, dugaan saya sih mungkin karena mereka semua berasal dari Indonesia dan kebanyakan lirik mereka menggunakan bahasa Indonesia, silahkan mau yang mana tinggal pilih aja.. Hehe!! Yang pasti di kuping saya yang ga bagus-bagus amat ini, album mereka terdengar sangat Indonesia.

 Baiklah sekarang saya akan membahas dari artwork dulu, secara artwork mereka lebih memilih menempelkan banyak foto (mungkin sebagai dokumentasi juga..), jadi kalian bisa dengan bebas melihat-lihat foto-foto mereka (entah sedang perform atau sekedar bergaya sebagai cover album) yang kebanyakan berwarna hitam-putih, terkesan jaman dulu namun sangat sophisticated sekali.. Haha!!.

 Mulai kita masuk kedalam track yang ditawarkan oleh Morfem, track pertama kalian akan di kenalkan dengan Gadis Suku Pedalaman, yang bila dibaca liriknya tentang sebuah perjalanan seorang gadis yang pasti dari suku pedalaman. Dia tampak mencoba mencari peruntungan di kota besar dan yah gitu aja sih.. Track ini pun dipilih sebagai single pertama mereka, lalu di track ke-5 ada Pilih Sidang Atau Berdamai yang video klipnya sudah bisa kalian nikmati di you tube atau channel televisi nasional yang menayangkan program musik, yak simple saja ini adalah potret kehidupan seorang pelanggar lalu lintas dengan pihak berwajib.. Track ini pun kalau tidak salah dipilih sebagai single kedua mereka. Track yang lain asyik-asyik, tapi  seperti peribahasa yang diajarkan dulu di bangku sekolah, tak kenal maka tak sayang, lebih baik kalian lari ke toko CD terdekat dan beli CDnya dan dengarkan sendiri.

Untuk sound dan musikalitas, kalau dari segi sound saya tidak akan berbicara banyak, intinya adalah apabila kalian mendengarkan band-band yang bermunculan di era 90an, mereka cukup mewakili sound dan musik generasi saat itu. Bunyi gitar yang meraung-raung dan kasar ditambah sedikit noise, lalu untuk pemilihan chord pun simple tidak yang membuat para pendengarnya harus berpikir.

 Secara keseluruhan album dari super group ini layak didengar dan didendangkan sambil angguk-angguk kepala tentunya, jadi album ini wajib kalian miliki, dan baik juga untuk kawula muda mudi jaman sekarang.

 

-sigendat-

 

P.S. Yiha! Kalo kalian mau order CD-nya langsung kontak 087821836088 atau silakan via email order@omuniuum.net. Begitupun kalau mau kirim surat cinta, keluhan, curhat atau mungkin ngajak kerjasama. Jangan lupa follow twitter kita @omuniuum untuk interaksi yang lebih asyik tentunya. sekali lagi yihaaaa!

Dicurigai Kak Katy Bon lagi sibuk foto pre-wed dan Kak Gendat lagi mojok di kamar karena belum dapat pacar, kali ini mari kita membaca review dari Mas Bram yang baik hati dan tidak sombong dan rajin menabung dan lain sebagainya. Mari membaca!

37.4 menit.

Pernahkah Anda tertawa selama itu? Well, mungkin saat menonton film Hangover Anda tertawa lebih lama dari itu, tapi pernahkan Anda tertawa selama 37.4 menit saat mendengarkan sebuah karya musik? Sebuah album? Tidak? Belum pernah?

Kasihan ya. Tapi, tidak perlu khawatir, karena setelah mendengarkan album Lesson #1 yang akan saya review ini, Anda bisa menjawab pertanyaan di atas dengan satu jawaban tegas : PERNAH!

Sir Dandy – Lesson #1 | Demajors / Organic Rec. | IDR 35,000

Dengan 10 lagu dalam durasi sepanjang 37.4 menit, Sir Dandy berhasil memberikan sebuah album komedik yang mampu mengocok-ngocok perut dan membuat kita terperangah karena ia melakukannya tanpa suara merdu yang dapat menyentuh pitch-pitch tinggi (baca: suara fals) dan kunci gitar yang kompleks seperti F Major 9 sus4 dan C Minor Major 7th add 13 (baca: skill minim). Hanya berbekal racikan antara lirik simpel yang nakal dengan musik bernuansa folk pop sebagai modal dasar, voila! Jadilah Lesson #1.

Simak lagu Ode To Antruefunk Part II di mana Sir Dandy bernanyi “anto anto adik kelasku, pandai memainkan gitar, berkacamata terlihat pintar, tak pernah marah ataupun gusar, kalau pipis kadang-kadang minta ditemenin pacar”. Juara. Puas membuat tertawa, yang mana saat ini adalah hal yang sangat baik karena tertawa itu adalah ibadah, dan menjelang bulan Ramadhan kita harus banyak melakukan ibadah, yes?

Tapi jangan anggap Sir Dandy sekedar menuliskan hal-hal yang asal dan tak berisi. Sindiran terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita pun berhasil ia tuangkan dengan begitu seksi. Simak Jakarta Motor City di mana Sir Dandy menyindir “tak diperlukan gelar sarjana, apalagi ijazah SMA, asal kau bisa naik sepedah, bayar DP murah, motor bawa ke rumah”. Tepat sasaran, dan mengundang senyuman.

Hal lain yang membuat album ini semakin menarik ialah di awal setiap lagu Sir Dandy selalu memberikan ceramah singkat mengenai lagu yang akan dibawakan. Semacam intro lah begitu. Dibacking dengan musik latar yang terkadang kontras dengan lagunya itu sendiri, membuat ceramah singkat ini menjadi satu hal yang menarik untuk dicermati. Awalnya seperti “Anjiir, apaan ni?” lalu berlanjut kepada “Hahaha kacau ini nyett”. Seperti pada Lagu Itu, intro dengan background musik ala ESQ sudah membuat saya tertawa duluan.

Bicara soal sound, jujur saja pada awalnya saya cukup pesimis dengan Lesson #1 ini. Jauh-jauh hari sebelum album ini dirilis, Sir Dandy sebenarnya telah mengeluarkan karya-karyanya di dunia maya dalam format EP dan single. Namun masih dalam model akustikan (alias hanya vokal dan gitar saja). Menarik dan lucu, tapi jujur saja tidak sebagus itu. Sir Dandy bukanlah The Tallest Man on Earth atau Bob Dylan yang mampu menghasilkan sebuah mahakarya dengan hanya bermodalkan pita suara dan gitar, sehingga saat mengetahui Sir Dandy akan mengeluarkan debut albumnya, saya sempat berpikir ini akan menjadi sebuah epic failure.

Tapi ternyata saya salah, dan saya mensyukuri itu. Terima kasih kepada Widi Puradiredja, seorang produser yang kebetulan merupakan drummer sebuah band jazz soul terkemuka di Indonesia, yang sukses membuat lagu-lagu Sir Dandy menjadi semakin penuh dan berisi. Bayangkan musik seorang Iwan Fals tambun yang baru belajar main gitar dengan sidejob sebagai seorang pelawak. Kurang lebih seperti itu musik dalam Lesson #1 ini. Simak lagu andalan Juara Dunia. Perpaduan antara suara organ yang soulful dengan bassline yang agak2 psychedelic mampu membuat lagu yang sudah catchy ini semakin bertambah catchy. Begitu pas.

Intinya, album ini adalah sebuah album yang sanggup membuat kita yang sedih menjadi senang dan yang senang bertambah senang. Jangan dianggap terlalu serius, karena justru di situlah esensi dari album ini. Namun walau begitu, bukan berarti album ini bisa Anda unduh begitu saja secara illegal dari mediafire atau 4shared. Mengapa? Karena selain merugikan orang lain, hal tersebut akan merugikan diri Anda sendiri. Anda tidak dapat merasakan orgasme visual dari artwork-artwork ciamik Sir Dandy plus chord-chord dari semua lagu-lagunya yang terdapat di dalam booklet album ini. Jadi beli CD nya oke.

Sir Dandy Harrington memang tidak pernah berjasa bagi Kerajaan Inggris sehingga ia berada di kelas yang sama dengan Sir Alex Ferguson atau Sir Elton John. Saya yakin nama “Sir” yang tertera pada namanya juga ia nisbatkan sendiri sesukanya. Tapi, dengan hadirnya Lesson #1 ini, saya percaya Ratu Elizabeth selayaknya melantik dirinya ke dalam jajaran orang-orang hebat tersebut. Bravo Sir Dandy

P. S. Ahey, mari beli CD-nya! Kalian bisa kontak 087821836088 buat order ya. Kalo mau kirim order atau surat cinta, keluh kesah juga bisa, langsung ke email order@omuniuum.net. Lalu jangan lupa follow twitter kita @omuniuum biar gaul ceritanya sih. Sampai berjumpa di review selanjutnya! Eh tersedia juga merchandise dan spesial pack Sir Dandy Lesson #1 di Omu yaa… :)

Tampak Kak Katy Bon mulai benar-benar sibuk dengan segala kesibukannya, mungkin dia mau rebonding rambut keritingnya biar ga kusut-sut-sut seperti arumanis jadi review kali ini muncul kembali dari Kak Gendat. Silakan di baca …

Sajama Cut – Manimal | Demajors | IDR 35,000

Selamat pagi, siang dan malam, entah kenapa ketika bangun pagi saya ingin mengulas EP teranyar dari Sajama Cut, walaupun sebenernya mereka mengeluarkan EP ini tahun lalu tapi biarlah yah.. Haha!

Baiklah saya mulai, siapa yang tidak kenal dengan band asal Jakarta ini yang sudah malang melintang selama kurang lebih 10 tahun dan menelurkan 3 album, yak mereka hadir kembali dgn EP teranyar mereka berjudul “Manimal” yg merupakan album ke-3 mereka, dimana di mini album ini personil tetap yang tersisa dari Sajama Cut hanya tinggal frontman mas Marcel Thee (yak berarti selebihnya anyar bro). Mini album teranyar mereka terdengar lebih asik dan mantap, mengapa demikian, karena mulai banyak variasi pada setiap lagunya, jadi dapat dikatakan mini album Sajama Cut yang terbaru lebih fresh dan canggih.

Kita bahas dari artwork-nya dulu, mungkin yang dimaksud dengan “Manimal” ini adalah penggabungan kata dari Human dan Animal, karena artwork dari mini album ini ada manusia tetapi semua berkepala binatang, entah ada makna apa dibalik nama “Manimal” ini atau mungkin mereka mencoba menjelaskan bahwa manusia terkadang dapat bersikap seperti “binatang” … Nah mungkin kalian dapat menterjemahkannya sendiri.

Mari kita masuk ke lagu didalam mini album ini, saya tidak akan membahas per track yah, pertama kali saya masukkan CD ini langsung dihantam dengan harmonisasi vokal ala-ala The Beach Boys dan dipadu sedikit dari Fleet Foxes (sotoy dikit aahh), yak inilah track pertama yang kebetulan mereka jadikan single dari mini album ini, yaitu Paintings/Paintings, pemilihan single yang ciamik menurut saya. Lalu ada Where’s The Orient di track 4, di awal penggalan liriknya ada kata-kata “girl you’re a criminal, girl you’re a criminal you stole my heart..” simple tapi boleh juga ini kata-kata, cocok buat yang jatuh cinta.. Yeah!! Yang menarik di lagu ini juga ada bunyi lonceng gereja, sedikit tapi cukup catchy lalu di track terakhir ditutup dengan Street Haunts, ada penggalan lirik yang diulang-ulang berbunyi “but now I feel like I’m dying..” trus diulang-ulang seakan menggambarkan jalanan itu keras..

Saatnya kita masuk ke packaging, tidak terlalu istimewa bila dilihat dari packaging, jadi biasa saja, sayang mereka tidak melampirkan lirik sama sekali jadi hanya ada beberapa kata-kata saja.

Kesimpulannya, menurut saya mini album ini layak sekali untuk kalian jadikan koleksi, buat yang memang suka Sajama Cut dari dulu, maupun kalian yang baru-baru saja mendengarkan Sajama Cut. Beli aja CD-nya kalo tidak percaya.

 Salam manis buat yang manis dari Kak Gendat yah!

 

P.S. Gimana ? Ini Kak Gendat lagi cari pacar loh, jadi buat mojang-mojang yang tertarik buat jadi pacar kak Gendat yang pandai mereview ini silakan kirim surat cinta via email ke 0rder@omuniuum.net .. Eh email kami juga kalau ada yang mau menyampaikan kritik, saran dan sebagainya termasuk undangan kerjasama terutama kerjasama yang menghasilkan cuan .. Eh apa sih ini ngelantur. Pokoknya follow twitter kami @omuniuum dan hubungi 0878213836088 jika kalian ingin membeli CD yang di review di atas itu ya . Cihuy!

Berhubung Kak Katy Bon lagi sibuk mengasuh anak asuhannya yang banyak dan katanya mau menikah, kali ini rubrik review-nya Omu memanggil Kak Gendat alias Si Gendat yang baik hati dan tidak sombong, berambut sama-sama keriting kayak Kak Katy Bon, semoga reviewnya ngga’ sekusut rambutnya, yak daripada ngelantur mari kita baca reviewnya kali ini bicara tentang album barunya Thinking Straight.

Thinking Straight | The Opposite Of Ordinary
Linoleum Records | IDR 30,000

Pertama kali kalian mendengarkan nama band asal Depok ini, pasti akan terlintas bahwa band ini adalah band Hardcore Punk yang mengambil banyak pengaruh dari Youth Of Today. Yak, memang betul sekali bila kalian berpikir seperti itu. Sewaktu saya memasukkan CD mereka yg berjudul “The Opposite Of Ordinary”, awalnya saya berpikir “aahh palingan standar band2 HC Punk, dengan sound seadanya dan vokal yg melengking khas Ray Cappo”, apabila kalian punya pikiran sama seperti saya, sayangnya kalian salah besar, karena mereka berhasil merekam album ini dengan sound yg luar biasa, dengan kata lain Thinking Straight tidak seperti band2 HC Punk lokal kebanyakan yg merekam album mereka dengan konsep seadanya. Tidak banyak band HC Punk lokal yg bisa survive dan mengeluarkan album, tetapi Thinking Straight cukup dapat menepis anggapan itu terlebih mereka membawa bendera Straight Edge.

Dari segi sound dan musik, mereka berhasil membuat album HC Punk yg mantap, campuran nuansa HC Punk ala Youth Of Today ditambah sedikit sentuhan modern (yah sekitar 2000an lah) mampu membuat telinga kalian nyaman tapi sekaligus juga membuat ingin stage diving dan moshing bersama teman-teman, yeah! Haha!

Dari segi lirik, ada salah satu track yg berjudul Oath That Sets Me Free berbunyi addiction to poison, I choose to refuse.. Ini memperlihatkan bahwa mereka mengusung Straight Edge atau dengan kata lain menolak segala jenis “Drugs” semoga juga dapat memotivasi yg mendengarkan untuk bersikap positif dalam segala hal. Lalu di track The Opposite Of Ordinary mereka menawarkan musik tanpa vokal dgn kata lain hanya memakai instrumen saja, tetapi cukup ear catchy .. Kejutan terakhir muncul di track terakhir mereka membawakan cover song dari Chain Of Strength berjudul Never Understand.. Yah, tahu lah pasti band itu kalo kalian mendengarkan HC Punk 80an. Haha!

Dari segi packaging, sangat jarang band seperti ini membuat packaging yg cukup terkonsep, bahkan apabila kalian membuka kertas lipatan yg dimana terdapat lirik disitu dan apabila dibalik akan ada sebuah poster kecil yg bisa menghiasi kamar kalian.. Hehehe!

Jadi kesimpulannya menurut saya album ini adalah album yg hrs didengarkan dengan volume maksimal bersama teman-teman, pacar dan sanak keluarga.. Let’s go!  Mosh… Mosh.. Mosh.. Yeeaahhhh!

Eh, pesan sponsornya lupa. Ah, tapi kalian udah tahulah ya, belinya dimana. Silakan lari ke seberang Unpar Ciumbuleuit, ruko lantai 2 sebelah CK, ada toko kecil mungil berantakan tapi oke sekali nyelip di lantai 2.

Sampai jumpa lagi dengan Si Gendat!

 

P.S. Yah, begitulah review CD yang ditulis sama kak Gendat yang tampaknya lebih serius dari Kak Katy Bon   .. hihihi… Kalo ada yang mau kirim surat bertanya tentang tips dan trik menulis ala Kak Gendat bisa di imel ke order@omuniuum.net, nanti kami sampaikan. Eh, ya, pesen CD bisa via sms ke 087821836088 yaks! Oh, biar keliatan update dan eksis, jangan lupa follow kita di twitter ya, @omuniuum

ALBUM BRNDLS – DGNR8 DAN PROGRAM PRJKT:DGNR8 de•gen•er•ate

Berbagai peristiwa dan kejadian menyedihkan yang terjadi di negeri ini tak lelah menghampiri kita. Melalui televisi, koran, internet maupun melalui kehidupan sehari hari, seakan kita tak dibiarkan lupa dan acuh . Dipaksa menyaksikan bangsa ini pelan-pelan terpuruk ke lubang hitam dan sulit – keluar lagi

Kenyataan ini yang mengilhami album ke empat BRNDLS yang bertajuk DGNR8 (baca: degenerate) yang dirilis oleh Sinjitos Records yang mulai dirilis secara nasional mulai 10 Juni 2011: sebuah tribut untuk bangsa besar yang mengerdil sehingga menjadi bahan tertawaan rakyat yang terjebak di dalamnya.

Pernyataan ini disimbolkan melalui desain cover dan packaging CD DGNR8 yang berbentuk kemasan obat.  Bila biasanya obat diberikan pada orang sakit, maka DGNR8 adalah persembahan BRNDLS untuk bangsa yang sakit, atau rakyat yang sakit karena kondisi bangsa yang kian bobrok.

Dari segi musik, BRNDLS menjanjikan perubahan musik yang ekstrim;ledakan emosi yang dulu mereka umbar di karya lama mereka muncul lebih terkontrol, namun tetap keras menohok. Seperti yang dikatakan oleh Eka Annash (vokal) “We made peace with our demons”.  Sesuai dengan pendewasaan yang telah dialami oleh para personilnya, kini BRNDLS merasa sudah waktunya untuk keluar dari zona nyaman mereka dan bereksperimen dengan sound dan pendekatan musik yang berbeda. Hasilnya bisa disimak melalui dua single yang telah terlebih ditawarkan melalui internet dan radio “Start Bleeding” dan “Perak”. Tidak kurang dari Morgue Vanguard alias Ucok dari kelompok hip-hop legendaris asal Bandung, Homicide ikut berkontribusi di album ini, dalam lagu “Abrasi”

Tentunya, resiko perubahan besar besaran ini disadari oleh mereka. Menurut Eka, sejak merilis single Start Bleeding di internet sebagai teaser dari album DGNR8 ini, mereka menuai banyak protes dari penggemar berat BRNDLS yang menuduh band ini mulai berkompromi dengan sound dan kehilangan rawness. “Padahal sebagai manusia, kita ingin progress.” katanya. “Dan ketika kita bekerja sama dengan Sinjitos Records, kita baru sadar banyak ‘pintu’ yang belum kita buka selama ini.”, merujuk pada eksplorasi yang mereka lakukan selama penggarapan album ini. Tony Dwi Setiaji (gitar) menambahkan,”Benang merah musik kita tetap rock n’ roll tapi bila album pertama kita dibandingkan dengan album ini, akan terasa ekstrim.” Tony menambahkan bahwa album DGNR8 juga merupakan ujian bagi penggemar BRNDLS. “Gue dan Eka yakin, sebagian orang akan sangat suka dengan album ini, sedang sebagian lagi akan sangat tidak suka. Sekaligus menunjukkan apakah elo bener bener penggemar BRNDLS atau bukan.” tutupnya.

Selain kepingan CD audio, album DGNR8 juga menyertakan kepingan extra bertajuk “DGNR8: The DVD”, sebuah film dokumenter mengenai suka duka BRNDLS dalam mengerjakan album ini.

Bersamaan dengan dirilisnya album baru mereka, BRNDLS dan Sinjitos Records juga meluncurkan projek yang diberi nama PRJKT:DGNR8 dengan tujuan memberi sedikit kontribusi untuk memperbaiki degradasi yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Kali ini PRJKT:DGNR8 memiliki fokus mengajak anak-anak muda dan remaja untuk kembali membeli produk musik secara fisik di toko CD dan kaset yang satu persatu menghilang ditelan kebangkrutan. Sekaligus membantu meminimalisasi pembajakan dengan melakukan persuasi langsung kepada penggemar musik, tanpa mengumbar slogan atau anjuran yang tidak efektif. Untuk keterangan lebih lengkap mengenai PRJKT: DGNR8 dapat diakses di situs http://dgnr8.tumblr.com

Berdiri di tahun 2001, BRNDLS yang dulu lebih dikenal dengan nama The Brandals adalah salah satu band rock n’ roll paling berbahaya di era 2000an dan salah satu band terbaik yang muncul dari gerakan musik independen yang merebak di era tersebut. Mereka telah merilis tiga album dan DGNR8 adalah album keempat mereka  setelah vakum selama empat tahun. Kini kelompok ini digawangi oleh Eka Annash (vokal), Rully Annash (drum), Tony Dwi Setiaji (gitar), dan dua personil baru Mulyadi “PM” Natakusumah (gitar) dan Radit Syahrazam (bass).

CD The Brandals | DGNR8 bisa didapatkan di tempat kita ya, sms 087821836088 nama, alamat dan pesananmu atau email ke order@omuniuum.net yaks!

Oya, jangan lupa follow twitter @thebrandals atau @sinjitos untuk keterangan lebih lengkapnya ya. :)

Polyester Embassy | Fake/Faker | FFWD Records| IDR 50,000

Hatss..hiattt!!

Setelah injak bumi 7 kali, akhirnya Katy Bon kembali dari mulut singa. Maafkan rambut saya yang agak melurus, mungkin ini akibat dari tidak keramas 5 hari. Janji, esok hari keramas. Semakin megar semakin seksi, saya tau. Baiklah, kembali ke bisnis..lho apa ini? Hoo.. Fake/Faker, Polyester Embassy! Ayo adik-adik, mari kita kemonah! Pertama-tama, masukkan CD ke dalam pantat kalkun..

… LHO! Apa ini?! Kenapa ada pantut kalkun disini! Enyahkan kalkun ini lengkap bersama pantatnya! Ini bukan rubrik Cook With Yen! Dasar freelancer, kerjanya serabutan jadi suka ketuker-tuker! Yak kembali, mari adik-adik, masukkan CD ke dalam CD player. Polyester Embassy dengan Fake/Faker-nya berhasil membuat telinga saya kecantol. Dari awal pembukaan, saya udah langsung ngeceng. Hmm..bagaimana mendeskripsikannya dengan kata-kata ya? Ini perasaan yang sama saat saya melihat Bary Prima untuk pertama kalinya di film Legenda Sangkuriang.. ohh.

Dari lagu pertama Air, saja sudah membuat perhatian saya tersita. Terlebih saat Later On berkenalan dengan lendir-lendir di telinga saya sebelum sampai ke gendang telinga. Dari intro aja udah catchy. Samar-samar “Later On” membuat saya teringat dengan “One Armed Scissor” nya At The Drive-In, juga Mew. Seandainya album ini adalah sebuah pancingan, bagi saya track ini adalah umpan dan hook terbaik diantara semua, dan seandainya saya ikan kakap merah, sudah barang tentu saat ini saya sedang kalian santap dengan sambel kecap dan nasi panas. Lain lumbung, lain ilalang. Lain track dua, lain juga track tiga. Do mi ka do, cie duo tigo, LSD masuk dengan intro yang masih upbeat, sempat teringat dengan band yang digawangi Okereke dan Lissack saat mendengar track ini.

Dan ceritakan pada saya, mari kemari, have u ever feel the pain when u’re insane? Have You? menceritakan kontemplasi yang dimusikalisasi. Kenapa saya bilang kontemplasi yang dimusikalisasi, karena kalau kamu dengarkan seksama, kadang backsound-nya mengikuti kata-kata Elang bernyanyi. Dan hal itu menarik sekali, pendengar jadi seperti bisa membayangkan visual yang terekam akibat perpaduan lirik, musik, dan backsound itu. Karena alasan itu juga menurut saya lagu ini pasti akan laku sekali di radio-radio, pi-requesteun. Ha ha.

Fake/Faker yang juga menjadi judul album, adalah lagu terpanjang di album ini. Membuat saya berpikir ini semacam kesimpulan sekaligus klimaks dalam album ini. Ada 9 total keseluruhan lagu dalam album kedua Polyester Embassy ini, dan saya suka sekali dengan eksplorasi mereka disini, membuat nama Polyester Embassy semakin mengkilat, mereka memamerkan perkembangan grup musiknya. Eh! Tunggu dulu..APA INI..ternyata ada tambahan 1 lagu yang diselundupkan, membuat saya mau tidak mau berpikir bahwa peribahasa orang sabar disayang Tuhan benar adanya, hanya untuk kali ini mungkin peribahasanya lebih tepat menjadi orang sabar disayang anak band. Setelah White Crime yang mencekam perasaan saya, ternyata menempel sebuah track yang easy dan playful. Ada di menit ke 3:59! Ha ha! Track yang paling elektronik, seperti pencuci mulut yang ringan dan manis setelah main course yang mengenyangkan. Mengingatkan saya dengan musik-musik Junior Boys, The Knife, atau M.I.A di tahun-tahun 2003 sampai 2007-an.

Akhir kata, belilah album ini, jangan me-rip CD teman kamu. Ayolah, ini band lokal, janganlah kamu curangi juga. Jangan takut miskin, takut mah sama Tuhan aja. Dan dimana lagi selain di Omuniuum, tempat kamu bisa dengan mudah menemukan album ini! Ini adalah saran terbaik saya sepanjang 3 bulan terakhir, “Pergilah ke Omuniuum!” karena sekarang kamu ga cuma bisa menemukan merchandise, buku, CD, atau calon pacar, kamu juga bias menemukan ruang alternatif Omuniuum di lantai 3! Oh, kurang Barry Prima apalagi coba? Seksi sekali. Tapi jangan kamu prospek teteh-teteh Omuniuum ya, soalnya yang satu baru saja melepas masa lajang, ihiyy!

download:  Polyester Embassy – Space Travel Rock n Roll Radio Edit

 

P.S. Yah, begitulah review CD yang ditulis sama kak Katy Bon yang ajaib.   .. hihihi… Kalo ada yang mau kirim surat bertanya tentang tips dan trick menulis ala Kak Katy Bon bisa di imel ke order@omuniuum.net, nanti kami sampaikan. Eh, ya, pesen CD bisa via sms ke 087821836088 yaks! Oh, biar keliatan update dan eksis, jangan lupa follow kita di twitter ya, @omuniuum

Preorder Album Baru Rajasinga | Rajagnaruk

Tersedia size S, M, L, XL S 51 x 72 M 53 x 74 L 55 x 78 XL 58×80

Pemesanan dibuka mulai tanggal 20 Mei – 5 Juni 2011

Pengiriman mulai tanggal 6 Juni 2011 bagi yang sudah melakukan transfer pembayaran. Harga belum termasuk ongkos kirim.

Pemesanan via sms ke 087821836088| nama | alamat | pesanan|size

Pemesanan via email ke omuniuum@gmail.com | nama | alamat | pesanan | size | no. telp

Setelah tgl 5 JUNI 2011 – Harga Tshirt menjadi 120ribu dan CD 30ribu. Bisa di beli terpisah. \m/