Boit: Love The Band, Respect The Crew

Kata-kata itu pertama kali saya dengar  dari seorang merchandiser band yang populer lewat twitter dengan nama  @themerchdude. Dari dia, saya mengetahui banyak hal tentang bagaimana caranya menjadi merchandiser sebuah band. Tentang tanggung jawab seorang merchandiser yang harus tahu berapa banyak barang yang harus dipersiapkan ketika band hendak tur. Bagaimana dia harus bernegosiasi dengan venue tempat manggung band, bagaimana dia menghadapi para penonton yang hendak membeli merchandise band yang dia ikuti turnya juga proses yang dia lihat dan dia alami sepanjang dia berinteraksi dengan fans dan band sampai akhirnya dia menciptakan slogan “Love The Band, Respect The Crew”.

Jika tidak akrab dengan istilah merchandiser yang mungkin bukan sebuah profesi yang umum di sini, mari kita perjelas. Merchandiser adalah orang yang bertanggung  jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi sampai penjualan merchandise sebuah band.

Scene musik Indonesia belum terlalu akrab dengan istilah ini karena memang tidak semua band punya  divisi merchandise atau tidak semua band punya keberuntungan untuk tur dan harus produksi merchandise dalam jumlah banyak. Soal bagaimana caranya menjadi merchandiser, mari kita bahas di postingan lain. Kali ini, kita akan membahas tentang bagaimana seorang merchandiser bisa menciptakan slogan itu tadi, mencintai band dan menghormati kru.

Seseorang yang bertanggung jawab atas merchandise sebuah band, mau tidak mau memang jadi pengamat dari segala hal yang terjadi lewat interaksi dia melalui apa yang dia jual kepada penggemar sebuah band dan untuk orang yang kerjanya bertugas ketika konser, dia akan banyak mengamati segala hal yang terjadi di venue. Dia adalah mata ketiga dari sebuah band dan meski mungkin termasuk orang dalam band, dia adalah orang dalam yang berdiri diluar. Dia yang tahu bagaimana reaksi orang ketika menonton band dari banyaknya penjualan merchandise dan karena dia bekerja hampir bersamaan dengan seluruh kru untuk menyiapkan tempat dia berjualan, dia juga menjadi saksi proses persiapan sebuah konser.

Dan dia juga yang tahu attitude atau sikap semua orang yang berhubungan dengan sebuah pertunjukan. Sikap band, sikap penggemar dan juga kerja keras para kru. Buat saya, kalau dianalogikan dengan kehidupan, sebuah pertunjukan atau konser ibaratnya adalah resepsi perkawinan.  Kalau resepsi perkawinan yang dipersiapkan adalah prosesi akad nikah, tempat berlangsungnya resepsi, hidangan yang harus sesuai dengan jumlah orang yang diundang, dekorasi dan hiburan. Untuk konser, yang harus dipersiapkan juga hampir sama. Tempat pertunjukan yang besarnya sesuai dengan orang yang akan menonton, tempat istirahat band, konsumsi panitia dan seluruh kru band, dekorasi tempat, jaminan keamanan dan juga kelancaran acara.  Keduanya, tidak bisa diulang.

Kecil ataupun besar, semua butuh persiapan yang matang dan momen yang terjadi saat konser, bisa jadi tidak ditemukan di tempat lain dan disitulah, pentingnya sikap saling mendukung untuk keberhasilan sebuah konser. Kepaduan yang terjadi antara panitia, penonton dan band adalah mutlak dan jika kita bisa menciptakan atmosfer yang pas dengan bersikap sebagaimana mestinya, bisa jadi konser itu akan memuaskan banyak pihak.

Dari sudut pandang kecil seorang merchandiser, semua hal yang tadi disebutkan terjadi tepat didepan mata. Bagaimana band memperlakukan kru, bagaimana penonton mengejar dan mengelu-eukan band kesukaan, bagaimana sikap dan perlakuan panitia terhadap kru atau sebaliknya. Bagaimana kerasnya para kru bekerja atau mungkin juga kesalahan-kesalahan yang terjadi sepanjang terjadinya pertunjukan, sengaja atau tidak.

Tampak kecil dan sepele dan mungkin tidak penting tapi sekali lagi, kepaduan sikap antara panitia, band dan penonton adalah sesuatu yang sebetulnya sangat bisa dilakukan dan kuncinya tentu saja selain mencintai band juga harus menghormati kru.

Jangan lupa bahwa kru bisa sangat punya kuasa untuk mensabotase sebuah acara. Tanpa kru yang mumpuni untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan, bisa jadi kualitas band yang akan ditonton jadi melempem. Soundnya jelek atau senar gitar putus, efek rusak, hal-hal semacam itu yang kecil tapi mengganggu keseluruhan acara.

Mungkin tidak mudah tapi mulailah dari hal yang membutuhkan ketelitian seperti membaca technical riders atau seluruh keperluan panggung band yang diundang. Lalu menyiapkan hospitality atau keperluan band diluar panggung mulai dari tempat beristirahat dan konsumsi dan dan selama persiapan yang sesuai dengan kebutuhan. Kemudian mencari tahu berapa banyak orang yang ikut rombongan, bertanya apakah perlu dipersiapkan meja untuk penjualan merchandise. Mulailah dari sana.

Tapi tentu saja untuk band juga jangan lupa bahwa berkat kerja keras banyak orang maka kemudian panggung bisa jadi tempat yang menyenangkan. Bahwa untuk jadi band yang dicintai banyak orang, juga butuh mencintai apa yang dikerjakan. Jalan mulus saja da yang mengaspal, jadi jangan lupa menghargai yang mengaspal jalan.

Masih banyak sekali yang bisa diceritakan, tapi jatah menulis saya cukupkan biar bisa untuk bahan tulisan berikut. Yang pasti, ini hanyalah satu hal yang bisa dilihat dari meja merchandiser sebuah band dan tentu saja masih banyak hal lain yang bisa diceritakan, kami merchandiser sebuah band bisa jadi adalah kunci dari banyak cerita.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Foto:  dok. Limunas/Nasrul Akbar

boit.kulturklab.com

 

  • Share post