Boit: Band itu Butuh Penggemar, Bukan Butuh “Teman”

Ungkapan itu tercetus saat saya sedang berdiskusi dengan seorang teman tentang gogon, gosip-gosip undergound, situasi industri musik indie dibanyak kota dan tentu saja situasi Bandung sebagai tempat tinggal kami berdua. Ungkapannya muncul karena di banyak tempat kadang justru teman adalah yang terdepan minta gratisan.

Ketika tahu temannya baru rilis album atau merchandise, yang pertama ditanyakan adalah bisa meureun, jatah urang mana euy? Bisa kali minta albumnya. Pun jika membuat konser terutama konser lokal, bisa jadi teman yang justru sama-sama mencari uang dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari ini menjadi seseorang yang gencar meminta jatah tiket masuk gratis sementara yang didengungkan adalah support your local music, support your local movement. Masbro, Mbaksis, kok bisa ya situ nyuruh support your local movement tapi situ gak dukung local movement temannya?

Bagaimana bisa meminta para penggemar untuk membeli cd dan merchandise juga membeli tiket konser jika kita sendiri tidak melakukannya? Padahal kita tahu kalau hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan untuk mendukung band yang disukai adalah hal-hal berikut ini.

1. Membeli CD dan merchandise band yang disukai

Ini adalah cara yang paling mudah. Sisihkan uang jajan, beli cd dan merchandise bandnya atau cari di iTunes, Spotify dan kanal musik digital lainnya. Putar lagunya sampai bosan sampai orang disebelahmu protes atau malah menjadi suka apa yang kamu dengar. Kalau tidak ada rilisan fisik atau kanal resmi yang bisa menjadi perantara untuk kita bertemu dengan karya, mungkin bandnya tidak peduli atau tidak mau didengarkan orang, lupakan saja band itu.

2. Beli tiket konser

Ini juga bukan hal yang sulit dilakukan jika kita memang sudah terbiasa untuk menyisihkan uang untuk menonton konser. Tipsnya jika memang suka pada sebuah band dan tahu band itu membuat acara sendiri dengan konsep yang tidak biasa, usahakan tonton.

Jika dirasa konser cukup mengganggu kesehatan dompet, buat celengan khusus untuk tiket konser agar kebutuhan keseharian tidak terganggu. Kalau ternyata konsernya malah tidak ada, kan uangnya bisa untuk liburan.

3. Lakukan dua hal di atas sesering mungkin

Ini adalah siklus yang tidak bisa diputus. Situasi industri kita terbangun bukan hanya satu arah tapi berkesinambungan dan lingkarannya sebisa mungkin tidak boleh putus. Dimulai dari band yang tugas utamanya adalah berkarya dan menyiapkan karyanya menjadi sebuah produk dengan sebaik mungkin. Ketika sudah jadi produk, dilempar untuk diedarkan lewat kanal distribusi. Setelah lewat kanal distribusi sampai ke tangan penggemar, didengarkan, suka, lalu ingin nonton konsernya, beli merchandisenya. Selama proses itu produk tersebut juga dipromosikan dengan sukarela oleh penggemar yang berbahagia karena bisa mendengarkan materi baru dari bandnya.  Penggemar tumbuh dan bertambah.

Sesudah penggemar bertambah, mungkin ada yang terinpirasi untuk membuat band baru dan hal yang sama juga berlaku untuk band baru. Promosilah dengan baik dan semestinya tanpa perlu melakukan hal berlebihan. Biarkan materi yang dibuat yang berbicara. Biarkan karya dan gagasan yang diungkapkan bertempur di medan laga. Jika karya yang dibuat ternyata tidak bisa berbicara dan membuat orang membeli album, mungkin gagasannya kurang kuat atau materinya memang jelek. Pahit, tapi toh namanya juga hidup, kalau patah hati juga harus terus berjalan dan mencari pacar baru.

Berada dalam industri, sekecil apapun skalanya artinya kita akan menghadapi persaingan dan di era digital ini persaingan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak band dengan talenta yang mungkin lebih bagus yang muncul setiap hari. Belajar dan berdiskusilah terus menerus.

Bangun jaringan networking dan buatlah basis penggemar yang baik. Layani penggemarmu dengan baik, merekalah yang mengeluarkan uang untuk membeli album, cd, merchandise dan tiket konsermu.

O ya, tapi jangan buang temanmu. Beri pengertian baru pada mereka, jika yang namanya vendor produksi tidak memberi diskon. Bilang kalau produksi CD juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ada biaya rekaman dan ada biaya ini itu yang harus dibayar. Jika kalian di cap pelit, suruh temanmu membayar sound system yang disewa saat konser atau suruh mereka bekerja pada saat konser. Kalau ada yang minta merchandise gratisan, bilang kalau kalian juga membayar royalti artis yang membuat artworknya. Bukan berarti pelit, tapi kembali pada hal yang tadi disebut diatas, untuk sesama band, bagaimana kalian bisa meminta para penggemar untuk membeli rilisan kalian, sementara kalian sendiri tidak melakukan hal yang sama?

Saya percaya bahwa teman yang baik bisa membantu apa yang dilakukan temannya meski  terkadang dia harus membayar untuk itu. All we have to do is ask.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Foto: vintag.es, dok. pribadi

  • Share post