Ada Harapan di Industri Musik

Iit Sukmiati
Ada Harapan di Industri Musik

Perubahan industri musik yang beralih menjadi digital membuat sebagian besar pelaku musik kocar-kacir. Penjualan rilisan fisik yang menurun drastis membuat sejumlah toko musik gulung tikar. Imbasnya, para musisi menjual karya lewat platform musik digital per single, bukan album seperti sekitar sepuluh tahun lalu.
Di tengah buruknya situasi industri musik, Omuniuum yang didirikan lit Sukmiati (39) bersama suaminya, Stafianto Tri Yuniantoro bertahan sebagai wadah yang konsisten dengan rilisan fisik dan merchandise. Berbagai kegiatan berbasis komunitas terutama musik pun kerap digelar. Hal itu sebagai bentuk perpanjangan tangan antara penggemar dan musisi atau band. Pada 2003, Omuniuum memulai semuanya di Jalan Sultan Agung, Kota Bandung. Ketika itu lit bersama Tri dan kawan mereka, JA Verdiantoro atau Otong, vokalis Koil, berkolaborasi. Idenya, Otong ingin membuka toko rilisan musik, sedangkan Iit yang akrab disapa Boit membuka toko buku. Dari situ Omuniuum mulai berkembang. Pada 2007, Boit dan Tri pindah ke Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung. Kendati kecil, mereka melanjutkan misi membuka toko rilisan fisik musik dan merchandise terutama dari band independen. Tak lupa, buku juga masih menjadi materi yang ditawarkan. Setelah 11 tahun berjalan, Omuniuum bertahan di tengah gempuran digitalisasi rilisan fisik musik. Mereka ajek tanpa mengesampingkan prinsip bisnis dan di sisi lain hubungan dengan komunitas pun ber-jalan baik. Wartawan Pikiran Rakyat Windy Eka Pramudya dan fotografer Arif Hidayah berbincang dengan Boit yang ditemani mitra kerja dan hidupnya, Tri. Bukan hanya tentang Omuniuum dan kegiatan di seputar musik, tetapi juga bagaimana mereka melihat industri musik saat ini.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk terlibat aktif di bisnis rilisan fisik musik lewat Omuniuum?

Dari dulu saya senang baca buku, jadi punya banyak koleksi buku. Ketika ditanya mau buka toko apa, langsung kepikiran buku. Awal-awal bisnis yang dilego buku koleksi pribadi. Sebelum akhirnya menemukan jalan ke mana-mana. Saat pindah ke Ciumbuleuit jadi berpikir, kalau jualan buku saja bisa hidup tapi enggak bisa kaya. Akhirnya berpikir untuk menambah penghasilan lewat rilisan fisik musik. Di per-jalanannya, merchandise dan rilisan fisik ternyata lebih menghasilkan. Orientasi kami jadi berubah, dulu 50:50 antara buku dan musik, sekarang 70 musik, 30 buku. Pokoknya walaupun enggak banyak, literatur harus tetap ada.

Omuniuum menggabungkan dua hal yang berbeda yaitu musik dan buku, apa yang membuat dua hal itu bersatu?

Sebenarnya, anggapan ini salah. Membaca buku dan mendengarkan musik sama-sama memainkan imajinasi. Kadang orang yang datang juga merasa aneh, ada toko buku setel musiknya metal. Padahal, sebenarnya enggak perlu dibatasi. Orang suka lupa buku atau literatur menjadi referensi menulis lirik. Kalau enggak banyak baca, enggak akan bisa menulis lirik yang bagus.

Pada perkembangannya, Omuniuum menjadi salah satu tempat komunitas dengan beberapa penyelenggaraan acara musik dan gratis. ini direncanakan sejak awal?

Itu semua tumbuh organik. Dari hanya menawarkan merchandise dan rilisan fisik, kami banyak kerja sama dengan banyak label. Kami awalnya enggak tahu dan enggak kenal siapa-siapa. Saya dan Mas Tri rajin nonton gigs atau konser dan ketemu banyak orang. Semua berkembang sendiri. Di titik tertentu kami sadar bahwa bila kami hanya menunggu di Omuniuum dan orang datang untuk transaksi, lama-lama bisa mati. Kami juga mulai ngeh bahwa enggak semua band sadar dengan potensi merchandise dan memelihara fan base. Akhirnya, kami memelihara komunitas lewat acara. Kami menjadi perpanjangan tangan band untuk menjangkau penggemarnya. Kadang band memang susah dijangkau, penggemar segan bertanya, kapan manggung misalnya. Kalau nanya ke kami, bebas. Kami tumbuh bareng. Misalnya Seringai, ada penggemar mereka yang beli merchandise saat masih kuliah sekarang sudah berkeluarga. Ada ju-ga yang dulu ukuran kausnya S sekarang L. (sambil tertawa).

Efek dari ini semua bisa disebut sebagai salah satu cara mengedukasi penikmat musik?

Makanya itu tadi pentingnya literasi. Kami juga mengajak dan mencontohkan. Kami mengapresiasi misalnya dengan beli tiket pertunjukan dan merchandise. lni salah satu cara mendukung karya anak band. Hubungannya jadi simbiosis mutualisme.

Ada enggak band yang awalnya tidak mengerti dan menyadari pentingnya merchandise dan rilisan fisik jadi peduli setelah tahu tentang Omuniuum?

Ada, salah satunya Bottlesmoker yang dari awal sudah diurus. Kami juga benahi merchandise band Rajasinga dan Sigmun. Bottlesmoker itu dulu enggak siap kalau mau tur, sibuk bikin kaus. Padahal, mau tur atau tidak, bikin saja merchandise yang bagus.

Bagaimana melihat perkembangon musik di Kota Bandung? Baik dari segi apresiatornya maupun musisi?

Kalau dari sisi apresiator, Bandung itu oke banget. Akan tetapi, masalah di Bandung itu terjadinya gap generasi karena yang muda dan tua belum ketemu titik tengahnya. Band yang gede, gede banget, tiba-tiba loncat ke generasi sekarang. Misalnya Mocca atau Pure Saturday, lawan mereka yang setara siapa yang sama-sama dari Bandung. Kalau di Jakarta, gapnya nyaris enggak ada. Kami masih mencari missing link-nya di mana. Dulu, saat kami bantu Nadafiksi, album sudah jadi, tapi desain sampul album enggak siap. Gambar saja ambil dari Google. Ini enggak bisa, ini pengetahuan umum yang seharusnya semua mengerti. Banyak band yang selesai rekaman, berpikir tugasnya selesai. Padahal, baru dimulai. Harusnya berpikir bagaimana distribusinya dll. Mereka (musisi) enggak punya perencanaan. Kalau lihat di major label, semua dibayari dan diatur, musisi tahunya hanya rekaman. Di jalur independen enggak gitu. Harus punya rencana dan tahu mau apa. Dulu kami enggak kebayang juga bisa bicara tentang manajemen band. Makanya
kami bilang, kami sama-sama belajar. Saat kami rajin nonton musik, kami sadar, energi penonton musik itu luar biasa. Contohnya di festival musik Hellprint, bayangkan 20.000 penonton, sekitar 90% penonton pakai kaus hitam yang merupakan mer-chandise band. Kalau setiap band memelihara fans 1.000 orang saja dan loyal beli merchandise, itu sangat membantu pemasukan band.

Apa yang membuat musisi tetap merilis karya fisik? Pengaruh enggak dengan fenomena digital?

Saya pribadi penikmat rilisan fisik dan menikmati proses mendengarkan musik pakai CD. Dulu CD adalah sumber pendapatan utama musisi, sekarang rilisan fisik itu bagian merchandise. Kalau jualan kaus, tanpa karya, ada yang kurang. Soalnya, ada juga yang suka desain kausnya, tapi enggak tahu band apa. Dia beli kausnya, tertarik dengan bandnya, jadi beli rilisan fisiknya. Sekarang pendapatan band dari manggung dan promo kit dari digital. Punya album menjadi pembuktian serius tidaknya band karena terlihat seperti dari artwork, tata letak, dan album menjadi identitas band atau musisi.

Kenapa musisi atau band di jalur independen bisa dibilang lebih bertahan jika dibandingkan dengan musisi di jalur mainstream?

Band independen itu sombong (tertawa). Sebenarnya, band di jalur mainstream itu yang keren ya keren juga. Jadi, enggak perlu ada pengotakan antara inde-penden dan mainstream. Industri musik secara keseluruhan berubah terus mengikuti zaman. Namun, major label terlambat mengikuti zaman. Ketika zaman berubah, mereka sudah besar jadi ketika harus menyesuaikan lebih susah karena gerbongnya banyak. Kalau independen karena gerbongnya kecil, lebih fleksibel terhadap perubahan yang terjadi. Fase di industri musik Indonesia itu dari piringan hitam, kaset, CD, RBT, dan sekarang digital. Ini terjadi dengan cepat.

Anda sempat ikut Konferensi Musik Indonesia di Ambon pada awal Maret 2018. Keputusan apa yang paling penting dari kegiatan itu?

Saya takjub karena bisa ketemu orang dari industri musik se-Indonesia. Kami duduk bareng dan diskusi tanpa melihat dari independen atau mainstream. Terlepas dari berbagai kepentingan di situ, tapi dari konferensi itu kami berkesimpulan, masih ada harapan di industri musik Indonesia. Saya juga menyadari, di sana enggak ada bahasan tentang potensi merchandise. Banyak pihak dari major laber yang takjub kami masih jualan CD dan merchandise. Di industri sekarang yang concern sama merchandise, baru Raisa dan Tulus. Kesadaran musisi untuk mengelola merchandise masih rendah. Musisi kalau mendidik mau bikin merchandise akan menjadi kebanggaan juga pakai merchandise yang asli. Akan tetapi, memang yang punya kultur mengelola merchandise baru di kalangan band metal, di luar negeri juga gitu. Lagipula mengurus merchandise memang enggak gampang. Harus ada manajemen sendiri yang mengatur.

Selain musik, hobi Anda adolah membaca? Apa buku terakhir yang dibaca dan yang paling favorit?

Saya terakhir baca buku Man Without Women karya Haruki Murakami. Kalau yang jadi favorit adalah buku cerita Winnie the Pooh karena buku itu bercerita dari sudut pandang anak kecil, tapi sebenarnya sarat filosofi hidup. Saya juga favorit dengan Tetralogi Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer dan Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Buku Tarian Bumi memberikan banyak pelajaran hidup terutama untuk perempuan. Dari buku itu saya menyadari, betapa sulit jadi perempuan dan banyak aturannya, tapi perempuan jauh lebih kuat. Sebenarnya, selain musik dan baca saya juga hobi bercocok tanam dan masak. Dua hobi itu kayak terapi buat saya. Soalnya saya bisa memikirkan banyak hal lain saat memasak atau bercocok tanam.

Biodata

Iit Sukmiati

KELAHIRAN : Bandung, 20 Maret 1979

SUAMI : Stafianto Tri Yuniantor (45)

ANAK : Bunga Putri Raditha (12) dan Tiana Dwi Raditha (3)

PENDIDIKAN TERAKHIR : D-3 Sastra Perancis Universitas Padjadjaran

PENGALAMAN : Pembicara di Rrrec Fest, Idea Fest, dan Archipelago Fest. Lokakarya musisi dan komunitas musik di Konferensi Musik Indonesia 2018

  • Share post