December 31, 2015 at 12:44PM

Sebelum dihadang kemacetan di mana-mana, hari ini kami tutup pukul 18.00. Besok tanggal 1 Januari 2016 kami libur dan buka kembali tanggal 2 Januari 2016. Sampai jumpa tahun depan! Semoga makin banyak rejeki, makin banyak rilisan bagus, makin banyak merchandise cakep makin banyak acara bagus dan makin banyak buku bagus yang bisa dibaca dan semoga semua yang dilakukan makin menyenangkan! :)

 

13.01.2016 Teater Besar, Jakarta

Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta 10330

VIP: Rp 250.000,- Kelas 1: Rp 200.000,- Kelas 2: Rp 160,000,- Kelas 3: Rp 120.000,-

Penjualan tiket 28 Desember 2015 hingga tiket habis Jakarta: tiket.sinestesia@gmail.com Bandung: Omuniuum Store / omuniuum@gmail.com

01

Tata cara pembelian tiket

1. Satu orang dapat membeli MAKSIMAL empat tiket.


2. Tiket dapat dibeli di: BANDUNG, melalui Omuniuum (langsung datang ke toko atau email: omuniuum@gmail.com) JAKARTA, melalui Jangan Marah Records (email: tiket.sinestesia@gmail.com)


3. Untuk pembelian tiket online, harap perhatikan hal-hal berikut:

Cantumkan data pemesanan: Nama – No. Telp – No. KTP / tanda pengenal – Kategori Tiket – Jumlah Tiket.


Dalam waktu 1 x 24 jam, Admin akan mengirimkan instruksi pembayaran dan harap lakukan pembayaran maksimal 1 x 24 jam. Apabila lebih dari 1 x 24 jam, maka pemesanan Anda dianggap hangus.


Setelah melakukan konfirmasi pembayaran, admin akan mengirimkan tanda terima & kode reservasi tiket yang berlaku sebagai kuitansi pembayaran.


Jika Anda tidak menerima tanda terima & kode reservasi tiket hingga tiga (3) hari kerja (tidak termasuk hari libur atau Minggu), harap periksa juga folder spam atau segera email kami.


4. Untuk pembelian tiket secara langsung:

Silakan datang ke Omuniuum, Jalan Ciumbuleuit 151 B Lantai 2 Bandung dengan jam buka Senin – Sabtu, pukul 10.00 – 21.00.


Isi form & kode reservasi tiket yang akan diberikan oleh Omuniuum.


Pembayaran hanya bisa dilakukan secara tunai.


5. Simpan / cetak tanda terima / form & kode reservasi tiket untuk ditukarkan dengan tiket asli pada hari konser, mulai pukul 10.00 – 19.30 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Harap bawa KTP / tanda pengenal saat menukarkan tiket.


6. Tiket tidak dapat ditukar dan diuangkan kembali dengan alasan apapun.

02

December 28, 2015 at 06:08PM

Masi anget, baru datang. CD ERK Sinestesia – IDR 50,000. Langsung mampir #omuniuum atau bisa pesan via sms ke 087821836088 format nama alamat pesanannya ya! Mari di jemput sebelum kandas. :)

December 24, 2015 at 11:09AM

Ts PolkaWars Axis Mundi black – IDR 150,000. Size M L XL XXL. Pemesanan sms 087821836088 nama alamat pesanannya atau langsung saja mampir ciumbuleuit 151 b lt. 2 bandung. Yuk! :)

December 24, 2015 at 09:11AM

Stoned Magrib Pameran dan video screening oleh Rajasinga Pembukaan: Sabtu 26 Desember 2015 mulai jam 7 Malam At Omuniuum Building Ciumbuleuit 151 B lt. 2 Bandung *** “Stoned Magrib” adalah single pertama dari album III: Rajasinga yang dirilis dalam bentuk video animasi pendek yang dibuat oleh bassis/vokalis Morrg yang baru dilepas ke publik beberapa waktu yang lalu. Ide awal videonya sangat sederhana, menulis ulang potongan petualangan Rajasinga, dalam kurun waktu sebelas tahun terakhir. Yang menarik adalah proses pengerjaan video animasi tersebut karena yang namanya animasi sudah tentu membutuhkan banyak gambar untuk menjadi karya yang utuh. Masih dalam rangka 11 tahun Rajasinga, Morrg mengajak teman-teman untuk berbagi cerita tentang pengalamannya membuat video, mulai dari ide, sketsa dan proses pembuatan dari animasi yang ada di video Stoned Magrib. Sampai berjumpa! #omnispacebandung #omuniuum #artexhibition #11thtetapberasap #rajasinga #bandung #stonedmagrib (di Omuniuum)

December 19, 2015 at 06:49PM

Malam itu saya sedang duduk-duduk di motor yang terparkir membelakangi jalan kecil yang dijadikan peralihan ketika jalan utama Kemang diblokade untuk suatu festival kebudayaan Betawi. Para pengemudi saling menghardik satu sama lain akibat terpaksa berjejalan di jalanan kecil yang akan membuat mereka memutar makin jauh dari tujuan. “Orkes jahanam, mesin dan umpatan”, begitu alusi milik band yang akan saya ceritakan. Saya masih membelakangi jalanan, menatap ke arah bar sempit lokasi acara Monster of Folk kreasi Wasted Rockers yang masih ditunda.Mungkin karena hadirin masih sepi, mengingat akses utama ke tempat ini tertutup dan teralihkan. Saya tidak benar-benar melihat ke arah bar, saya melihat segerombolan lelaki yang masih asyik merokok di hadapan saya. Saking seringnya berkunjung ke ibukota, saya nyaris bisa selalu menebak dengan tepat bahwa mereka bukan ‘orang sini’. Kami terpisah oleh jarak sempit yang digunakan orang untuk lalu-lalang mencari parkir dan membaur ke keramaian. Mereka juga sedang menatap saya, saya membagi waktu untuk menatap balik mereka secara bergantian. Waktu singkat bertukar tatapan mengamati usai ketika salah satu dari kami melengos. Mereka lanjut berbincang, saya melanjutkan menanggapi satu-dua kalimat kawan saya yang gampang terprediksi, sudah pasti mengandung ‘belum mulai juga’ atau ‘macet banget’. Saya masih mencoba menyimpulkan arti tatapan mereka tadi yang berujung pada dua konklusi saja: 1) mereka merasa bersimpati karena saya menunggu acara yang tak kunjung mulai 2) mereka mengamati penampilan saya dan berkesimpulan, huh,another urban dudes. Berdasarkan keyakinan bahwa mereka bukan ‘orang sini’, saya pilih yang pertama, meski yang kedua tidak sepenuhnya salah.

Ketika acara telah dimulai dan beberapa penampil undur diri, tiba saatnya untuk para lelaki tadi mengambil alih panggung, mereka akan tampil. Silampukau akan tampil. Tidak satupun lagu yang mereka bawakan malam itu saya kenali, mengingat saya hanya pernah mendengar EP mereka yang dirilis enam tahun lalu, Sementara Ini. Tapi hebatnya, semua lagu yang mereka bawakan dari rilisan terbaru, album debut Dosa, Kota, & Kenangan terasa familiar dan nikmat. Catchy dan easy listening, sesuatu yang saya hindari, karena sialnya (atau untungnya), lagu-lagu yang cepat hinggap di kepala saya, cepat pula berlalunya. Maka hari itu saya tidak tergesa-gesa membeli atau memesan cakram padat Dosa, Kota, & Kenangan, saya khawatir mereka akansegera pergi. Beberapa bulan kemudian saya tetap belum memiliki albumnya, saya hanya sesekali mendengarkan di Youtube (seseorang mengunggah album penuhnya), satu-dua putaran sudah cukup untuk mengajak saya ikut bernyanyi. Sialan memang. Berulang kali saya menanyakan ke Omuniuum apakah albumnya tersedia, beberapa kali datang dan cepat pula perginya, laku keras. Sampai akhirnya harus ‘disimpan’ sekeping, yang saya dengarkan saat ini.

Ada alasan lain sebetulnya, selain cepat datang dan pergi.Album yang saya dengarkan berulang kali pada suatu fase hidupakan mengingatkan saya kepada momen-momen di masa itu.Saya malas mengingat-ingat. Sejak terus menyetel EP Sementara Ini di salah satu momen emas (apaan) pertemanan masa perkuliahan, saya kerap menghindari untuk menyetelnya lagi. Lagu-lagu disitu benar-benar gamblang.Tentang anak muda, perpisahan, dan musiknya segamblang musisi-musisi Kopaja. Jejak-jejak tersebut dikemas dengan lebih ‘elit’ ketika sampai di Dosa, Kota, dan Kenangan. Kedua dinamo Silampukau, Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening, mengembangkan musik dan gaya menyanyi yang lebih luas. Jika lagu-lagu di Sementara Ini gampang saja dilabeli dengan upaya menyanyikan tembang-tembang dengan rasa Iwan Fals, maka diDosa, Kota, dan Kenangan Kharis bernyanyi dengan lebih sengit, licin, sesekali terdengar agak licik. Eki terdengar makin ‘berat’ — semakin cepat untuk membuat para indie darling ‘basah’, mengimbangi Kharis dengan gaya bernyanyi yang lebih waras. Musiknya? Jauh lebih riuh.Instrumen-instrumen tambahan yang mengesankan Folk perkotaan dengan visual utama yang terbayang oleh saya adalah gedung-gedung tua peninggalan kolonial yang telah dipoles ulang. Pada sektor lirik disematkan diksi-diksi ‘langka’ penegas citra ‘tua’yang sukses menghindari tema-tema kerinduan, pengakuan, atau kegusaran yang basi — dengan Kota Surabaya sebagai latar kejadian.

Balada Harian Album ini dimulai dengan tenang dan jitu, Balada Harianmengabadikan salah satu momen paling pribadi kita tatkala mencoba melukis gambaran hari ini tepat ketika terjaga akibat bunyi alarm. Kharis mengomel dengan nada curhat cenderung jenuh.“Waktu sekedar hitungan yang melingkar,” ujarnya, akan mewakili banyak orang.Sementara bagian ‘bocah riang’ dalam diri kita yang perlahan memudar menuju raib, yang kerap dipaksa bangun oleh rutinitas dari luar pagar, akan mengingatkan banyak orang.

Si PelangganSejak Eki mengawali dengan nada sebijak kura-kura penyangga dunia, “Dolly…” serta merta kita semua paham, meski tidak semua dari kita bertalian dengan tempat itu, tentunya. Denting piano yang elegan menemani Eki mengenang sekaligus mengkhawatirkan situasi dan kondisikawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan puitis; suatu penghormatan yang apik pula beraroma pekat bir.

Puan KelanaBerikutnya, Kharis mengambil alih vokal demi menyanyikan lirik-lirik yang lebih pretensius denganterdengarngambek. Menyibak pesimistis pada mereka yang ditinggalkan orang-orang tersayang berkelana, suatu tembang romansa, dengan tempo ketukan pengundang dansa  didampingi piano dan instrumen tiup dalam dosis yang pas serayamembandingkan Paris dengan Surabaya, miras impor dengan miras lokal.

Bola RayaSilampukau mendadak banting setir ke atmosfer yang lebih gelap dan janggal bak Dark Folk/Neofolk yang menyeret kita ke pertandingan sepakbola di mana para pemainnya dihantui perasaan waswas. Komposisi yang sudah muram ditimpali lagi oleh sayatan cello untuk mempertegas situasi ketiadaan harapan pada ode kegusaran anak-anak kota— yang terancam kehilangan lapangan bola akibat pertumbuhan kota yang seolahtidak bisa lebih pesat lagi.

BianglalaLagu yang tenteram dan bersahaja, kembali ke trek usai bereksperimen di lagu sebelumnya. Sulit untuk tidak mengakui kalau saya membayangkan diri ada di sana, Taman Remaja Surabaya, meski gambaran yang muncul justru suasana pasar malam, yah, tidak meleset terlalu jauh lah. Kesederhanaan yang justru mengajak kita tersenyum lembut, nyaris mampu mengecap rasa cinta di gulali. Aih. Walaupun sebenarnya mungkin Bianglala menyiratkan kritik pada penggunaan ‘hanya’ pada kalimat “…hanya di sana, hiburan murah di Surabaya”.

Lagu Rantau (sambat omah)Hanya ada dentam bass yang menemani kedua gitar demi mengiringi kekecewaan tertahan akibat kegagalan di perantauan (gagal jadi kaya, kurang jelas apa?) dan kerinduan akan rumah. Lagu yang menyenangkan. Eki menyanyikan dengan tegar sementara Kharis terdengar mengocehtertahan, mendukung cerita rekannya dengan lirik berbeda di saat yang sama, lalu bergantian, kembali bersama ketika tiba saatnya bersumpah Demi Tuhan atau Demi Setan, hingga akhirnya ia meletup seolah hilang kesabaran untuk memekik “uang bawa ‘tualang, sesat di jalan, menjauhi pulang”. Fase penutup yang harusnya cukup untuk menginspirasi anak-anak perantauan yang hobi gitaran di teras kostan untuk membawakan lagu ini, alih-alih balada kerinduan yang itu-itu saja selama dua dekade terakhir.

Doa 1Lagu paling catchy dan populer mereka hari ini, di mana Kharis dan Eki sahut menyahut tak mau kalah, yang menjadi semakin monumental ketika akhirnya mereka tampil di televisidan membawakannya, selagi salah satu hal yang mereka ‘komentari’ di lagu ini adalah televisi(selain subkultur indie dan Ahmad Dhani). Tidak perlu penguraian lebih lanjut, lugas dan bernas.

Malam Jatuh Di SurabayaMood kita diajak berubah seketika pada tembang paling khidmat di album ini, meski Kharis terdengar memaki, sejujurnya. Dengan gitar yang perlahan bergerak lebih intens, dan musical sawsebagai instrumenpendukung andal untuk menancapkan “sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari” sebagai kesan kontemplasi di tengah hiruk-pikuk kota. Walau kenyataannya saya sering mengganti keterangan tempat (Surabaya) dengan lokasi saya ber-sing along saat itu, hanya menegaskan kembali bahwa lirik dan rima yang garang macam ini, mana tahan untuk tidak ikut disenandungkan?

Sang JuraganMood kita diajak berseri lagi dengan tembang nakal yang sulit untuk tidak menyeret nama Iwan Fals ke sini, karena Kharis berdendang dengan nada dan gaya yang menyerupai beliau. Awalnya, Kharis mengambil perspektif pedagang miras yang jujur, dalam urusan tidak mencampur dagangannya dengan potas— bukan menyogok aparat. Sampai Eki datang, berdalih hidup kian keras, dan akhirnya memutuskan untuk berhemat dan mencampur pelbagai minuman jajaan dengan potas.

Aku Duduk MenantiSeperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya mendapati album ini terlebih dulu di Youtube, jadi saya agak bingung melihat indikator waktu di video tersebut masih tersisa sekitar 3 menit. Ternyata mereka belum berhenti sehabis mencampurkan potas, masih ada balada galau/risau/apalah yang selanjutnya nyaris tidak pernah saya seret ke pemutar musik ketika ingin mendengarkan penuh album ini, terlalu generik. Mungkin mereka menyertakannya sebagai penutup yang benar-benar ‘menutup’, mencoba bertanggungjawab seusai mencampur potas tadi. Umm… sebetulnya saya lebih suka membiarkan album ini berakhir dengan potas, atau malah meletakkan Malam Jatuh di Surabaya ke sini.

Itulah. Kalau diingat-ingat, saya baru sekali ke kota itu.Itu pun ketika ditinggalkan teman-teman seperjalanan-sepetualangan menuju ke tujuan pulang yang berbeda-beda. Yah, intinya saya hanya bengong saja di terminal, menunggu jam keberangkatan bis, tidak sempat ke tempat hiburan murah, apalagi Dolly.Malam belum jatuh, belum waktunya menyesap arak beras.Setidaknya kini saya bisa mengangkat satu topik terbaru ketika bertemu orang Surabaya atau kala sedang membicarakan kota itu, atau ketika sedang bertukar informasi tentang musik yang bagus baik dengan urban atau rural dudes. Dengan segala hormat kepada band-band ‘rock macho’ yang juga berasal darisana, saya akan mengangkat obrolan dengan, “Pernah dengar Silampukau?”

Words: Benjing @weldrone // Foto : Ketika Silampukau manggung di Omu, dari IG @lapaksiwang

December 16, 2015 at 04:11PM

Setelah berjalan satu tahun lamanya, kolektif Arisan Lazyfest akhirnya sampai pada putaran yang terakhir. Mari datang dan ramaikan! ;) Encore Music Cooperation Vol.5 bersama : The Triangle, Teman Sebangku, ZZUF, Munthe & KAITZR.

Sabtu, 19 December 2015 di Institut Français d’Indonésie (IFI) Bandung, Jl. Purnawarman 32. Market tenant mulai dari pukul 15.00 WIB & LIVE Music mulai dari 17.00 WIB – selesai.

Tiket PRESALE 20k & On The Spot 25k.

Tiket PRESALE tersedia di OMUNIUUM Jl. Ciumbuleuit 151 B lantai 2 (seberang UNPAR) Bandung.

Market : Simax Indonesia, Owloner, Omuniuum, The Throne Room & Hei Guys.

Mari bergegas membeli tiket, rayakan bersama teman-teman dan ingatlah, sebuah akhir yang manis akan menjadi memori untuk selamanya!

Artwork by : Amenk

#encoremusic #encoremusic5 #cooperation5 #musiccollective #lazyfest #bandung

December 16, 2015 at 10:06AM

Jangan lupa juga datang ke #hellprint2016 Kalo ngomong tiketnya mahal liat line upnya. Kalo kita sih ntar pengen nonton seringai ama devo dan buka booth sambil mejeng. Presale tiket kedua sudah tersedia di #omuniuum yah. Yuk! \m/

HELLPRINT UNITED DAY 4 – New Bloods, New Story – 7 Feb 2016 – Lap.Tegalega Bandung Presale Ke-2 – 75K #HELLPRINT2016

HELLPRINT UNITED DAY IV – NEW BLOOD, NEW STORY –

Minggu, 7 Februari 2016 Lapangan Tegalega Bandung

DYING FETUS • BURGERKILL • PAS BAND • SUPERMAN IS DEAD • SERINGAI • ROSEMARY • REVENGE THE FATE • DON LEGO • JASAD • KOIL • BILLFOLD • DEATH VOMIT • DEADSQUAD • TCUKIMAY • BESIDE • PURPOSE • EXTREME DECAY • ALONE AT LAST • PEMUDA HARAPAN BANGSA • XTAB • NOXA • TARING • FRAUD • TURTLES JR. • DOWN FOR LIFE • SCIMMIASKA • NECTURA • HUMILIATION • BLEEDING CORPSE • CARNIVORED • PAPER GANGSTER • BYEBYE BUNNY • PASCODEX • SUPERIOTS • DEAD WITH FALERA • TARING • FRAUD • TURTLES JR. • DOWN FOR LIFE • SCIMMIASKA • NECTURA • HUMILIATION • BLEEDING CORPSE • CARNIVORED • PAPER GANGSTER • BYEBYE BUNNY • PASCODEX • SUPERIOTS • DEAD WITH FALERA

10 Band Finalis West Java Invasion Dari 10 Kota :

BLOODY UNDERWEAR• GENITAL DISEASE • WALKER • HEGEMONY OF GOD • VEIN OF VALOR • BILLYGUN • LITTLE KID • OVERFUCK • GOD FORBIDDEN • SASUKU

December 14, 2015 at 10:33AM

Dalam rangka 11 tahun @rajasinga04, Negerijuana, label resmi merchandise dari unit grindcore ini merilis Raglan Sleeve #11thTetapBerasap yang resmi diluncurkan kemarin pada saat konser @limunas .. Hari ini bisa didapatkan di #omuniuum dengan harga IDR 150K tersedia size S M L XL XXL. Silakan dipesan via sms 087821836088 dengan format nama alamat pesanannya atau tentu saja langsung mampir ke jl. Ciumbuleuit 151b lt. 2 bandung. O ya jangan lupa tengok juga video klip single terbaru dari rajasinga, stoned maghrib di http://youtu.be/ItTfi0NFys8 selamat hari senin dan semoga harinya menyenangkan! ;) Repost @rajasinga04 ・・・ Official Release!

Raglan Sleeve #11thTetapBerasap !!

December 13, 2015 at 07:30PM

#KonserAlamRaja @limunas @rajasinga04 !!!

December 10, 2015 at 06:02PM

#11thTetapBerasap Rajasinga

11 Tahun Tetap Berasap  Kenapa 11? Kenapa bukan pas di angka 10? Jujur saja, karena kita lupa. Skip. Hehehe…  Mungkin karena kita larut sibuk dengan rutinitas bermusik di band, menulis musik, merekam album, dan manggung kesana-sini. Belum lagi soal kita bertiga yang saat ini menetap di tiga kota yang berbeda. Jarak dan komunikasi menjadi problema baru yang harus di hadapi. Tapi ya, bermusik harus tetap bisa jalan bagaimanapun caranya.

“Stoned Magrib” adalah single terbaru, yang kami lepas dalam bentuk video animasi pendek, dikaryakan oleh bassis/vokalis Morrg. Berangkat dari ide yang sangat sederhana, menuliskan ulang potongan petualangan Rajasinga, dalam kurun waktu sebelas tahun terakhir. Waktu berputar terus. Langkah sudah semakin jauh. Banyak tempat indah yang telah kami datangi, banyak juga yang mengerikan. Ada yang datar-datar saja, ada pula yang penuh konflik dan masalah. Kadang mendaki, kadang menurun terjal. Semua diumpamakan ke dalam sebuah saga fiksi singkat, yang dibungkus dalam kemasan video animasi.   Musik ditulis dan diaransemen oleh Biman. Menggunakan komposisi riff dan ketukan sederhana, dengan aransemen yang padat, dan isian melodi gitar yang meraung-raung. “Stoned Magrib” adalah lagu pertama yang diciptakan, persis setelah album RajagnaruK (Negrijuana Productions, 2011) diterbitkan. Lirik adalah gubahan Revan dan Morrg, pada suatu magrib di kota Bukittinggi Sumatra Barat, di tengah lembah Ngarai Sianok. Disela-sela tour, kami suka menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis, santai sejenak dan menuai inspirasi. Karena magrib itu selalu singkat, berhentilah sebentar, nikmatilah.  “Stoned Magrib” diambil sebagai single pertama dari album mendatang III: RAJASINGA. Saat video musik ini diterbitkan, album ketiga ini sedang ditahap post production, yang rencananya dikeluarkan resmi dikwartal pertama tahun 2016.

Bertepatan dengan hari ini, 10 Desember sebelas tahun silam, panggung pertama Rajasinga digelar. Dari situlah semua dimulai dan inilah Rajasinga, sebelas tahun kemudian. Hingga dihari ini, detik ini, kita masih tetap disini. Karena bermain musik dan berdiri di depan kalian semua, adalah sebuah kehormatan besar didalam hidup kami. Terimakasih kepada semesta alam yang telah memberikan kesempatan ini. Selamat menikmati persembahan dari kami.

SEGAN! #11thTetapBerasap

December 09, 2015 at 11:23PM

video klipnya canggih. :)

December 09, 2015 at 09:48AM

Baru tiba Ts ERK Banyak Asap di Sana – IDR 110,000. S M L XL. Pemesanan sms 087821836088 nama alamat pesanannya atau langsung saja mampir #omuniuum jl. Ciumbuleuit 151 b lt. 2 (seberang unpar, ruko sebelah CK). Mari! ;)

December 06, 2015 at 10:53AM

Baru tiba! TS Sore Haircut – IDR 135,000. S M L XL XXL. Pemesanan sms 087821836088 nama alamat pesanannya atau mari mampir #omuniuum ! ;)

December 05, 2015 at 11:11AM

Yok mari ramaikan!

#Repost @sorgerecords ・・・ Sorge Records present: ‘Mala Release Showcase’

A release showcase for Griffin’s Holy Grove full-length album, “Mala”

Friday, 11 December 2015 at IFI Bandung, jln. Purnawarman no.32

Ticket on the spot: Rp20k (Bonus Poster)

Also perform in this showcase: @Avhath (Jkt) @Lizzieband (Bdg)

This showcase also supported by: IFI bandung, KKBM, Omuniuum, and Suaka Suar Collective

#Mala #Release #Showcase #Griffinsholygrove #GHG #Progressive #Rock #Metal #December #2015