Terapi Urine: Kehidupan yang Vhana Ini

Pertama kali melihat Terapi Urine di sebuah gigs kecil di Unpar, di pesta sorge yang biasa diadakan setelah acara wisuda circa 2011, saya tertawa-tawa melihat penampilan mereka. Tampil necis ala pemuda yang bingung menentukan mereka hidup di tahun 70an atau 90an dengan minyak rambut dan sisir di saku belakang celana, membawa kerupuk aci sebesar pintu (jangan tanya saya mereka dapat kerupuk sebesar itu darimana), kaus kaki dan sepatu kets ala atlet dan musik grindcore yang satu lagunya tidak pernah lebih dari dua menit.

Saya pikir itu band jadi-jadian yang hanya bertahan sebentar, tapi kemudian saya bertemu mereka lagi, lagi, dan lagi di gigs yang lain dengan penampilan yang terus berubah tergantung mereka lagi mau jadi apa di panggung dengan stok lagu yang terus bertambah. Lewat pertemuan-pertemuan itu, kemudian saya tahu kalau mereka punya kemampuan dan keterampilan main musik yang lebih dibanding durasi lagu yang mereka mainkan. 

Menghindar dari pertanyaan apakah mereka serius atau tidak bermain musik dengan alasan bahwa mereka hanya bersenang-senang, ternyata layaknya band serius, mereka meluncurkan sebuah album. Judulnya Kehidupan yang Vhana. Artwork albumnya dikerjakan oleh Amenkcoy, seorang seniman lokal Bandung yang karyanya menggelitik dan kadang menohok indra penglihatan. Semacam pikiran kita tidak mau melihat tapi mata melihat kenyataannya ada terus di sana, saya merasa Amenk bisa menangkap spirit Terapi Urine yang nakal dan urakan.

Album ini berisi 15 lagu, beberapa diantaranya sudah sering dibawakan ketika mereka beraksi di panggung. Judul nakal semacam Dendam Kesumat, Wanita Fana, Bibi, Dedek-Dedek Urban rasanya akan menjamin kalau kuping yang asing dengan musik grindcore saja pasti akan tergelitik ingin mendengar apa yang coba mereka sampaikan. Dalam album ini,  mereka menggandeng teman baik mereka Indra Morg, Basis sekaligus vokalis Rajasinga yang dijebak untuk datang ke studio lalu ditodong ikut main bass dan menyanyi. Lalu kawan-kawan A.L.I.C.E untuk backing vocal dan juga ada Acha Al Maut istri dari Fahri Al Maut pangeran kegelapan Kelelawar Malam lalu Anes, pacar dari vokalis Terapi Urine yang menyediakan diri jadi nona manis yang digoda oleh abang-abang kurang ajar.

Ada ungkapan bahwa karya yang baik itu akan berbicara dengan sendirinya. Untuk ini saya tasbihkan bahwa meski baru awal dan tampak seperti tidak serius, entah kenapa, telinga ini mendengar ada banyak hal serius yang direncanakan dengan main-main pada unit musik bernama Terapi Urine ini. Selamat menikmati “Kehidupan yang Vhana”.

          Boit – penjaga warung Omuniuum yang dengan sukarela ditodong telinganya untuk menangkap dan menulis soal bebunyian dari Terapi Urine.  

Terapi Urine adalah unik grindcore yang punya personil bernama Aris Nugraha (Gitar 1), Qori Hafiz (Bass), Yunendra Adi Putra (Vokal), Fikry Yudhapratista (Drum) dan Andri Novaliano alias Joe (gitar 2), baru punya satu album bertajuk Kehidupan yang Vhana, sesekali kami bisa di temui di beberapa gigs kecil di Bandung. Harus berhati-hati pada pemain bass kami karena dia punya kecenderungan untuk memanjat properti panggung yang disediakan di venue,  diluar itu kami suka sekali pada dedek-dedek bercelana gemas yang sayangnya lebih suka music pop. Grauk!

Ts White Zombie - Monster Yell - M -  tag Gildan - IDR 245,000Ts Velvet Underground - Distressed Banana - M -  tag Tultex - IDR 245,000Ts Suicidal Tendencies - Possessed - M -  tag Hanes - IDR 245,000Ts Smashing Pumpkins - Dream - M -  tag Hanes - IDR 245,000

Imported Tee: All Item, a set on Flickr.

Banyak kaos impor baru datang yaaaa… marimari ditengoklah katalognya. :)

Baru datang nih, totebag the milo. Astronoutboys – 70ribu harganya. Kalo mau pesan sms 087821836088 nama alamat pesanannya ya. :)

Oleh-oleh dari #konserdaurbaur #pandaibesi efekrumahkaca foto oleh @nasrulakbar

Bagi sebagian orang, akhir tahun adalah liburan, bagi kami ini adalah saatnya berhitung. Menghitung nafas yang pernah dihembuskan, menghitung ulang  langkah, menghitung ulang banyak hal untuk bekal di tahun depan. Saya pernah bilang pada seseorang ketika sedang bernego soal harga, “abang kasih harga, saya nego, yang pasti saya ngga akan ngaku miskin bang, tapi saya juga bukan orang kaya.” Bisa dibilang saat ini itulah posisi Omu saat ini. Berada ditengah sebuah hal yang sedang tumbuh dan berkembang yang semoga menjadi positif dan bukan sebaliknya.

Hati kecil kami bersyukur setiap ada rilisan baru –apalagi kalau rilisan bagus yang masuk Omu, karena artinya akan banyak yang mencari dan membeli album itu dan otomatis untuk kami meskipun itu artinya kerja tambahan, hasil juga bertambah dan semoga itu kembali pada bandnya, bahwa apa yang dikerjakan juga menghasilkan meskipun jika dihitung, butuh jauh lebih banyak dari apa yang bisa kita kerjakan untuk mengganti waktu dan uang yang dihabiskan untuk rekaman.

Sepanjang tahun 2013 selain penuh oleh agenda konser yang menyenangkan – kami banyak belajar dan bekerja sama dengan berbagai acara, sebagai tiket box atau juga terlibat sebagai panitia, Limunas, Hellprint, FFWD, 3 Hundred, Kongsi Jahat, Bandung Berisik, Grind Fest, Maternal Disaster, Lengkah Maddah, Sunyaruri dan lain-lain –  sepanjang tahun ini juga ada banyak rilisan baru. Beberapa terdengar kencang, beberapa cukup terdengar, banyak yang hanya sayup-sayup atau mungkin malah tidak terdengar sama sekali. Kami punya beberapa catatan tentang rilisan yang mampir di rak pajang toko yang mungil sepanjang tahun ini.

The Sigit – Detourn (FFWD Records, 2013) – urutan pertama rilisan yang secara jumlah terjual paling banyak di Omu sepanjang tahun 2013. Rilis di bulan Mei dalam beberapa format, boxset, vinyl dan CD, menurut catatan kami ada 600 keping lebih cd Detourn – belum termasuk boxsetnya, yang terjual di toko kami. Kalau ada komentar yang bilang, yaiyalah itu The Sigit, kami akan bilang bikinlah album sebagus dan seserius mereka. Artworknya dipikirkan, materi digarap serius dan mereka masih selalu berbaik hati bercakap dengan para penggemarnya, menyempatkan diri untuk berbagi cerita bahkan disela-sela persiapan perhelatan terbesar mereka tahun ini, konser Detourn, mereka masih menyempatkan diri untuk berbincang langsung dengan penggemarnya. Belum lagi jadwal panggung yang padat yang membutuhkan tenaga ekstra. Track favorit kami di album ini ada di Red Summer dan Owl and Wolf.

Urutan kedua Mirror – Sarasvati (Sarasvati & Demajors, 2012). Jika diantara teman-teman yang bertanya kenapa album ini bisa masuk lagi urutan best seller padahal rilisnya tahun lalu dan di tahun lalu jadi urutan pertama, jawabannya karena dicatatan kami album ini masih terjual lebih dari 500 keping. Kalau ada lagi yang bertanya kenapa bisa ? Kami akan bilang, bukan kami yang menilai album ini layak dibeli atau tidak. Semua ada ditangan teman-teman. Mungkin masih banyak yang penasaran seperti apa bunyi album ini atau mungkin diam-diam, Sarasvati punya resep khusus untuk membina hubungan atau mendidik para penggemarnya. Di album ini kami suka lagu Mirror dan Solitude.

Untuk urutan ketiga, di bulan April, ketika ERK meminta kami untuk menjual cd ini secara khusus dengan jatah distribusi terbesar melalui Omu, kami harus berterima kasih kepada teman-teman yang sudah menjawab tantangan ERK. Persis dengan jumlah yang dititipkan kepada kami, 500 keping CD kompilasi ERK – RMX (Pavilliun Records, 2013) terjual habis. Kami juga cukup beruntung menyaksikan salah satu pengisi album ini, The Voyagers membawakan Insomnia pada konser Daur Baur beberapa hari yang lalu. Karena kami sudah tidak memegang satu keping pun dari album ini, kalian bisa mendengarnya disini: ERK RMX

Itu adalah 3 besar. Urutan selanjutnya adalah Sarasvati – Sunyaruri (self released), Melancholic Bitch – Re-anamnesis (pintukecillab, 2013, anamnesis – loverecord, 2005 ), Banda Neira – Berjalan Lebih Jauh (Sorge Records, 2013), Auman – Suar Marabahaya (Demajors, 2013), Sarasvati – Story of Peter(self released/Demajors, 2011), Payung Teduh – Dunia Batas (Ivy League Music, 2012) dan Pandai Besi – Daur Baur (Demajors, 2013).

Skena ini tidaklah besar, tidak seperti skena mainstream yang menurut dongeng rilisannya bisa terjual sampai ratusan ribu bahkan jutaan keping, akan tetapi dari sini, di sini kami menyaksikan banyak keajaiban. Cerita tentang menghargai kerja keras dan saling membantu dan sekali lagi, kami senang berada ditengah-tengahnya. Menjadi jembatan untuk banyak berita, cerita dan benda yang sampai ke tangan teman-teman semua.

Semoga tahun depan masih banyak rilisan bagus meski kemungkinan tahun depan adalah tahun politik, ada pemilu dan kemungkinan acara musik akan banyak berkurang. Semoga saja tidak karena toh, ijin masih saja mahal dan harus dibayar ada atau tidak ada pemilu.

Terima kasih atas kepercayaan teman-teman semua, selamat berlibur, selamat berkumpul bersama keluarga dan teman-teman tersayang, selamat merayakan tahun baru.

 Salam hangat dari ruang belakang Omu,

Boit

 P.S. Catatan tambahan, karena ini tulisan untuk sepuluh besar, maka urutan selanjutnya tidak ditulis, padahal, diurutan 11-20 terselip ssslothhh – Phenomenon, pendatang baru yang sayangnya tergeser dari 10 besar. Kami juga menunggu gebrakan baru, ayo, band-band muda, kerja lebih keras! :)

P.S. 2. Catatan akhir tahun tentang rilisan lokal yang berbahaya di tahun 2013 bisa dilihat disini: WordsbyBenjing

2013 hampir berakhir. Berikut adalah sebuah tulisan tentang rilisan lokal berbahaya, sebagai penanda tutup tahun 2013 dari Benjing. Nanti akan ada satu lagi tulisan penutup tahun dari Omu yang akan berbagi cerita tentang cd-cd yang paling dicari para pemburu rilisan fisik sepanjang 2013. Selamat membaca. — penghuni omu

Penghujung tahun selalu terisi dengan perenungan dan perancangan, sudah kemana serta mau kemana. Segalanya seakan dipepatkan pada saat ini. Mau berlibur kemana, adalah salah satu yang paling vital, sepertinya. Sebagai orang yang nyaris sepanjang tahunnya libur, saya akan membagikan ulasan tentang rilisan-rilisan yang menemani hari-hari tersebut. Dipersempit pilihannya hanya pada rilisan lokal dan dalam wujud CD serta unduh legal saja. Dengan dalih mayoritas dari rilisan luar yang saya dengarkan didapat melalui filesharing, serta saat ini tidak sedang memiliki pemutar vinyl dan kaset, maka saya mulai menyortir dan menelusuri deretan tanggal CD-CD tersebut di-rip. Tidak terlalu banyak rilisan yang hadir untuk menjebak saya ke dalam dilema. Namun yang jelas, dari daftar yang sedikit (sesuai selera) ini, kesemuanya tangguh.

Sebelum menuju ke daftar, album-album ini belum saya dengarkan ketika ulasan ini ditulis, kemungkinan layak untuk dimasukkan dalam Top 2013 AOTY versi telat:

Echolight – Gianni Porto Terapi Urine – Kehiduvan Yang Vhana Ini Godless Symptoms – Negeri Neraka Flukeminimix – Pulsating Star Tigapagi – Roekmana’s Repertoire Semakbelukar – Semakbelukar

Maka berikut ini, disusun alfabetis menurut judul album, rilisan-rilisan favorit saya tahun ini:

Banda Neira – Berjalan Lebih Jauh

Rindang, segar, ‘bersih’, hampir telanjang, ternyata merupakan formula ampuh untuk mengimbangi deretan penghuni setia playlist saya yang sebagian besar merupakan kebalikannya. Satu gitar, vokal pria-wanita, sesekali ditingkahi xylophone dan bass, sudah cukup. Untuk lirik, Banda Neira membagi porsi nyaris sama rata antara yang eksplisit dan implisit.

Track Berjalan Lebih Jauh, tak syak lagi mendamba untuk dipergunakan sebagai pengiring dokumentasi video perjalanan, atau yang paling privat, memenuhi segala aspek untuk tembang bangun tidur yang tepat guna. Senja di Jakarta, yang dengan gamblang mengingatkan dan memperingatkan akan pekatnya asap jalanan di kota tersebut, dengan cara yang manis dan ramah. Mawar, didekasikan untuk para korban yang ditindak oleh penguasa dengan cara penghilangan paksa. Rindu, musikalisasi puisi yang didekasikan untuk keluarga yang ditinggalkan para korban tersebut, dalam penggambaran kesepian yang nyata. Favorit saya adalah Di Beranda, yang melempar saya jauh ke bayangan tentang tahun-tahun awal ketika meninggalkan rumah, dimana menurut Ibu, Ayah masih sering coba membangunkan saya setiap pagi (akibat dari “tak usah kau cari dia tiap pagi”), sekaligus membayangkan saya berada di posisi yang sama nantinya, sebagai Ayah, tsk. Di tengah himpitan banyak rilisan meyakinkan dari ranah folk yang semakin marak akhir-akhir ini, komposisi minimalis seteduh hujan di mimpi ini, terbilang jaya.

Vallendusk – Black Clouds Gathering

Alih-alih diaransemen sambil duduk-duduk di kedamaian kaki pegunungan nun jauh di Cascadia sana, Vallendusk menciptakannya dari -saya kurang berani menerka berapa derajat perbandingannya dengan pegunungan tersebut- Jakarta. Tempat tak terduga untuk menghasilkan black metal kehutanan.

Saya menyempatkan diri melihat sekilas beberapa review dari luar yang mengulas debut album Vallendusk, semua menyebutkannya dengan harum. Dibandingkan dengan EP-nya tahun lalu, kesemua lagu di Black Clouds Gathering berdurasi di atas 8 menit dengan antusiasme yang setara, betul, sama sekali bukan pekerjaan ringan. Tidak mudah untuk mengelak dari kebosanan yang berpotensi hadir pada black metal yang diiringi folk serta post-rock secukupnya, dan mereka berhasil. Berhasil untuk tidak ‘hilang’, malahan dengan telak menjadikan pendengarnya untuk merasa ‘hilang’. Cukup ganas, sedikit perih, namun indah, sekaligus hangat. Hook-hook seperti melodi yang melintas tak terduga atau gitar akustik nan jernih yang menyeruak di antara rentetan rapid yang berjibaku lantas menimbulkan ketakziman. Paling tepat didengarkan ketika, wah, nggak tahu ya, saya mendengarkannya sepanjang tahun di kamar, di perjalanan, di gunung, mana saja. Kapan saja.

Pandai Besi – Daur, Baur

Pertama kali menyaksikan mereka di Joyland edisi pertama, saya agak skeptis, dan beberapa kali menguap. Saat itu saya membatin, bagaimana mungkin ada band yang berani mengacak-acak aransemen tembang-tembang lugas legendaris di Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap? Sekalipun itu Efek Rumah Kaca sendiri?

Sembari menanti Pandai Besi beraksi mengisi kejenuhan dalam proses panjang album ketiga Efek Rumah Kaca, telah beredar terlebih dulu ERK RMX, yang berisikan nama-nama andal benar-benar membawakan ulang tembang-tembang mereka, yang hasilnya saya sukai. Rasa skeptis perlahan memudar, hingga benar-benar sirna ketika Pandai Besi sendiri menghasilkan karya yang menawan bertajuk Daur, Baur. Dengan ketambahan beberapa lini seperti keyboard, terompet, dan vokal wanita, semuanya berbaur dalam mendaur. Saya pun kini bisa menyaksikan Pandai Besi dengan kadar khidmat yang sama kala menyaksikan Efek Rumah Kaca. Dan memahami ketika mereka memutuskan berpanjang-panjang dalam aransemen serta memasukkan bagian-bagian krusial pada lirik aslinya ke dalam pola repetitif yang menghantui sekaligus menghunjam, seakan memberi kedudukan dalam bentuk berbeda untuk penyingkapan syair milik Cholil untuk semakin wajib dikenang. Bukan main.

Frau – Happy Coda

Bayangkan keindahan Starlit Carousel yang telah tumbuh kembang menjadi lebih matang, itulah Happy Coda. Saking indahnya, saya tidak bisa mengulas sambil mendengarkannya. Seakan menjadi sebuah distraksi. Jika diperluas, Happy Coda adalah distraksi untuk segala aktivitas membosankan setiap harinya, atau rutinitas (untuk sebagian orang).

Sepaham dengan pernyataan Leilani sendiri, “Happy Coda adalah tentang kebahagiaan-kebahagiaan sederhana seperti itu.” Karena bagi saya, kebahagiaan sederhana (mengutip darinya lagi, “hingga badanmu merespon kebahagiaan itu dengan gejala-gejala menggelikan”), salah satunya adalah duduk manis mendengarkan album yang bagus. Happy Coda salah satunya. Susah untuk tidak merespon dengan gestur-gestur yang susah dijelaskan ketika pertama mendengarkan Water, hal yang sama mulai berlaku perlahan pada ketujuh lagu lainnya dalam setiap proses mendengarkan ulang. Dentingan Oskar, masih menjadi kawan, dan lawan sepadan, untuk setiap goresan dan guratan dari Leilani (terima kasih oh Dewata, dia ada), yang meninggalkan bekas dengan caranya tersendiri.

Morfem – Hey, Makan Tuh Gitar!

Memasukkan nama para pendahulu sebagai influence pada suatu ulasan, mungkin bisa saja meningkatkan kredibilitas. Namun, dengan minimnya urusan saya dengan indie rock dan sekitarnya, menjadikan saya tidak bisa sembarangan asal sebut nama seperti “ada rasa (nama musisi/band) di beberapa part”, serta tidak otomatis pula menghilangkan hak saya untuk memilih album kedua Morfem.

Hey, Makan tuh Gitar! belum apa-apa telah memberi kesan ngehe dari judulnya saja. Lirik-lirik lugas khas Jimi pun tentu masih cukup nikmat untuk disenandungkan, seperti mengharapkan waktu berhenti berputar sejenak di Senjakala Cerita, kisah mengenai tokek yang dimainkan bak surf-rock pada Legenda Berbalut Ngeri, riff rasa Anthrax (kredibilitas ulasan ini akan seketika naik derajat) pada Seka Ingusmu! hingga tentang tur menyenangkan yang diceritakan dengan menyenangkan pada Jalan Darat (Antiboring), adalah hal-hal utama yang mengantar album ini setia bertengger di playlist dengan cap Cerdas dan Taktis.

Matius III : II – Penghabisan

Bertobatlah, sebab kerajaan Allah sudah dekat. Begitu isi  pasal Matius tiga, ayat kedua (MTAD) yang diangkat menjadi nama oleh aksi termutakhir industrial metal asal Solo. Industrial metal dengan syair berbasis kitab suci, terdengar tidak baru. Memang sulit untuk tidak membandingkan MTAD dengan Koil. Namun, menolak variasi yang kompetitif tentunya terdengar kurang menarik, bukan?

MTAD memancarkan keagresifan meledak-ledak berpotensi merobek apa saja, yang dijejalkan ke dalam tembang-tembang berdurasi singkat yang memikat. Beberapa tembang yang sudah pernah diturunkan sebelumnya kini hadir dengan beberapa modifikasi, diselingi tiga interlude, dan semuanya diawali dan diakhiri masing-masing oleh Konselebran dan Nema, untuk mengemas Penghabisan dalam wujud yang lebih nyata. Terdengar berserah diri dan berdoa meminta keselamatan (Selamatkan Aku), menyampaikan bahwa tujuh malaikat mengambil alih surga manakala gema apokaliptik berkumandang (Sangkakala Terakhir), memberitakan sembari mewanti-wanti dan mengutuk (Penghabisan), serta mengisahkan ulang tentang Hawa dari sudut pandang Adam yang, bagi saya, terasa romantis (Dosa Manusia Kedua). Setelah mendengarkan kesemuanya, pendeklarasikan diri sebagai sayap kanan ajaran Vatikan yang salah, yang datang dari neraka bagian selatan, turut pula padanya mentahbiskan kiamat, tentunya tidak bisa dianggap ancaman kosong.

SSSLOTHHH – Phenomenon

Ssslothhh kembali setelah tahun lalu memperkenalkan diri dengan EP berjudul Infinite Fracture. Phenomenon hadir tanpa banyak perbedaan, selain sound yang terdengar lebih rapih, dan menghadirkan beberapa musisi tamu untuk menghadirkan varian lagu yang berbeda. Satu perbedaan paling kentara adalah track Wooden Strings, dengan kutipan dari film Network, yang meski kelewat sering digunakan oleh band lain seputar post-metal/post-rock, namun disajikan dengan rasa yang berbeda oleh Ssslothhh dengan petikan gitar a la neofolk. Selebihnya, Ssslothh masih menghantarkan atmospheric sludge metal tanpa tedeng aling-aling. Masih dengan riff-riff menantang yang bahkan kian garang. Masih dengan karakter vokal yang memilukan. Meski tahun ini ada banyak album-album hebat pada genre yang similar di luar sana, Phenomenon tetap masuk ke dalam favorit saya. Ya, seistimewa itu. Silakan didengarkan dalam kondisi apapun, tidak banyak yang bisa saya sampaikan lebih lanjut, ah, seperti jatuh cinta yang tak butuh alasan saja.

Melancholic Bitch – Re-Anamnesis

Mungkin kurang tepat untuk disebut sebagai album tahun ini, mengingat ini adalah versi repackage dari album pertama mereka, Anamnesis. Tapi, ya udahlah ya, versi lengkapnya ada di sini (http://omuniuum.net/review-melancholic-bitch-re-anamnesis/).

((AUMAN)) – Suar Marabahaya

Debut album segar nan segan dari selatan Sumatra milik band yang seganas imejnya, Harimau Sumatra, selengkapnya di sini (http://omuniuum.net/review-auman-suar-marabahaya/).

Vlaar – S.A.T.R.V

Sekurang-kurangnya dua kali saya melintas Desa Svkatani. Tampak luarnya sama sekali tidak megisyaratkan bahwa di sana bersemayam setidaknya dua band keterlaluan, Bvrtan dan Vlaar. Vlaar sendiri adalah orkes mvsrik versi lebih-nyata dari Bvrtan (karena live-nya bisa kita saksikan), dengan penjabaran lirik yang lebih universal, meski setengahnya berkisar tentang pekerjaan. Sebagian sisa dari S.A.T.R.V (Svkatanian Agrikvltvral Thrash Raw Vgly) mengisahkan tentang perjudian di pos ronda, para pemuja setan, bahwa mereka penjual jamu dan mansion yang rajin puasa Senin Kemis, atau memelihara bandot. Thrash punk nan catchy, (blak metal, menurut mereka, ya, blak), dengan lirik-lirik semacam “Anti menjilat kaki atasan.. Anti menjatvhkan karir teman”, “Dialah pemvja setan.. Namanya jvga seram di sitvs jejaring sosial”, hingga “Personil JKT48 ingin akv jadi PNS..” adalah hal yang nyaris mustahil untuk dilewatkan. Apalagi dalam kondisi bebas unduh. Oh ya, sempatkan juga untuk melihat bagian belakang kovernya dimana ditampilkan kedua personil Vlaar yang tampaknya sedang nongkrong asyik nan bersahaja di beranda Balai RT. Argumenmu tidak sahih.

Beberapa rilisan kesukaan lainnya, tidak diulas lebih lanjut karena hal-hal seperti saya-mau-nulis-apa-saya-ga-ngerti, malas-aja-nulisnya, dan yaelah-tak-perlu-penjelasan-lagi:

Zoo – Akustik The S.I.G.I.T – Detourn Deadly Weapon – Disillusional Blurs Eyefeelsix – Illmortality Senja Dalam Prosa – Kala (EP) White Shoes & The Couples Company – Menyanyikan Lagu2 Daerah Spaceandmissile – Play, Rewind, Erase Suarasama – Timeline

 Begitulah. Sampai jumpa di tahun 2014, semoga: 1)tidak ada yang terlewat 2)jadi tahun yang indah.

(words: Benji. Photos Berbagai Sumber)

#pandaibesi #konserdaurbaur @sebelahmata_erk

Jejak riwayat pameran foto @shutterbeater untuk @sebelahmata_erk #pandaibesi #konserdaurbaur

Wish you happy holiday, merry christmas and tons of luck in 2014. ;) Xoxo, Keluarga Omuniuum.

Menjelang malam #littleomu diwarnai hitam oleh #kehidupanyangvhana @terapiurine @maternal_disaster & substance recs. 😎

Lagi workshop di #littleomu ama @vantiani bikin ulang cover buku/cd. Ihiy! :)

Rilis hari ini, Terapi Urine #Kehidupanyangvhana !! Jadi ini albeum udah cukup lama mau rilis. Kita udah denger materinya dari beberapa waktu yang lalu, teuinglah pokoknya cukup lama. Musiknya grind, liriknya bikin ketawaketiwi. Menurut banyak orang, menghibur dan seru dan materinya bagus. Manggungnya meskipun bikin ngakak tapi skillnya cukup mumpuni buat diteriakin adik-adik gemets (meski sayangnya yang datang ke acara mereka ternyata lebih banyak cowokcowok pake kupluk). Cdnya seharga 35rb bisa dibeli di #omuniuum mulai hari ini. Mari! ☺️☺️

Workshop collage your fav cover w/ @vantiani at #littleomu terbatas, mari daftar! :)

Konser Rebel Meet Rebel Iwan Fals, Burgerkill, Naif, The SIGIT dll.

Sabtu, 21 Desember 2013

Lapangan Brigif, Cimahi, Bandung

Open gate : 10.00 WIB

  • Presale : Rp. 20.000,- tersedia di Omu. :)

Ts Sarasvati - Sunyaruri - IDR 135,000Paket Istimewa Sunyaruri Totebag, Buku, CD, DVD dll IDR 225,000Cd Sarasvati - Sunyaruri Ep - IDR 35,000Buku Sunyaruri - Risa Saraswati - IDR 65,000

Sarasvati, a set on Flickr.

Untuk yang nyari Sunyaruri. silakan.. :)