Selamat malam Jumat… Sampai jumpa di Lengkah Maddah!

Beberapa hari sebelum tanggal ditentukannya rilis ep ini, Barus bilang pada saya untuk menulis review. Hm, bukannya tidak tertarik, tapi saya tahu diri. Sebagai anak baru gaul yang berusaha mengikuti fenomena skena musik lokal, ada banyak hal yang tidak saya ketahui, baru kenal atau saya tahu orangnya, tapi tidak tahu dulunya seperti apa, dan Balcony meski saya sudah lama mendengar namanya termasuk hal baru bagi saya. Nah, untungnya, saya ada di lingkaran teman yang tepat, yang banyak mengajarkan dan bercerita tentang ini dan itu. Kali ini saya meminta sahabat baik saya, drummer Rajasinga, Revan Bramadika untuk bercerita soal Balcony. 

– Boit

Menyambut rilisnya EP 6 Reunion Song.

Silakan.. :)

***

Balcony masih tetap Balcony.

Pengalaman audio saya bersama Balcony, dimulai dari kaset rekaman tidak resmi bersampul fotokopi dengan judul “Instant Justice” (1997). Saat itu tahun 1998. Kaset rekaman yang bersuara buram ini sampai ke tangan saya dari seorang teman SMA yang baru saja pulang berlibur dari Bandung. Saya lihat, dia punya yang asli. Mungkin karena takut kaset itu rusak tergulung kusut di player saya, maka dia salinkan satu album untuk saya. Semenjak itu, kaset ini tidak pernah keluar dari walkman milik saya, terus berotasi. Hingga suatu hari, kaset ini disita pada sebuah razia di sekolah. Tapi tenang, tinggal saya rekam ulang masalah selesai.

Sampai akhirnya ditahun 2002, Gedung Dago Theehuis “Puppen Last Show Ever”, adalah konser Balcony yang pertama untuk saya. Sesuai dengan ekspektasi, saya gembira sekali bisa berada disana saat itu. Terus terang, saya tidak begitu paham dengan klasifikasi aliran musik secara mendetail. Yang saya pahami, Balcony memainkan musik yang KERAS. Seketika, saya memutuskan untuk mengikuti Balcony sebagai penggemar selama lebih kurang setahun kemudian mereka bubar. Lumayan lah, dari pada tidak sama sekali.

Paska bubar, saya tau beberapa personil Balcony masih aktif bermain musik. Oleh karena itu, saya sangat yakin kemungkinan untuk reuni masih terbuka lebar. Optimisme saya terbayar di tanggal 21 Oktober 2011. Ketika mendengar dari Kiki (Injected, bassist) bahwa Balcony akan menjadi tamu spesial dipesta rilis album terbaru mereka. Pekerjaan di Ibukota saya tinggalkan. Siang bolong tanpa kompromi saya pulang ke Bandung. Malamnya, pesta di moshpit super liar. Yeah Balcony dan agresi musiknya memang tidak tergantikan. Sejak malam itulah kabar burung tentang Balcony akan merekam album baru mulai terkicau.

Hari yang ditunggu datang juga. Bermula dari keluarnya single terbaru Balcony “Kafir” diujung 2012, setelah sembilan tahun tidak merekam apa-apa. Saya beruntung mendapatkan rilisan fisik berupa CD berisi satu lagu ini. “Kafir” milik saya bernomor seri 201 dari 500 keping yang beredar. Single ini menjadi penawar rindu yang ampuh. Balcony masih tetap Balcony.

Lebih kurang sebulan kemudian, ditahun yang berbeda, sebuah mini album “Reunion EP” resmi dirilis. Saya mendapatkan paket berisi CD, Poster, dan Tshirt, dihari pertama rilis di Omuniuum. Sekali lagi, Balcony memenuhi ekspektasi saya. Tidak lebih tidak kurang. Mini album ini semacam rekapitulasi dari perjalanan karir musik Balcony. Berisi tujuh lagu yang tiga diantaranya merupakan rekaman ulang, yang diambil dari tiga album terdahulu masing-masing satu. “Flower City” dari Instant Justice (1997), “Spreading the Chaos” dari Terkarbonisasi (1999), dan “Ini Sudah Cukup” dari Metafora Komposisi Imajinar (2003).

Tiga lagu baru yang disajikan di mini album ini, “Aku Menolak”, “Koloni Hitam”, dan “Kafir”, tidak macam-macam, tidak rumit. Komposisi riff gitar dan drum, harmonis dalam groove yang sangat sederhana namun catchy, dengan solo gitar yang melodius. Suara vokal yang dinyanyikan Barus, kini terasa lebih berat dan parau. Seperti biasa, banyak bagian sing along yang disediakan. Kita disuguhkan lirik yang mudah untuk dinyanyikan, mudah dicerna walau terdengar kasar dan tidak manis. Oleh karena itu, saya rasa lirik Balcony tidak baik untuk dibaca oleh para pendengar di bawah umur, dan guru agama.

Yang paling membuat saya terharu di album ini yaitu sebuah lagu bertajuk “Memoar ‘98”. Siapa yang mungkin lupa split album Balcony Vs. Homicide “Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan” (2003)? Album inilah yang mengenalkan saya pada Homicide. Gerombolan ini kembali bersatu. Mereka memanggil kawan-kawan lama. Mengingatkan kembali masa jaya tongkrongan Harder, Cihampelas 98, tempat dimana saya membeli album split ini sembari curi-curi pandang abang-abang musisi yang duduk mabuk di pelataran parkir. Saat itu saya masih takut menyapa. Seperti mereka, saya pun punya nostalgia pribadi yang beririsan dengan lirik yang tertulis di lagu ini.

Kesimpulan. Balcony tidak pernah membuat album yang sama. Belum pernah mengecewakan. Tiap album selalu punya berita, cerita, dan cara yang berbeda. Tidak semua band melakukan hal ini. Sama seperti album pertama, album terakhir ini akan selalu berotasi di ruang musik saya. FLOWER CITY HARDCORE RULES!!! +rvn+

 

ps:    Satu hal yang diluar perkiraan, saya mengira ilustrasi sampul album “Reunion EP” ini adalah karya Pushead. Ternyata bukan, melainkan hasil tangan Fajar Sukmajaya a.k.a. Dawncore. Bravo!