Memasuki tengah bulan puasa yang merupakan bulan suci ini, marilah kita bersama-sama mendoakan Kak Katy Bon agar persiapan pernikahannya lancar sentausa dan juga semoga ujian Kak Gendat juga lancar, amin. Selagi kedua orang itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing, siang tadi ada kiriman surat elektronik dari Mas Bram berisikan review album terbaru dari band kesayangan kita yang katanya menyegankan. Mari kita membaca, ugh!

Rajasinga | Rajagnaruk |Demajors | IDR 30,000

Seks bebas adalah kata pertama yang terbesit dalam pikiran saya saat mendengar nama band ini. Dilanjutkan dengan kata “infeksi kronis” dan “pengaman”. Mengapa? Karena, kalau Anda belum tahu, rajasinga ini adalah nama penyakit kelamin yang diakibatkan oleh seks bebas dan menyebabkan infeksi kronis pada penderitanya. Solusinya hanya satu, cegahlah dengan menggunakan pengaman.

Walaupun Rajasinga dalam konteks ulasan ini tidak ada kaitannya dengan penyakit rajasinga tersebut, tapi Anda tetap membutuhkan pengaman. Namun, bukan pengaman seperti itu. Pengaman yang Anda butuhkan adalah pengaman untuk kedua telinga Anda. Kenapa? Karena mereka akan dihajar habis-habisan oleh Rajasinga dalam album Rajagnaruk ini!! ugh yeah

Sedikit sejarah singkat tentang Rajasinga. Band yang digawangi oleh Morrg (vokal & bass), Biman (gitar & bass), dan Revan (drum) ini telah berdiri sejak tahun 2004. Sebuah album live demo, mini album, dan full album telah mereka rilis sebelum akhirnya pada tahun ini mereka merilis Rajagnaruk.

Oke, masuk ke album. Hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah judul albumnya. Rajagnaruk? Awalnya saya mengira rajagnaruk ini adalah semacam dewa dari mitologi Nordic, tapi kemudian saya tersadar kalau para personil Rajasinga tidak memakai eyeliner ataupun memainkan musik black metal. Pasti bukan itu. Atau mungkin rajagnaruk ini adalah bahasa Ibrani untuk rajasinga? Bisa jadi. Tapi setelah melakukan konsultasi ke Google Translate, ternyata jawabannya bukan. Lalu saya pun tersadar setelah membalikkan kata tersebut, ternyata menjadi sebuah kosakata yang begitu kickass : kurangajar. Cadas bray!!

Tapi memang album ini secara harafiah menurut saya kurang ajar. Mengapa? Karena setelah mengeroyok kedua telinga saya habis-habisan dalam satu putaran, dia meminta saya untuk mengulanginya kembali.  Saya pun melakukannya…. lagi… lagi… dan lagi! Terus menerus!! Benar-benar tidak tahu malu. Seberapa kurangajarnya album ini dapat pula disimak dari lirik-lirik bertemakan sex, drugs, dan rock & roll yang begitu kental di seluruh album, namun tetap dibawakan dalam nuansa yang humoris oleh Rajasinga. Sekedar cuplikan, simak track Ujung Tombak (“Gerbang Nirvana telah terbuka / telah terhunus ujung tombak“) dan Roda Roda Gila (“Adrenalin berkuasa / hati tak seluas samudera / polisi tidur kami gilas!!). Selain itu, bicara soal judul lagu, Rajasinga cukup nakal juga memberi judul yang membuat orang berpikir. Coba, angkat tangan siapa yang bisa langsung paham arti dari N.A.D. Kush, 99%THC 1%Skill, dan favorit pribadi saya, Kokang Batang?

Dari departemen tata suara, walaupun mengatasnamakan grindcore, namun metal yang Rajasinga bawakan tidak selalu ala Napalm Death atau kerabatnya Pig Destroyer. Memang, album ini penuh dengan musik yang bertempo cepat, gebukan drum yang menggebu, growl yang membabi buta, serta distorsi yang padat karya. Namun, ada juga lagu-lagu anthemic yang sekiranya dapat dipakai untuk karaoke berjamaah di sebuah ritual bernama moshing. Coba dengarkan track pembuka Anak Haram Ibukota dan Angkasa Murka, dijamin mulut ikut komat-kamit.

Akhir kata, segera genggam CD ini, bayar di kasir, masukkan ke dalam CD player, dan nikmati dengan khidmat. Hati-hati, headbanging yang terlalu brutal dapat mengakibatkan sakit kepala dan gejala muntah, tapi di samping itu dapat juga membuat Anda puas dan lega selama 7 hari 7 malam. SEGAN UNTUK RAJASINGA!!

P.S. Ugh! Ugh! Ugh! Buat kalian yang mau order CD-nya langsung kontak 087821836088 atau silakan via email order@omuniuum.net. Kalau mau kirim penganan, tajil atau kue lebaran, silakan langsung kirim ke Ciumbuleuit 151 B lantai 2 Bandung. Kalo mau curhat, ngajak ngobrol dan lain-lain bisa via twitter kita @omuniuum. Salam ugh! 

Berjumpa lagi dengan Kak Gendat, karena Kak Bram lagi sibuk dan tanggal pernikahan Kak Katy Bon pun makin dekat. Kali ini dia membahas Morfem, mari membaca..

Morfem | Indonesia | Demajors | IDR 25,000

Inilah dia super group yang sedang semarak menjadi buah bibir di mana-mana, mengapa super group ? Karena personil dari Morfem ini masing-masing memiliki band yang sudah malang melintang di dunia persilatan musik indie. Sebut saja Jimi (The Upstairs) pada vokal, Pandu (The Porno) pada gitar, Bram (JARB) pada bass, dan Freddie (Nervous Breakdown) pada drum. Pasti udah pada tau lah orang-orang yang saya sebutkan itu, kalau tidak tahu, sekalian kenalan dan yak, saat ini mereka tergabung dalam Morfem.

 Morfem baru saja mengeluarkan sebuah album yang dikasih ngaran “Indonesia” pada tahun 2011 ini, mengapa “Indonesia”, dugaan saya sih mungkin karena mereka semua berasal dari Indonesia dan kebanyakan lirik mereka menggunakan bahasa Indonesia, silahkan mau yang mana tinggal pilih aja.. Hehe!! Yang pasti di kuping saya yang ga bagus-bagus amat ini, album mereka terdengar sangat Indonesia.

 Baiklah sekarang saya akan membahas dari artwork dulu, secara artwork mereka lebih memilih menempelkan banyak foto (mungkin sebagai dokumentasi juga..), jadi kalian bisa dengan bebas melihat-lihat foto-foto mereka (entah sedang perform atau sekedar bergaya sebagai cover album) yang kebanyakan berwarna hitam-putih, terkesan jaman dulu namun sangat sophisticated sekali.. Haha!!.

 Mulai kita masuk kedalam track yang ditawarkan oleh Morfem, track pertama kalian akan di kenalkan dengan Gadis Suku Pedalaman, yang bila dibaca liriknya tentang sebuah perjalanan seorang gadis yang pasti dari suku pedalaman. Dia tampak mencoba mencari peruntungan di kota besar dan yah gitu aja sih.. Track ini pun dipilih sebagai single pertama mereka, lalu di track ke-5 ada Pilih Sidang Atau Berdamai yang video klipnya sudah bisa kalian nikmati di you tube atau channel televisi nasional yang menayangkan program musik, yak simple saja ini adalah potret kehidupan seorang pelanggar lalu lintas dengan pihak berwajib.. Track ini pun kalau tidak salah dipilih sebagai single kedua mereka. Track yang lain asyik-asyik, tapi  seperti peribahasa yang diajarkan dulu di bangku sekolah, tak kenal maka tak sayang, lebih baik kalian lari ke toko CD terdekat dan beli CDnya dan dengarkan sendiri.

Untuk sound dan musikalitas, kalau dari segi sound saya tidak akan berbicara banyak, intinya adalah apabila kalian mendengarkan band-band yang bermunculan di era 90an, mereka cukup mewakili sound dan musik generasi saat itu. Bunyi gitar yang meraung-raung dan kasar ditambah sedikit noise, lalu untuk pemilihan chord pun simple tidak yang membuat para pendengarnya harus berpikir.

 Secara keseluruhan album dari super group ini layak didengar dan didendangkan sambil angguk-angguk kepala tentunya, jadi album ini wajib kalian miliki, dan baik juga untuk kawula muda mudi jaman sekarang.

 

-sigendat-

 

P.S. Yiha! Kalo kalian mau order CD-nya langsung kontak 087821836088 atau silakan via email order@omuniuum.net. Begitupun kalau mau kirim surat cinta, keluhan, curhat atau mungkin ngajak kerjasama. Jangan lupa follow twitter kita @omuniuum untuk interaksi yang lebih asyik tentunya. sekali lagi yihaaaa!

Voyeurisme

Galeri Gerilya Jl. Raden Patah no. 12, Dago — Bandung 13-21 Agustus 2011 18:00-23:00

————————————— Pembukaan: Sabtu, 13 Agustus 2011 18:00*

Diskusi terbuka: Rabu, 17 Agustus 2011 18:00* + Bersama Bambang Sugiharto, Tisna Sanjaya dan Sudianto Aly

*setelah acara buka bersama

—————————————​—————————

Kotakotak Muhammad Akbar R. Baskoro Gondokusumo Recycle Experience Reza Farnanda Risanda Adisaputra Tania Hazriandiba

Kurator: Sudianto Aly

—————————————​—————————

Bekerjasama dengan: Omuniuum Kineruku Komunitas Telor Asin