11 Juni 2011

@LAP.BRIGIF CIMAHI WEST JAVA, INDONESIA

Line up BURGERKILL – JASAD – SERINGA I- FORGOTTEN – DISINCFECTED – ROSEMARY – KOMUNAL – BESIDE – JERUJI – DOWNforLIVE – CRANIAL – SCREAMINGfactor – BLEEDING CORPSE – CRYPTICAL – OUTRIGHT – INFAMY – PARAU – TCUKIMAY – TURBIDITY – GUGAT – GODLESS SYMPTHON – AFTERCOMA

Tiket = gelang. Dengan gelang ini, Anda dapat bergerak, meninggalkan dan kembali masuk ke area festival setiap kapan saja. Setelah Anda melepaskannya atau hilang, Anda mungkin tidak kembali memasuki area festival. Semua orang yang ditemukan dalam wilayah festival tanpa gelang ini akan segera dikeluarkan dari area pertunjukan.

 

Informasi harga tiket :

Tiket presale 1 (online) : Rp. 25.000
Tiket presale 2 (distro) : Rp. 30.000
Tiket on the spot : Rp. 50.000

 

Tiket juga dapat dipesan melalui tempat yang telah terdaftar sebagai official ticket booking Bandung Berisik 2011.

Rock & Rebel Bandung

Dark Castle Bandung

Chronic Bandung

Pieces (Cihampelas) Bandung

Pieces (Ujung Berung) Bandung

Remains Bandung

Omunium Bandung

Aesthetic Bandung

Hellicon Bandung

Errorizershop Bandung

Commonroom Bandung

BraderHood Bandung

Gemlook Cicalengka

Mendo Majalaya

Blackhouse Sukabumi

Rottrevore Jakarta

Negative Shop Malang

Idol Makassar

Yessi Yogya

Belukar Solo

Paraw Bali

 

Rundown Bandung Berisik

Website

Preorder Album Baru Rajasinga | Rajagnaruk

Tersedia size S, M, L, XL S 51 x 72 M 53 x 74 L 55 x 78 XL 58×80

Pemesanan dibuka mulai tanggal 20 Mei – 5 Juni 2011

Pengiriman mulai tanggal 6 Juni 2011 bagi yang sudah melakukan transfer pembayaran. Harga belum termasuk ongkos kirim.

Pemesanan via sms ke 087821836088| nama | alamat | pesanan|size

Pemesanan via email ke omuniuum@gmail.com | nama | alamat | pesanan | size | no. telp

Setelah tgl 5 JUNI 2011 – Harga Tshirt menjadi 120ribu dan CD 30ribu. Bisa di beli terpisah. \m/

Rajasinga berawal dari sebuah “joke”. Sebenarnya tidak pernah diniatkan untuk serius, atau bermimpi jadi musisi kondang. Tercetus di pertengahan tahun 2004, dengan semangat untuk membuat band keras dan cepat. Setelah bergonta-ganti personil, hingga pada akhirnya mentok di Morrg (vokal, bass), Biman (Vokal, gitar), Revan (Drum, dan kadang-kadang bernyanyi).

Rajasinga terbentuk dari orang-orang yang over dosis oleh musik Heavy Metal dan Rock. Maksud sebenarnya ingin bikin band seperti ROTOR, tapi ternyata skill tidak kesampaian. Yasudah, mainkan musik yang bisa dimainkan sajalah…

Ditahun 2006, Rajasinga mengeluarkan rekaman Live-Demo. Dari album cd-r berkover potokopi inilah semuanya bermulai. Kemudian ditahun 2007 merilis album resmi pertama bertajuk “PANDORA” dibawah bendera Strain Eyes Productions. Album ini disambut dengan “Spreading the Plague Tour 2007” (Singapura-Malaysia-Thailand). Kemudian, dilanjutkan dengan “Babat Tanah Leluhur Tour 2008” (Jawa-Bali). Tercatat 1000 kopi CD telah terjual.

2009, Rajasinga kembali merilis album Live bertajuk “NEVERGRIND”. Album ini didistribusikan sebanyak 100 kopi pada saat manggung, dan melalui download dari internet, sebagai album digital.

Ditahun 2011, Rajasinga membakar obor berikutnya untuk album kedua bertajuk “RAJAGNARUK”. Dialbum ini Rajasinga lebih banyak melakukan eksperimentasi dari penyusunan materi, aransemen, sound, syair, dan packaging. Terdapat 14 trek lagu yang bermuatan musik cepat dengan syair yang tidak bersahabat. “Kami selalu menulis musik yang ideal, tanpa harus idealis”

Untuk distribusi album, CD Rajagnaruk bisa dipesan melalui mekanisme preorder pada hari ini, 20 Mei 2011, sebelum nanti disebar melalui distribusi nasional setelah tanggal 6 Juni 2011. Dalam rangka promo sekaligus launching album barunya, Rajasinga melakukan perjalanan ke negara tetangga, Malaysia. Berikut jadwal dan tour mereka :

RAJAGNARUK malaysia promo tour 2011 (19-25 may 2011)

20 may – Moe’s Studio, Kota Kinabalu, Sabah (eo: Cognoscere Recs) 21 may – Borneo Grindfest, RAZZMATAZZ, Kota Kinabalu, Sabah (eo: Cognoscere Recs) 22 may – RAJAGNARUK Release Party, MyEvo, Ampang, Kuala Lumpur (eo: Ricecooker Shop, Skullitica, PissArt Recs, Pure Minds Recs)

[+RVN+]

DISCOGRAPHY: 2006 – “Killed by Rajasinga” Live Demo Album (Negrijuana Records) 2007 – “Pandora” Debut Full Album (Strain Eyes Productions) 2009 – “Nevergrind” Mini Album (Negrijuana Records) 2011 – “Rajagnaruk” 2nd Full Album (Negrijuana Records) The GrindRockers are: Morrg (Bark, 4 String) Biman (Roar, 6 String) Revan (Skins)

Contact: p: 081320424003 (revan) | 08119933848 (ojie) e: grindcoresinga@yahoo.com w: http://www.rajagnaruk.wordpress.com | http://www.reverbnation.com/rajasinga

Berikut kisah Kak Katy Bon yang diganti oleh Mas Bram …

Dimana kak Katy Bon? Masyaallah! Tatkala itu Mas Bram mencari Katy Bon, ia medapati Katy Bon sudah berhari hari lamanya terjebak di mulut singa. Ini adalah hasil dan konsekwensi seorang Katy Bon sang petualang. Demi mencari ilham me-review album Kelelawar Malam, dan mendalami perannya sebagai reviewer, kak Katy Bon ingin merasakan pengalaman Horror dan near death experience itu, berguru pada sirkus keliling, ternyata rambut keriting kak Katy Bon dan paras ayu nya, cukup menawan sang Singa jantan, jadilah ia tak rela melepaskan kak Katy Bon tersayang kita.

“Katy Bon!”, Mas Bram memanggil.

“Ya..!! Ya..ya..ya..ya..”, suaranya bergema dalam mulut singa jantan kasmaran itu.

“Astaghfirullah”, rapel Mas Bram spontan religius. Paras rupawan a la Ongky Alexander dan terinspirasi berat oleh Boy di film-film catatannya, membuat Mas Bram berusaha se-religius Mas Boy…walau sulit…ia tidak akan dengan serta merta istighfar dan menutupkan kain pada tubuh Meriam Belina sambil istighfar jika sedang terpapar pasrah di hadapannya, layaknya yg Mas Boy lakukan. Yah, apalah daya, kan yang penting usaha. Baiklah, demi untuk kelangsungan rubrik review ini pun, Mas Bram menunjukkannya kebolehannya sementara kak Katy Bon berusaha keluar dari mulut singa.. literally..

Kali ini Mas Bram akan mereview album dari Kelelawar Malam. Apa kata Mas Bram? Apapun itu, yakinlah..apa yang dikatakan Rudi!! eh, Mas Bram.

“Gimana Maaass?”

“Edan”

Kelelawar Malam | Demajors | IDR 35,000

Hmm.. Sebenarnya, satu kata “edan” itu saja sudah cukup untuk dijadikan review album self-titled Kelelawar Malam ini, namun karena ini adalah malam jumat dan konon katanya pada malam jumat doanya harus panjang2, maka review ini pun harus agak panjang isinya biar lebih afdol dan mabrur.

Oke, keedanan dari album ini dimulai dari saat saya membaca nama para personil dari Kelelawar Malam. Sayiba Von Mencekam, Deta Beringas, Fahri Al-Maut, dan Apin Kiamat. Memang betul Mas Shakespeare pernah bilang “apalah arti sebuah nama?”, tapi nama-nama seperti ini membuat keempat punggawa horror metal punk Kelelawar Malam terkesan lebih total dalam konsep mereka! (sempat terbesit dalam pikiran saya bagaimana seandainya itu benar2 nama asli mereka? sungguh rock n’ roll pastinya).

Kemudian artwork nya. Yes, artwork nya! Artwork yang terdapat dalam tiap halaman sleeve album menggambarkan dengan sangat apik “cerita” yang terdapat di dalam setiap lagu. Ilustrasi yang kelam dan gelap namun tetap elegan mampu menyedot imajinasi kita untuk benar-benar merasakan kepedihan, kengerian, ke-bulu-kuduk-yang-berdiri-an, dan ke-an2 lain yang ada di dalam tiap lagu. Well, setidaknya itu yang saya rasakan, that electric feel!

Masuk ke CD nya itu sendiri. Total terdapat 13 lagu dalam album ini (12 lagu pada track list + 1 lagu hidden track). Entah memang sengaja dibuat total 13 lagu atau bagaimana, angka 13 tersebut tetap saja memberikan kesan horror yang semakin terpadu. Ouch seraam!! Oke, lagu pertama yang didaulat sebagai pembuka album ini adalah sebuah lagu berjudul Malam Terkutuk. Lagu ini dibuka dengan raungan gitar yang menyeruak diikuti dengan dentuman drum tempo cepat yang seolah-olah meludah ke muka kita lewat tenaga punk nya yang membunuh (apa pun artinya itu). Dan saat Sayiba Von Mencekam berfirman “Ini malam…. Malam terkutuk!”, seketika itu juga saya sadar bahwa album ini adalah sebuah kutukan bagi orang-orang dengan selera musik yang payah!

Lagu kedua, Suzannakenstein adalah sebuah akuluturasi yang menarik dari budaya horror tanah air dengan budaya horror Hollywood. Mungkin saat ini Boris Karloff dan Suzanna sedang mendownload album ini secara illegal di alam sana (tapi kalau Omuniuum buka cabang di alam kubur pasti mereka beli CD nya sih, yakin). Riff-riff punk rock yang authentic ditambah dengan reff yang anthemic serta solo gitar yang menyihir membuat lagu ini menjadi lagu kedua favorit saya di album ini. Masuk lagu ketiga Malam Jumat Kliwon kita dibawa ke dalam flow yang lebih pelan namun tidak mengurangi semangat. Dengarkan dengan fokus saat sang vokalis menekankan pada kita semua bahwa “Ini Malam Jumat Kliwon”. Syahdu.

Dilanjutkan dengan lagu keempat Kengerian. Lagi-lagi, kita disajikan dengan reff yang anthemic dan semangat yang berkobar-kobar. Apalagi saat tempo bertambah cepat di tengah-tengah lagu dan sang vokalis mulai berteriak “Dari langit mereka datang menembus awan kegelapan”, uuh…. Ingin rasanya moshing memukul-mukul dosa-dosa masa lalu saya sambil kayang setengah salto di udara. Energinya begitu luar biasaaa!! Seperti malam takbiran. Satu hal lagi yang menarik dari lagu ini adalah tema yang dibawakan, yaitu serangan UFO. Kata siapa para makhluk terrestrial itu tidak pernah melancong ke negeri ini? Jogja buktinya. Kelelawar Malam saksinya.

Lanjut lagu kelima, Kafir. Saya rasa lagu ini tentang dajjal. Kombinasi antara gaya bernyanyi sang vokalis yang mengingatkan saya pada Iwan Fals, nuansa surf rock yang cukup kentara, dan line seperti “Matamu di tengah bintang” menjadikan lagu ini, entah bagaimana, terasa psychedelic. Membayangkan dajjal raksasa dengan kostum hippies bangkit dari tempat peristirahatannya sambil memainkan lagu Purple Haze. Dia memberikan tanda peace kepada kita semua sebelum melakukan pembunuhan besar-besaran dengan laser yang keluar dari kedua bola matanya. Ah, saya semakin melantur.

Lagu keenam Ratu Kegelapan. Sebuah lagu pengorbanan seorang perawan cantik nan jelita kepada ratu kegelapan. Saya tidak akan berkata banyak tentang lagu ini karena saya takut lagu ini bercerita tentang Kanjeng Ratu Kidul dan mungkin sekarang ia sedang membaca review ini dari kediamannya di Pantai Selatan. Skip. Masuk lagu ketujuh, Palu Keadilan. Dibuka dengan intro gitar yang membuat badan merinding diiringi oleh paduan suara zombie-zombie pesuruh bersuara “Aaaa aaaa” sebelum akhirnya masuk sang vokalis dengan suara yang berat dan rendah melantunkan mantra “Keluarlah… Keluarlah… dari lubang hitam yang terkutuk, keluarlah….”. Pure Horror. Tidak ada yang lebih menakutkan dari memanggil kembali orang-orang yang sudah mati ke dunia.

Satu sampai tujuh sudah dilewati, berarti masuk lagu kedelapan Bangkit Dari Kubur yang merupakan lagu paling favorit saya di album ini! Lagu yang menurut saya, benar-benar gila! Dahsyat. Edan. Dari segi musik maupun lirik benar-benar memberikan sebuah satisfaction, walaupun hanya dalam durasi 2 setengah menit (seperti inikah rasanya quickie?). Lirik yang simpel, reff yang sing-a-long, arasemen musik yang sederhana. Hey! Musik punk seharusnya seperti ini!! Yakin saya Kelelawar Malam dapat membangkitkan Suzanna sekalipun dari kubur dengan lagu ini.

Lagu kesembilan Suara Kegelapan. Tampaknya pada lagu ini Kelelawar Malam terinfluence dari musik metal era 80an, terdengar dari gaya bernyanyi sang vokalis yang berat seperti menyeret mayat dan solo gitar yang mengaung-ngaung seperti memperkosa senar ala thrash metal. Reff dengan line “Suara kegelapan memanggil namamu” yang diulang berkali-kali sungguh mendoktrin pikiran kita (cara mendoktrin ala NII lewat). Next lagu kesepuluh Kelelawar Malam. Ahey! Cukup jarang saya mendengar sebuah lagu yang judulnya sama dengan nama band dan nama albumnya. Cool! Energik seperti baterai Energizer. Lanjut lagu kesebelas Reptilia Menyerang masih dengan pola musik punk 3 kunci yang membakar telinga pendengarnya. Namun lirik yang dibawakan cukup memberi senyum di wajah saya. Reptil yang menyerang? Untung saja bukan ulat bulu yang menyerang, karena dengan begitu lagu ini akan menjadi lagu yang begitu up to date dan diputar di acara-acara berita setiap hari. Hihi.

Lagu keduabelas Malam Mencekam. Dengan balutan musik metal yang sedikit blues dan bertempo lambat, lagu ini dibuka dengan petikan gitar yang seolah menggiring kita ke dalam sebuah kuburan yang angker, untuk kemudian mengetahui bahwa seorang pemuda psikopat sedang membunuh kekasihnya dengan kejam. Pemuda tersebut lalu bertambah sadis dan tak karuan layaknya dirasuki setan, sementara iringan musik latar dari Kelelawar Malam semakin bertambah menggebu. Epic. Sebuah lagu penutup yang membuata saya berkata “Yah abis ni?”. Tapi kemudian pertanyaan tersebut langsung dijawab di lagu ketigabelas, Manusia Serigala. Headbanging tidak dapat dihindari lagi. Mulut saya tanpa sadar mengikuti liriknya “Homo Homini Lupus” seperti dzikir. Album ini pun akhirnya habis. Tapi saya tidak kuat. Seperti layaknya ibadah, album ini begitu menagih! Saya ulang kembali album ini dari awal. Mulai kembali.

Pada hakikatnya, menikmati album self titled Kelelawar Malam ini adalah sebuah sensasi tersendiri (mungkin seperti sensasi merancap saat menonton film Big Tits Zombie di tengah kuburan pada malam Jumat Kliwon). Mendengarkan musiknya, membaca liriknya, meresapi artwork nya, seperti membawa kita ke dalam sebuah perjalanan sinematik dari sebuah ensiklopedi mini budaya horror Indonesia. Sungguh sebuah konsep yang dibangun dengan unik dan menarik! Menurut saya pribadi, album ini seperti sebuah album soundtrack dari kumpulan film-film pendek bertema horror dengan para personil Kelelawar Malam sebagai pemainnya. The Kelelawar Malam Horror Picture Show. Edan!

 

P.S. Begitulah review CD yang diawali dengan kisah bukan kasih Mas Bram dan  Kak Katy Bon..  Maaf kalo pusing bacanya.. hihihi… Kalo ada yang mau kirim surat cinta untuk  Mas Bram atau Kak Katy Bon bisa di imel ke order@omuniuum.net, nanti kami sampaikan. Eh, pesen CD bisa via sms ke 087821836088 yaks! Oh, biar keliatan update dan eksis, jangan lupa follow kita di twitter ya, @omuniuum atau @itbo

Hell Yeah!

Tak ada kata yang cukup untuk mewakili apa yang terjadi malam itu, di sebuah pesta kecil* milik Burgerkill dan Begundal Hell Club bersama segudang teman-teman baiknya kecuali bahwa album baru Burgerkill ‘Venomous’** adalah sebuah album baru yang layak ditunggu para pecinta dan penggemar Burgerkill dan pecinta musik metal pada umumnya.

Beruntunglah mereka yang datang dan hadir disana. \m/

*pesta kecil: mendengarkan preview album baru Burgerkill ‘Venomous’ yang rencananya akan dirilis bulan Juni nanti + merayakan ulang tahun BK ke-16.

** cek myspace Burgerkill untuk mendengarkan ya : Burgerkill

 

* photo by : nasrulakbar

“apa yg kita dengar apa yang kita lihat apa yang kita idolakan itulah yang membuat diri kita sekarang”

Setelah vakum dalam membuat album selama kurang lebih 5 tahun, Polyester Embassy kembali hadir menyuguhkan album kedua mereka yang berjudul Fake/Faker. Masih tetap dengan nuansa yang sama seperti album sebelumnya, namun ditambah dengan beberapa karakter suara yang lebih experimental sehingga Polyester Embassy tetap mampu menyajikan sebuah karya yang fresh namun tidak mengurangi nilai dari Polyester Embassy sendiri.

“kita hidup di Dunia ke tiga (bukan negara ke tiga maksudnya), dimana dunia pertama adalah inventors..dunia kedua adalah original. dan dunia ketiga hanya ada fake/faker dan semua itu halal dan tidak ada salahnya di dunia ketiga ini (cut, copy, paste, edit) selama kita bisa mempertanggung jawabkan nya. apa yg kita dengar apa yang kita lihat apa yang kita idolakan itulah yang membuat diri kita sekarang” tegas Elang Eby.

Bisa di katakan bahwa ini merupakan sebuah proses pematangan dari Polyester Embassy. Sangat klise memang, namun hal itu yang harus kita maklumi sebagai sebuah proses perjalanan sebuah band, dalam konteks ini Polyester Embassy.

Perlu waktu dua tahun untuk Polyester Embassy bisa merampungkan konten dari album ini. Lama, yah memang bisa di bilang cukup lama, namun penantian yang kurang lebih dua tahun itu akan terbayar oleh 9 lagu yang akan disajikan di album terbaru mereka ini.

Dengan nuansa album yang lebih cerah dan optimis, ditambah eksplorasi musik yang memang menjadi ciri khas dari Polyester Embassy dan juga di tambah dengan lirik yang lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, siap di perdengarkan kepada khalayak banyak dengan single pertama mereka “Space Travel Rock n Roll”.

Selamat menikmati essesnsi dari Fake/Faker! J (uya)

 

Tracks :

Fake/Faker
01.  Air
02.  Later On
03.  LSD
04.  Space Travel Rock n Roll
05.  Good Love
06.  Have You
07.  Small Stakes
08.  Fake/Faker
09.  White Crime

 

Polyester Embassy | Fake/Faker
FFWD Records
IDR 50,000
Bisa didapatkan di Omuniuum mulai tanggal 7 Mei 2011

 

BURNING FEST

Bandung Rock Gathering 2011

21  Mei 2011

Yon Armed IV – Cimahi

– BURGERKILL

– JASAD

– BESIDE

– JERUJI

– ALONE AT LAST*

– KILLED BY BUTERFLY

– INFAMY

– GLOBAL UNITY

– LOST FAITH

– LOCUST KING

– MORTIFIED

– IN PLACE OF HOPE

– STRUGGLE HOPE

– STEP CHILD DIARY

Tiket bisa didapatkan hanya dengan Rp.25.000,- dimulai dari tanggal 01 Mei s/d 12 Mei 2011.

Layanan tiket di buka mulai tanggal 01 Mei 2011, hanya di :

Bandung :

Omuniuum Ciumbuleuit 151 b Lt.2 Bandung- 022-2038279 – 087821836088

– Yeah Caffe (samping Circle K taman flexy)

– gogs-store.com Jl Buah Batu No 239 Bandung

– (08562085851 – Bayu) (08561241213 – Dani)

Garut (085223950140 – Ade): – Studio one , Jl.Kiansantang Gg.Kamulyaan No,205

Jakarta :

– UKM band bina nusantara (BINUS) Jl.Kyai H Syahdan No,9 Palmerah Jak-Bar

– (085271635356 – Dwi)