Hell-o,

Ada sepatu-sepatu baru datang nih. Bagi yang belum tahu, Newrock adalah brand atau merk dari sepatu yang basisnya ada di negara Spanyol. Kita mengimpor sepatu ini langsung dari sana. Jadi, barang yang tersedia, rata-rata hanya ada satu atau dua nomor dan terbatas.

Tapi jangan sedih, kita menerima pemesanan atau preorder. Biasanya kita pesan satu atau dua bulan sekali. Bisa kontak admin kita di order@omuniuum.net untuk detail atau pertanyaan tentang cara-cara ordernya. Lama pemesanan rata-rata 2 minggu sampai paling lama satu bulan kecuali jika ingin memesan secara khusus boots yang tidak terdapat pada katalog, lama pemesanan 3 bulan. Untuk katalognya sendiri, bisa di cek disitusnya langsung yaitu NEWROCKSTORE. Disitu ada keterangan di setiap sepatu tentang nomor yang tersedia dan harga menurut mata uang euro. Kira-kira harga tersebut dikali kurs euro yang sedang berlaku.

Untuk stok yang tersedia di kita, silakan klik gambar yang ada di bawah ini ya.

 

Cheers

Omuniuum
Jl Ciumbuleuit 151 B lt. 2 Bandung 40141 ph. 022-2038279
087821836088
http://www.twitter.com/omuniuum

Join production by: Anarkisari Rekord, Kongsi Jahat Syndicate, Yes No Wave Music Manufactured & distribution by: Demajors Independent Music Industry | IDR 35,000

Apa yang terpikir saat kata “Jogja” terdengar? Eksotisme, keunikan budaya Jawa, tradisionil, candi-candi, Merapi yang belum lama ini meletus dan mBah Maridjan nya, bukan ibukota yang sering disangka ibukota, daerah istimewa, konflik penamaan daerah istimewa oleh presiden SBY, apa lagi? Teater, musik.. ya, musik! Musik yang seperti apa? Ya musik yang dihasilkan musisi Jogja. Bukan hanya Sheila on 7, apalagi ngawur ke Kla Project, mentang-mentang salah satu lagunya yang tersohor tentang Jogja (dan sering sekali lagu ini terdengar di pasar-pasar malam Jogja). Bukan, bukan itu, tapi Jogja Hip Hop Foundation, Serigala Malam, Armada Racun, Individual Life, Frau, Risky Summerbee & The Honeythief, ZOO, Wukir, Cranial Incisored, DOM65, dan Dubyouth.

Adalah Jogja Istimewa 2010 yang merangkum semuanya ke dalam satu album kompilasi. Berisikan 10 lagu dari musisi-musisi Jogja yang dianggap paling merepresentasikan pergerakan musik subkultur Jogjakarta. Mungkin beberapa nama sudah melanglang buana dan lagu-lagunya akrab di telinga, tapi beberapa yang  tersisa, layak juga dicerna.

Berikut ini yang setidaknya sudah akrab di telinga saya, sebutlah diantaranya Frau, dengan dentingan piano dan lirik puitisnya, Jogja Hip Hop Foundation yang secara unik menggabungkan genre Hip Hop dengan kultur Jawa Tengah, dan Dubyouth yang selalu sukses menggoyang arena dansa dengan reggae dub nya yang eclectic.

Tidak hanya itu, ada Risky Summerbee & The Honeythief yang pernah main di Bandung. Ada juga Wukir yang bermain bersama ZOO, band eksperimental rock yang cukup lama eksis di Jogja. Wukir, adalah musisi yang menciptakan sendiri alat musiknya dari sebilah bambu dan banyak string. Bunyinya unik, cara memainkannya pun. Seperti kecapi tapi bukan, seperti gitar tapi juga bukan. Nama instrumen musiknya “Bambu Wukir”. Wukir pernah berniat melakukan perjalanan keliling pulau Jawa dengan sederhana untuk memperkenalkan musiknya, bermain untuk musisimusisi jalanan di stasiun kereta. Sayang tidak bisa terlaksana sempurna, harus terhenti dan kembali ke Jogja, tempat ia tinggal, meskipun ia bukan penduduk asli Jogja. Kemudian ada Cranial Incisored. Pertama kali saya menonton performance mereka di Jogja. Awalnya saya mengernyitkan dahi saat mendengar band ini meraung kasar, tapi tidak lama saya tersentak dengan alunan Jazz yang terselip dan mendadak. Sebentar kemudian, kekagetan saya terulang dengan teriakan kasar, gebukan drum, dan obral double pedal. Yang saya tau kemudian saya sedang tersenyum hampir tertawa-tawa karena band ini menggelitik dan saya suka. Lain lagi dengan Armada Racun yang berpersonel 4 orang: satu drum, satu keyboard, dua bass. Tanpa gitaris. DOM65 yang mengkombinasikan kiblat punk mereka dengan struktur musik hard rock dan progressive rock. Berikutnya, Indifidual Life, band instrumental yang masing-masing personelnya datang dari band yang berbeda, dan berkumpul untuk menciptakan sanctuary mereka dalam bermusik.  Terakhir, ada Serigala Malam, yang beraliran New York Hard Core.

Pembuatan album ini dimaksudkan sebagai sebuah penanda jaman atau masa, bookmark, jejak peninggalan, yang merekam dan mengabadikan pencapaian musisimusisi Jogja pada masa ini, singkat kata, pendokumentasian. Band-band yang melantunkan kepiawaiannya dalam bermusik pun dipilih dan dikurasikan dengan berbagai pertimbangan oleh sejumlah kurator. Jadi kalau kamu ingin tau pencapaian musikalitas musisi-musisi Jogja saat ini, album ini wajib kamu cerna. Siapa tau bisa kamu jadikan topik menarik untuk skripsimu. ha ha. Akhir kata, temukan album ini di Omuniuum, pastinya. Kamu juga bisa tanya-tanya dan berbincang dengan Boit atau Mas Tri yang “tersedia” di Omuniuum kala malam, untuk obrolan lebih lanjut tentang Jogja, musik, buku, anak, konsultasi cinta, konsultasi skripsi, konsultasi hidup…

P.S. Review ini dikerjakan oleh Kak Katy Bon yang lagi serius! Pesan untuk Kak Katy Bon bisa di imel ke order@omuniuum.net, nanti kami sampaikan. Eh, pesen CD bisa via sms ke 087821836088 yaks! Oh, biar gaul, jangan lupa cek twitter kita, @omuniuum atau @itbo

Cd The Milo-Photograph - IDR 30,000 Setelah sekian lama, akhirnya The Milo memberikan kabar terbarunya, hore! Mari saya mulai pekerjaan ini dengan berpendapat!

Yang pertama kali menarik perhatian saya dari album ini adalah: COVER nya. Gambarnya simple, catchy, dan setelah diselidiki pada bagian keterangan, ternyata sang ilustrator adalah “astronautboys” dan “mereka” (tambahan “s” pada “astronautboys” membuat saya berasumsi bahwa si pembuat adalah benda jamak) juga menuliskan nama mereka di jembatan layang pasupati, kalau kamu memperhatikan sekitar saat jalan di lampu merah Dago Cikapayang.

Okei, CD masuk player, dan kedelapan lagu dalam album ini pun berputar-putar.

Let’s get to the details!

Lagu pertama, judulnya Stethoscope. Curiga saya, lagu stethoscope yang tanpa kata ini memang adalah lagu pengantar yang diberikan untuk pendengar, semacam bab pendahuluan dalam skripsi. Pemberitahuan nada dan rasa keseluruhan dalam satu album, sebuah ringkasan. Dan track ini, bagaikan sebuah stethoscope, memberi-dengar “detak jantung” album secara keseluruhan. Disambung For All The Dreams That Wings Could Fly dengan vokal mengalir dan petikan gitar setipe. Kita dibawa turun dari “kesimpulan” yang penuh. Sekedar beranalogi kita sedang bertualang menjelajah hutan raya, sekarang kita menuju aliran anak sungai yang lebih tenang dan sepi. Jeda, dan So Regret mengalun pelan, perjalanan kita semakin mendayu dan turun. Lirik detailnya tidak terlalu jelas terdengar, kecuali pada reff. Terdengar jelas bahwa ini memang lagu penyesalan, sesuai dengan judul, dan ditutup dengan pertanyaan “oh why”. Bersambung dari buntut so regret ke opening Get Into Your Mind suara tipis feminin mengawang mengimbangi petikan-petikan melodi gitar yang masih mendayu. Jeda, Dreams dimulai sedikit upbeat dengan genjrengan gitar dan irama drum. Kita terus digandeng, coba untuk terus dibawa masuk ke album Photograph. Jeda, Kemudian masuk petikan gitar dan disambut vokal Ajie untuk mem-bold lirik Don’t Worry For Being Alone, pelan-pelan baru beat drum masuk, kemudian datang menyambut petikan gitar yang lain dan bermainlah harmoni lagu dalam ramai instrumen musik, berusaha menarik pendengar untuk masuk, ditutup dengan minimal dan kembali penekanan pesan lirik lagu. Daun dan Ranting Menuju Surga berputar mengalun minimal pada awalnya dengan lirik yang puitis. Kita kembali dibawa ke aliran sungai tenang tadi, tapi kali ini diantar dengan lirik yang lebih mengangkat. Dan..lagu paling bagus dalam album ini, menurut saya, berputar, Apart. Petikan gitar diawalnya berhasil mencantol telinga saya dan terdengar menyimpan potensi ceria, seperti diberi harapan positif. Tapi tampaknya berbanding terbalik dengan liriknya, lagu ini tidak berbicara tentang sesuatu yang menyenangkan..tidak terlalu jelas terdengar. Alunan minimal itu kemudian berjeda sedikit, dan kembali disambut oleh harmoni instrumen yang lebih ramai, seperti mencoba membawa kita ke tempat yang lebih klimaks. Kemudian lagu ditutup dalam keramaian itu. Habis.

Secara keseluruhan lagu-lagu The Milo dalam album Photograph ini memiliki mood yang sama, dan petikan gitar di setiap lagu, dari lagu ke lagu, terasa seperti benang merah yang menghubungkan, terus bertipe seperti itu. Dan kalau kamu sedang berusaha sekuat tenaga mencerahkan harimu yang suram, tunda dulu mendengarkan album ini, sepertinya kamu lebih baik pilih mp3 rekaman siaran Kabayan atau Warkop. Referensi musik yang mereka gunakan dalam pembuatan album ini masuk akal, seperti terbaca di tulisan pengantar di balik cover album, diantaranya ada M83, The Album Leaf, dan Sigur Ros. Sayangnya eksplorasi instrumen-instrumen musik dan bebunyian di dalamnya masih belum terasa.

Oke, cukup. Pesan terakhir, kalau kamu penasaran untuk mendapatkan CD ini, mampirlah ke toko kami yang ngumpet di ciumbuleuit 151 b lantai 2 Bandung atau silakan kontak via email ke order@omuniuum.net [nama, alamat, telp + pesananmu] atau sms 087821836088 [nama+alamat + pesananmu] nanti admin omu akan membalas dengan detail transaksi yang kamu butuhkan.

Have a nice day!

P.S. Masih usaha membuat review berikut hmmm hmmm, namanya juga usaha, ini rubrik review diasuh oleh seorang gadis manis cantik yang karena tidak mau disebut namanya, menjuluki dirinya sendiri Kak Katy Bon “salah asuhan”, dengan tagline: “Pendapat orang itu relatif, have ur own oppinion! Stop reading this junk!”. Tapi karena ini di taro paling bawah, percuma punya tagline begitu karena kalian sudah terlanjur membaca. Pesan untuk Kak Katy Bon bisa di imel ke order@omuniuum.net, nanti kami sampaikan. :)