Yuuuu… Yang mau pesan seperti biasa, silakan seperti biasa, email ke omuniuum@gmail.com / order@omuniuum.net. [o,ya, minta tolong untuk meng-add kita sebagai kontak di imelmu ya, biar balasan email kita ga nyasar masuk spam], dengan format nama, alamat, nomer telepon dan pesanan beserta sizenya. ditunggu ya, ordernya. have a nice life, everyone! :D

CD "the Headless Songstress" TIKA & the dissidents

TIKA & THE DISSIDENTS

IDR 38,000

Untuk pemesanan silakan via email order@omuniuum.net / omuniuum@gmail.com atau datang langsung ke ciumbuleuit 151 b lt.2 bandung

[SIARAN PERS]

The Headless Songstress Karnaval provokatif TIKA & The Dissidents

Posisi perempuan dalam industri musik sulit lepas dari imej serba glamor dan gemerlap. Namun beberapa tahun silam, di tahun 2005 tepatnya, muncul seorang penyanyi perempuan di Indonesia yang menantang norma pasar dengan mengusung musik gelap dan dingin melalui album ‘Frozen Love Songs’ yang dikemas ulang dengan judul ‘Defrosted Love Songs’. TIKA namanya. Banyak yang mempertanyakan mengapa seorang penyanyi dengan kualitas vokal kelas satu seperti TIKA memilih jalur independen yang konon tak seberapa komersil? Hanya TIKA yang tau jawabannya. Yang pasti ia telah mendobrak klise Diva di Indonesia dan memahat reputasi sebagai salah satu penyanyi perempuan paling berbahaya di masanya. Namun kemudian TIKA menghilang begitu saja dari kancah musik.

Kemana ia menghilang dan apa kabarnya TIKA saat ini? Setelah hibernasi panjangnya, kini TIKA telah kembali dengan album terbarunya yang bertajuk ‘the Headless Songstress’.

TIKA tidak sendirian lagi kali ini. Ia menggandeng tiga musisi yang dibaptis dengan nama the Dissidents sebagai partnernya dalam album ‘the Headless Songstress’. “Sekarang tidak memakai nama TIKA lagi, tapi berubah jadi TIKA & the dissidents,” ia menjelaskan. Mereka adalah Susan Agiwitanto (bass) Okky Rahman Oktavian (drum) dan Luky Annash (piano). The Dissidents pula lah yang turut berperan atas perubahan musik TIKA yang melompat jauh dari karya-karya sebelumnya. “Kira-kira 60% materi album ini dibuat TIKA bersama-sama dengan the Dissidents,” tutur Susan sang bassist. Bahkan kali ini TIKA yang dikenal dengan akrobat vokalnya, memilih bernyanyi lebih santai untuk mengimbangi the Dissidents. Dua gitaris dari kubu jazz dan postrock juga digamit TIKA untuk memproduseri album ini. Iman Fattah, gitaris band Zeke & the Popo, dan Nikita Dompas gitaris jazz muda berbakat. Mereka lah yang membungkus lagu-lagu TIKA & the dissidents menjadi sebuah paket musik yang kaya bumbu dalam album ‘the Headless Songstress’.

Namun yang paling drastis berubah, adalah lirik yang ditulis TIKA untuk album ini . Apabila dulu ia dikenal dengan lirik galaunya, kali ini TIKA banyak melempar kritik sosial dengan sarkasme yang nakal namun tajam. Di lagu ‘Polpot’ misalnya, TIKA mengangkat pembantaian intelektualitas massal oleh televisi. Di lagu ‘Red Red Cabaret’, ia menyentil polah selebriti yang haus ketenaran. Lagu ‘Clausmophobia’ menyindir kemunafikan masyarakat menyikapi homoseksualitas. Dan tentu yang paling jelas terasa adalah lagu ‘Mayday’ yang bertema hari buruh.

“Secara pribadi, ini bukan perubahan besar,” ujar TIKA. “Tema-tema ini sudah menjadi ketertarikan saya sejak remaja. Kalau lirik di album yang dulu galau, itu karena saat itu hidup saya memang sedang galau saja,” aku perempuan yang sejak kuliah aktif mendukung gerakan literasi, liberasi gender, dan gerakan swadaya atau DIY ini.

Saat ditanya soal genre musik album ‘the Headless Songstress’, baik TIKA, anggota the dissidents, maupun kedua produser merasa tidak ada satu genre yang bisa mewakilli seluruh lagu di dalamnya. Adanya unsur jazz, rock, blues, hingga tango dan waltz membuat album ini sulit dikotakkan. Ditambah lagi dengan keterlibatan banyak musisi tamu seperti Anda, Riza Arsyad (simakdialog), Adrian Adioetomo, dan banyak lagi. “’the Headless Songstress’ ibarat sebuah karnaval setelah tutup di malam hari. Menyenangkan tapi menyeramkan” ungkap Nikita Dompas, mendesripsikan album ini. “Saya percaya album ini dapat menjadi salah satu album lokal yang paling unik yang pernah ada” tambah Iman Fattah.

Sedangkan TIKA, apa harapannya akan album terbarunya sendiri? “Ini bukan album instan. Musiknya pun perlu waktu untuk dicerna. Tapi saat orang sungguh-sungguh mencernanya, semoga dapat memprovokasi telinga dan pikiran pendengarnya. Membuat perubahan yang meski kecil namun berarti.”

Siapkah pasar Indonesia dengan konsep musik seperti ini? Mari kita lihat sambil menikmati karnaval provokatif TIKA & the dissidents dalam album ‘The Headless Songstress’.

sumber : www.suaratika.com

Hei. Hei. Hei. Bingung cari merchandise band di jakarta ?

ini salah satu tempat yang mungkin bisa jadi adalah solusi dari masalahmu.

jangan lupa mampir ya, ini salah satu tempat punya teman baik kami.

ini alamatnya :

Lawless JKT

Kemang Selatan 8 no.67K

Rock n’ Roll Motorcyclothes and Tattoo
Ph: +62217192871. E: lawlessjakarta@gmail.com

tersedia merch dari: Seringai, Pure Saturday, Koil, Siksa Kubur, Komunal, Efek Rumah Kaca, Sir Dandy, etc.!

 

Sayembara Kata Tanpa Kepala 5 CD + Merchandise gratis dari TIKA & the dissidents untuk anda, pujangga-pujangga amatir!

Tanpa terasa, akhir Juli 2009 segera menyapa dengan membawa begitu penuh makna dan (tentunya) rasa. Bulan yang penuh dengan fase perubahan besar; dimulai dari Pemilu Pre(-)Si(n)den, hingga kekalutan yang melanda orang tua ketika anak-anak mereka harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Lupakan kontroversi “quick count” dan jalan siluman para orang tua dalam meluluhkan passing-grade sekolah idaman, karena pada 24 Juli 2009 ini TIKA & the dissidents akan menebus lunas segala penantian anda semua dengan menghadirkan “the Headless Songstress”. Untuk mendapatkan cd dan merchandise secara cuma-cuma,  maka the Head Records mengadakan sayembara tulisan. Lima tulisan yang paling menggugah  hati, masing-masing akan mendapatkan :

1 buah CD the  Headless Songstress dari  TIKA & the Dissidents yang berbubuh tanda tangan

1 buah merchandise kejutan

Ketentuannya sebagai berikut :

1. Karya tulis original dengan judul “Waltz Muram”, (red: “Waltz Muram” adalah judul single pertama TIKA  & the dissidents dalam album the Headless Songstress)

2. Bentuk tulisan bisa cerpen, puisi, pantun, haiku, neo-mbeling, bahkan novel pun dipersilahkan. Tentunya tidak menjiplak karya orang karena akan lebih parah dari sekedar murtad.

3. Tulisan diunggah di blog pribadimu  atau note  facebook yang bisa diakses publik.

4. Kirim link-nya ke email hello@suaratika.com beserta nama dan  alamat lengkap kamu selambat-lambatnya  pada 5  Agustus 2009.

5.    Tulisan-tulisan dari lima pemenang akan diumumkan dan dimuat di www.suaratika.com pada 12  Agustus 2009 dan hadiah akan dikirim via pos ke alamatmu.

Music/Arts – Concert Saturday, July 11, 2009 7:00pm – 11:00pm CCF Auditorium Jl. Purnawarman 32

Performing : THE MILO POLYESTER EMBASSY ZEKE AND THE POPO ANSAPHONE NEW RIDE

________________________ Presale and very limited ticket Rp. 20.000,- + 20% Discount for CONVERSE product For further info & EARLY BIRD TICKET : ffwd records Jl. Dr. Setiabudhi 56 Bandung phone: +62 22 2032740 info@ffwdrecords.com