mungkin kita berubah, mungkin kita sama saja, tapi ini hidup dan waktu selalu berubah, selalu berjalan, meski mungkin kita tak mau menghitungnya. dan berulanglah semua tradisi entah penting atau tidak itu. supermarket dan tempat perbelanjaan penuh, jalanan macet dan bunyi terompet, merayakan waktu, seakan ia akan berakhir malam ini. kita pun memilih. untuk mungkin bersama arus menghabiskan waktu di jalan, bersama keluarga di rumah, bersama teman-teman atau mungkin sendirian. yang pasti gw percaya, apapun pilihannya untuk menghabiskan malam ini, dalam hati kita semua berucap, selamat tahun baru semuanya, semoga semua hal akan baik-baik saja [dan bertambah baik kedepannya].

yap guys, dimanapun kalian, lagi ngapain, atau bersama siapa, selamat tahun baru 2008 !

Psst, omuniuum ikut partisipasi di sini lho, ikutan buka stand, ngeramein ..nama acaranya,

X MAX : accept difference maximize toleranceisinya :exhibition – workshop – screening – concert

18 Desember 2007Sasana Budaya GaneshaJl. Tamansari no. 73 Bandung09.00 – 22.00

Program:1.Pameran Media Komunikasi dan Foto HAM didukung oleh LAHA, ELSAM,HUMA, ARUS PELANGI, KOMNAS HAM, SKEPO, IMPARSIAL, KASUM, IKAHO,POTRET UNPAR dll.pk.09.00 – 22.002.Workshop HAM bagi siswa SMA, bersama SKEPO pk.09.00 – 15.003.Workshop Musik bagi kelompok musisi jalanan (terbatas) bersama AmmyKurniawan ( 4Peniti ) & Ziner ( Jendela Ide ) pk.13.00 – 15.004. Pembukaan Pameran & Pertunjukan Karya Special Need Kids & Youthbersama Bengkel Kreasi 19 dan Program Inklusif Jendela Ide pk.15.005.Press Conference pk.15.306.Screening & Diskusi Film FREEDOM WRITERS, bersama KOPI untuk umumpk.15.30 – 18.007. X_MAX Jazz Concert pk.19.00 – 22.00 bersama:Ulfa & Imel Rosalin,Semut Pandawa,Dialekkita,Karinding Collaborative Project,Rumah Musik Harry Roesli,X_MAX Rhythm – percussion jam sessionHTM COncert : rp 15.000 [mahasiswa/pelajar], rp 20.000 [umum]

……..juga ada DOOR PRIZE dari sejumlah Toko Buku & Distro !!!!!!!

Ditunggu kedatangannya & terima kasih banyak atas perhatiannya.

Salam,Marintan Sirait, Program Coordinator/ 0818225560Andar Manik, General Coordinator/ 08161951171

Jendela Ide is a private & non profit cultural institution, based inBandung, Indonesia. Formed in 1995 by artist-couple Andar Manik & Marintan Sirait.Jendela Ide is dedicated to stimulate the cultural perspective ofchildren & youth, towards workshops, exhibitions, performances,cultural encounters and discussions about education & culture.Jendela Ide acknowledges and values human uniqueness in creative workand excellence human difference in cultural expressions.

kalo mau liat-liat katalog omuniuum,silakan klik : omuniuum on flickr.

yap, inilah mereka :

• The Postmarks – IDR 70,000• Olive Tree – IDR 35,000• Mocca Colours – IDR 50,000• Rnrm Outbox – IDR 45,000• Purpose Metapurposis – IDR 35,000• Tigerbaby – Lost In You – IDR 70,000• The Sigit – The Visible Idea Of The Perfection – IDR 50,000• Homogenic – Echoes Of Universe- IDR 45,000• Electronic Groove – IDR 35,000• Tuesday Riot – IDR 39,500• Catatan Akhir Sekolah – IDR 45,000• Ost Janji Joni – IDR 45,000

yang mau tanya-tanya atau mailorder bisa ke omuniuumbooks@yahoo.comatau omuniuum@gmail.com.

omuniuumjl. ciumbuleuit 151 b lt.2 bandung 40141ph. 022-2038279

RIGHTS TO DEVELOPRepresentation of Lacking Modernism

Exhibition by Media Parahyangan, POTRET Unpar and Arsitektur FotoCurated by Avanti Anggia a.k.a Vai

– 8 December 2007 – 3 January 2008 –@ Potluck Cafe and LibraryOpen for Public

Opening Ceremony– 8 December 2007 –– 6 PM –Potluck Cafe and LibraryJl. Haji Wasyid no. 31 Bandung

Supported by :ImparsialPUSIK ParahyanganSatre UnparOmuniuum

Myself, Scumbag: Beyond Life and Death
KimungMinor Books 2007
Saya rasa sebagian besar dari kamu tentunya sudah membeli buku ini, walaupun mungkin sebagian besar belum dibaca. Bagi kamu yang belum punya, buku ini adalah buku wajib yang mencatat sebuah fragmen sejarah perkembangan musik underground di Ujungberung, Bandung. Buku ini bahkan adalah salah satu buku-buku pertama yang berhasil mendokumentasikan sebuah kebudayaan subkultur modern lokal, more to come, I hope.Sosok yang mengikat dan menjiwai dalam buku ini adalah Ivan Firmansyah, atau lebih dikenal dengan Ivan Scumbag, vokalis dari band hardcore-metal yang legedaris di scene underground lokal, Burgerkill. Seperti yang diakui oleh penulisnya, Kimung, seorang teman dekat dan sesama pendiri Burgerkill, membuat biografi ini berarti juga menuliskan sejarah perkembangan musik underground lokal di Ujungberung dan Bandung serta sejarah Burgerkill, dimana Ivan berkarir sampai pada akhir hayatnya.Suasana kemuraman dan emosional dari penulis, para karakter yang terlibat serta Ivan sendiri dapat tercermin dengan jelas sampai akhir buku ini, membuat kita merasakan kedekatan dan ikatan kepada Ivan dan bandnya Burgerkill. Segudang cerita dari sosok tersebut, dari kehidupan pribadinya, kehidupan cintanya, perjuangannya, dan kecintaannya terhadap musik sebagai hidupnya termuat secara mendetail dan lengkap di dalam buku ini. Sangat padat malahan, sehingga seringkali terasa melelahkan, padahal mungkin cerita-cerita tersebut dapat distrukturkan ke dalam bagian-bagian yang lebih singkat.Buku ini juga dengan baik menceritakan kejadian-kejadian sebenarnya di belakang Burgerkill yang tercemar dengan mitos dan gosip underground. Kelebihan lain dalam buku ini adalah kejujuran dimana drugs, sebuah aspek yang lekat dengan Ivan dipaparkan dengan gamblang, an inconvinient truth bagi kamu yang berada di sisi lain, dan mungkin tulisan “Based on true story” tidak perlu ada di cover, karena ini memang biografi sesungguhnya.Harus diakui memang biografi ini bukanlah biografi yang inspiratif ataupun manipulatif, tetapi biografi ini membantu kita untuk lebih mengerti sebuah kondisi yang ada di masyarakat kita, di scene underground, yang sayangnya sering kali diacuhkan oleh publik awam.Mengingat bahwa buku ini sangat erat dengan musik, mungkin akan lebih baik jika memang ada rekaman lagu-lagu yang dideskripsikan di buku ini, lebih kontekstual daripada “songlit” yang ada di rak bacaan dewasa muda di toko buku besar. Saya sangat mengharapkan agar ini dapat terwujud, mungkin dalam bentuk mix-tape atau semacamnya, dan saya yakin hal seperti ini sangat bisa diusahakan.Overall, buku ini menyadarkan betapa dekat dan besarnya pengaruh Ivan di kalangan pelaku scene underground Bandung khususnya, dan semoga buku ini dapat memacu hasil-hasil yang produktif di masa depan.
Ryan Koesuma, Deathrockstar.info – November 2007