Toko Buku Independen,Siapa Bilang Gampang ?

Dimuat di Media ParahyanganEdisi 1/Agustus/2007

Dari awal sampai pertengahan tahun 2005, dikabarkan banyak bermunculan toko buku independen dibandung, yang disebut toko buku independen disini adalah toko buku yang tidak bermodal besar, biasanya berbasis komunitas, tidak seperti gramedia atau gunung agung atau toga mas yang belakangan muncul juga di bandung, biasanya didirikan oleh komunitas atau individu yang mencintai buku dan berusaha perduli dengan kelangsungan minat baca dimasyarakat.

Menurut peta literer yang disusun oleh tobucil dan dipan senja, pada medio september 2005, di bandung ada sekitar 40 tempat berlangsungnya kegiatan literasi atau perbukuan termasuk palasari yang sudah lama dikenal publik bandung sebagai komplek pasar buku dan dan mizan learning center yang dimiliki oleh kelompok mizan group. Artinya diluar kedua tempat tersebut, ada 38 tempat yang menamakan dirinya independen berupa komunitas pecinta buku, toko buku, taman bacaan, distibutor, kelompok penulis, penerbit independen dan lainnya. Dari 38 nama tersebut ada yang kemudian selain berbasis komunitas atau perpustakaan juga berusaha menghidupi dirinya dengan berjualan buku, antara lain, Tobucil, Omuniuum, Ultimus, Rumah Malka, If Venue, toko buku Nalar, toko buku Taman Bunga, toko buku Cahaya Media, Beur-read, Senyum Selalu, Taboo, Litera, Eat & Read/er, Das Mutterland, toko buku Bamboe, toko buku Awi Apus, Zoe bookstore dan lainnya.

Tahun itu juga media berlomba-lomba meliput maraknya pendirian toko buku ini, mulai dari liputan tentang keistimewaan masing-masing toko buku independen, kegiatan yang berlangsung ditempat tersebut, berusaha mengetahui semangat apa yang ada dibalik pendirian toko buku-toko buku ini. Penerbit atau distributor juga merasa senang karena kemudian banyak tempat bisa menjadi titik-titik penyaluran buku karena rata-rata toko buku independen itu memperoleh buku dari sistem konsinyasi yang ditawarkan penerbit atau distributor untuk kemudian perakhir bulan mereka memberikan laporan penjualan berdasarkan transaksi yang terjadi di tokonya.

Medio 2006, pertama kali dikejutkan oleh penutupan If Venue yang dikenal sebagai tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan anak muda selain di bidang literasi juga di bidang kegiatan seni budaya. Lalu tak lama kemudian muncul berita simpang siur yang biasanya diterima lewat sms yang mengabarkan kalau toko buku ini tutup, toko buku itu tutup, yang punya entah kemana atau lainnya. Keadaan ini sempat direspon oleh dipan senja yang mengadakan workshop untuk para pemilik toko buku, untuk kemudian mereka bisa lebih belajar lagi tentang manajemen toko buku. Berhasil ?

Mungkin, tapi pada kenyataannya, pada saat ini, pertengahan tahun 2007, selain perpindahan tempat beberapa toko buku independen yang berusaha survive, diantaranya Tobucil dan Omuniuum yang berpindah tempat, beberapa tempat seperti Das Mutterland, Rumah Malka, toko buku Taman Bunga, Eat & Read/er dikabarkan sudah tidak aktif lagi, bahkan menurut bocoran salah seorang teman distributor, dikabarkan salah satu tempat yang baru saja tutup masih menunggak pada penerbit atau distributor.

Mengamati perkembangan itu, kemudian dari beberapa diskusi yang terjadi setelah penutupan toko buku independen itu, memang ada perkiraan kalau mereka para pendiri atau pengelola toko buku ini kemudian memang tidak siap dengan apa yang terjadi. Ketika mereka membuka toko buku dengan bayangan bahwa modal yang diperlukan tidak perlu terlalu besar, hanya butuh tempat dan kontak penerbit atau distributor untuk konsinyasi buku, lalu toko buku akan berjalan sendirinya dan membuat pengelolanya makmur.

Padahal tidak semudah itu. Toko buku juga butuh pengelolaan atau manajemen yang sama dengan semua bidang usaha. Butuh pengolahan data, butuh manajemen operasional, butuh pengelolaan dana yang ketat dan butuh pengetahuan juga kemauan mengetahui perkembangan secara terus menerus dibidang buku itu sendiri. Jangan dikira setelah toko dibuka, buku dipajang, lantas semua datang dengan sendirinya.

Salah satu contoh, jika harga buku misalnya rp 45.000, lalu sebagai toko buku mendapat diskon 30 %, sebesar rp 13500. kemudian kita memberi diskon 10 % pada konsumen, berarti rp 13500 dipotong rp 4500, berarti keuntungan dari satu buku adalah rp 9000. padahal untuk operasional satu bulan, selain membayar sewa dan lain-lainnya termasuk didalamnya listrik, keamanan, pegawai, dan lainnya misalnya sekitar rp 2.000.000. berarti dari rp 9000 itu, kita harus bisa menjual dalam satu bulan buku sebanyak 222 eksemplar baru bisa memenuhi biaya operasional saja, belum untuk hidup dan kebutuhan sehari-hari.

Tidak bermaksud untuk menurunkan semangat independen atau juga menutup kemungkinan bahwa hitung-hitungan diatas adalah hitungan kasar karena di banyak tempat kita juga bisa menemui tempat-tempat yang dibangun dengan semangat bersama dan mengusahakan segala cara agar tempat yang kita cintai itu bisa berjalan tanpa harus mengeluarkan biaya operasional yang terlalu tinggi tapi justru ini adalah satu hal yang harus kita pikirkan bersama sebelum memulai segala sesuatu, bahwa idealisme sebesar apapun, ada hal-hal yang harus dipikirkan resikonya dan sangat disayangkan jika kita sudah memulai sesuatu kemudian hal itu berhenti dan kita tidak bisa memenuhi kewajiban kita pada yang berhak atas itu. Ini harapan bahwa untuk teman-teman yang lain, yang juga punya toko buku atau berniat membuka toko buku, sebelumnya berpikiran lebih panjang dengan menghitung semua untung dan rugi, daripada kemudian hari kita mendengar kabar bahwa ada toko buku tutup dengan meninggalkan hutang kepada penerbit atau distributornya, kemudian pengelolanya juga lari entah kemana.

Yang susah siapa ? selain distributor, ya teman-teman kita juga, yang kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi oleh para distributor atau penerbit untuk menjual buku-bukunya. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Iit SukmiatiPengelola Omuniuumhttp://omuniuum.blogspot.com

Nina baru dateng, kondisi oke, harga @ rp 10.000

Nina 97 : Rosa Tidak Berputus AsaNina 52 : Pengawal Dewa ThorNina 96 : Peggy Jatuh CintaNina 98 : Daun-Daun BerguguranNina 91 : Anita Ratu MalamNina 90 : Ami Dirumah KelamNina 92 : Desa Yang Sepi Dan MenjemukanNina 93 : Maria Gadis Tak DikenalNina 95 : Nanet Bintang Tenis MejaNina 94 : Vina Aku Dan DiaNina 86 : Monika, Misteri Singa SirkusNina 87 : Kepik Yang Membuat HebohNina 89 : Tina Mode TopengNina 88 : Sahabatku AgatNina 85 : Wajah Dalam CerminNina 84 : Anya Dendam Seorang ProfesorNina 83 : Teka-Teki Sebuah TulisanNina 82 : Agnes Tak Akan Berdusta LagiNina 81 : Anak Angsa KelimaNina 80 : Belinda Si Kutu BukuNina 79 : Duska Dan DonnaNina78 : Itik Si Buruk RupaNina 77 : Dihantui BayanganNina 75 : Tina Nenek Yang MalangNina 74 : Si Bunga PutihNina 73 : Meta Pencurian Tak TerdugaNina 72 : Irma Mengapa Aku Diusir ?Nina 71 : Marlin Penari MisteriusNina 70 : Srigala Di Malam ButaNina 63 : Lady Seorang BintangNina 57 : Dililit Jaring Laba-LabaNina 24 : Peggy Dan Jeroen

bisa pesan untuk dikirim, langsung email ke omuniuumbooks@yahoo.com atau

silakan datang langsung ke : omuniuum, jl. ciumbuleuit 151 b lt.2 bandung 40141[sebelah circle k depan unpar, lantai 2].

pagi tadi seorang teman telepon bilang kalo palasari, sebuah tempat yang di bandung dikenal sebagai pasar buku murah, kebakaran. gw asalnya ngga’ begitu percaya dan berharap kalo kebakarannya tidak terlalu besar, trus gw telepon salah satu teman yang punya kios di sana, dia bilang kios dia habis terbakar. gw langsung bete dengernya trus memutuskan untuk pergi kesana dan melihat separah apa kerusakannya. spertiganya selamat, tiga perempatnya rata, hangus terbakar. masih tercium bau hangus. gw akhirnya berhasil menemui temen gw, tapi dia masih sibuk dengan urusannya. beberapa pedagang tampak diam, semua melihat ke arah kios-kios yang terbakar, bermuka pucat dan sedih tapi pasrah, tak ada rasa marah.

semuanya sedang menunggu police line dibuka, untuk membereskan puing-puing, berharap masih ada sesuatu yang tersisa yang masih bisa diselamatkan. ada juga yang sibuk menimbang kertas-kertas yang tersisa, entah untuk apa. yang kiosnya tidak terbakar, sibuk membereskan kembali kiosnya. beberapa masih ada yang berjualan ditengah kegelapan dan suasana yang rusuh.
samar-samar terdengar gosip tentang renovasi yang kemungkinan besar akan dipaksakan pemerintah atau pengembang. samar-samar juga masih ada obrolan tentang asal muasal kebakaran yang masih simpang siur. hanya jamnya yang jelas, kebakaran mulai jam setengah empat pagi. gw berkeliling, mencari lagi wajah-wajah yang dikenal, hanya ingin menyapa, hanya ingin bilang kalo gw juga sedih dengan kejadian ini. pelan-pelan bertemu, dengan bapak yang jaga di kios melati, menatap, tersenyum sedih, lalu dengan ibu panjang, pemilik densiko, kami berpelukan, tanpa kata, ngga’ kerasa, air mata gw menetes. setelah itu gw masih bertemu dengan beberapa orang, tapi gw juga pelan-pelan merasa kalo gw harus secepatnya pergi karena gw ngga’ kuat berada disitu.
berjalan menyusuri lorong yang selamat, yang tidak ikut terbakar, menyusuri kios-kios yang masih utuh, dalam keadaan gelap karena listrik diputus pln, gw masih merasa sedikit tak percaya. gw ngga’ tau apa arti tempat ini buat orang lain, tapi buat gw tempat ini berarti banyak. gw belajar banyak dari sebagian orang yang kiosnya terbakar ini, belajar menyayangi buku, belajar merawat dan memperlakukan buku dengan baik. belajar mengenali kebaikan buku, yang meski sebagian orang bilang kalo mereka hanya memperlakukan buku sebagai barang jualan, justru dari tangan mereka kemudian buku-buku ini sampai ke tangan orang banyak. meski mereka mungkin tak mempelajari apa yang mereka jual, tapi dari mereka, gw belajar kalo buku juga memberi kehidupan lain selain pengetahuan, memberi mata pencaharian. gw sedih banget ngeliat tumpukan kertas yang terbakar, menghitam. apalagi ngeliat jejeran buku yang masih rapi dirak, semuanya hitam. masih terngiang ucapan ibu panjang saat gw bilang kalo gw mau pergi, dia bilang, semoga secepatnya bisa kembali berjualan, karena stok buku dirumah masih ada.
semoga tempat ini ngga’ lantas dimanfaatkan pengembang yang cuma nyari keuntungan dan kemudian berubah jadi tempat mewah bernama mall dan kehilangan keramahannya.
FYI, di tahun 90-an, lupa persisnya kapan, pasar palasari ini pernah juga mengalami kebakaran besar yang menghanguskan semua. jadi ini kebakaran besar yang kedua.

[iit, pengelola omuniuum]

Start : Aug 20, ’07End : Aug 23, ’07Location : Tenda di Tempat PArkir Ruko Ciumbuleuit 151 Bandung[Depan Unpar]

Sale komik jepang rp 2.500/eksMajalah Import start 10.000 to 55.000Architecture Australia, Azure, Monumen, Architectural Digest, Vogue, Car Action, Craft, Model Airplane, Photolife, Digital Photographer, Electronic Musician, Mix, Remix, Gq, Details, Glamour, Dwell, Interior Design, VerandaAltpress, Step, Rubberstamp Madness, Craft N Things, National Geographics, Revolver, Lucky, Teen Vogue, Metropolis, Surfing, Cosmo Girl, Out, Road RacerRacer-X, American Rider, Rider, Hotbike..

Juga didukung Lawang Buku dan Jaringan Buku Alternatif.

Regards,OmuniuumJl. Ciumbuleuit 151 B lt. 2 Bandung 40141http://omuniuum.blogspot.com

Buku 1 : Reinkarnasi

Jodorowski and Bess

Alih Bahasa : Hetih Rusli

Humanoids / Gramedia Pustaka Utama

ISBN – 10 : 979 22 2973 6 , 978 979 22 2973 8

Alejandro Jodorowski adalah manusia multi talenta, selain sebagai pengarang cerita komik, dia lebih dahulu terkenal sebagai sutradara film -[salah satunya menjadi incaran para kolektor film cult (cult movies), berjudul El Topo]-, ahli membaca kartu tarot, seorang modernist, dramawan, komposer, sejarawan, serta seabrek keahlian lainnya yang mendunia.

Lahir di Chile tahun 1929, Jodorowski kemudian akhirnya menetap dan menjadi warga negara Prancis. Di negara pusat komik Eropa inilah kemudian ia bekerjasama dengan illustrator papan atas Eropa, salah satunya adalah dengan Illustrator terkenal yang namanya sudah menjadi jaminan mutu karya illustrasi : Jean Moebius Giraud, dalam cerita komik yang paling terpuji yang pernah dibuatnya, The Incal Trilogy.

Jodorowski telah mengarang lebih dari 20 cerita komik yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 10 bahasa. Karya cerita komik yang dikarang oleh Jodorowski pada umumnya bergenre sains fiksi dengan panggung masa depan. Seperti George Lucas pada Star Wars atau Tolkien pada trilogy Lord of The Ring, dalam komik yang bergenre sains fiksinya Jodorowski menciptakan semesta dengan para makhluk dan ”infrastruktur” nya sendiri sebagai panggung utama para tokoh tokoh komiknya itu.

The Incal , komik paling terpuji yang kemudian banyak menginspirasi komikus lain di Eropa menggunakan simbol simbol kartu Tarot yang memang dikuasainya. Walau dengan panggung masa depan, Jodorowski sebenarnya sedang bercerita mengenai kondisi aktual masyarakat dunia (khususnya Eropa, di Prancis tempat Ia tinggal) yang membagi bagi dirinya menjadi beberapa kelas berdasarkan kelahiran dan keningratan buatan.

The Incal juga bercerita mengenai satu konspirasi besar segelintir penguasa totaliter dan fasis yang mengatur jalan hidup masyarakat, menjejali mereka dengan berbagai slogan kebohongan, kampanye kekerasan, dan berbagai kenikmatan buatan, demi untuk melenakan mereka. Komik ini juga menyoroti sebagian besar prilaku masyarakat elite yang memperlakukan masyarakat dengan tingkat sosial lebih rendah seperti halnya sampah belaka yang bisa diperlakukan semena mena sebagai objek kepuasan dimana nyawa manusia sudah tidak berharga.

The Incal adalah sebuah cerita epik yang dimulai dengan penyelidikan seorang detektif rombeng bernama John Difool , akan keanehan dan misteri hilangnya bayi bayi yang dilahirkan oleh para pelacur di lingkungan tempat ia hidup. Penyelidikan yang pada awalnya hanyalah kewajiban partikelir, tanpa dinyana membawa John kepada fakta satu konspirasi besar yang berpotensi merubuhkan seluruh tatanan masyarakat yang sudah berjalan pada saat itu. Nama John Difool, diambil dari salah satu karakter kartu Tarot , ”Fool”.

Tidak semuanya bergenre sains fiksi, ”The White Lama” dan ”Son of the Gun” (keduanya digambar oleh Georges Bess) kemudian trilogi ”Borgia” – digambar oleh seniman / artis / illustrator tersohor asal Italia , Milo Manara, sebuah cerita dengan panggung waktu jaman Paus Borgia, adalah beberapa karya cerita komiknya yang tidak menggunakan panggung masa depan dan sains fiksi.

Khususnya pada Son of the Gun, Jodorowski menggarap cerita komik penuh aksi ala cowboy tapi tetap secara nyata akan terbaca bahwa Jodorowski sedang mengkritik para penguasa hipokrit di panggung pemerintahan Amerika dan Ia sendiri mencoba menggambarkan dalam komiknya keadaan dan struktur sosial masyarakat kelas bawah di Amerika.

Pemihakannya kepada penduduk Tibet yang menurutnya telah terhancurkan oleh pemerintah negara China komunis (setelah sebelumnya secara sistematis telah dirusak oleh Inggris, melalui misi missionaris) adalah merupakan cerita sebenarnya mengenai The White Lama ini.

Bermula dari pandangan alam gaib dari sang lama agung saat itu , Mipam, yang dengan kemampuannya melihat masa depan telah meramal akan datangnya bencana besar di tahun naga, – di awali oleh datangnya orang orang berkulit putih ke Tibet -.

Sesaat sebelum meninggalkan jasad fananya, Mipam telah menyatakan akan bereinkarnasi kepada seorang bocah yang waktu dan tempat lahirnya juga telah diramal. Mipam juga telah mengutus dua pembantunya yang setia agar kemudian menemukan bocah tersebut dan mendidiknya untuk kemudian dijadikan sebagai lama agung.

Sebagai lama agung ad interim, telah ditunjuk pengganti sementara , Migmar sebagai lama agung yang akan menjabat sampai si bocah ditemukan.

Power is Corrupt. Begitulah Migmar mencoba untuk melanggengkan kekuasannya sebagai lama agung dengan berdaya upaya untuk membunuh si bocah calon lama agung reinkarnasi dari Mipam seketika apabila telah dilahirkan. Bekerjasama dengan dukun ilmu hitam, Migmar memburu orang tua si bayi. Sebagai balasan, Migmar akan mengirim pendeta muda setiap periode tertentu kepada sang dukun untuk kemudian dijadikan obat abadi. Obat anti kematian.

Seperti yang diramalkan Mipam, tersebutlah dua pasangan orang tua yang sedang menantikan bayi, selain pasangan penduduk asli Tibet, terdapat pula secara kebetulan satu pasangan berkebangsaan inggris yang datang ke Tibet bersama dengan seorang pendeta kristen yang datang dalam rangka menyebarkan agama kristen kepada penduduk Tibet yang dianggapnya tidak beradab. Setelah serangkaian kejadian gaib, sang bayi terselamatkan. Tidak pernah terduga bagi para pembunuh bahwa bayi yang dikandung oleh pasangan orang asing itulah sang calon lama agung, the white lama !.

Cerita kemudian bertumpu sekitar pada bagaimana sang bocah bule ini, -yang kemudian dinamakan seperti ayahnya, Gabriel- dapat bertahan hidup untuk menemukan jalan hidupnya sebagai calon Lama Agung yang dipercaya akan menjadii teragung dari yang paling agung sebelumnya.

Komik White Lama ini terdiri dari dua bagian : Reincarnation dan Road to Redemption, di Indonesia baru saja terbit bagian pertama : Reinkarnasi.

Pada Reinkarnasi, cerita berputar pada Gabriel kecil yang harus mengalami didikan keras untuk ditempa menjadi seoranglama agung, dibarengi oleh peristiwa kematian ayahnya yang tragis, warisan dendam serta berbagai peristiwa tragis lainnya, Gabriel kemudian mengembara untuk mencari kuil dimana ia akan memilih untuk menjadi seorang biksu.

Migmar, lama agung ad interim berkolaborasi dengan orang orang Cina, telah merubah kuil agung tersebut menjadi sebuah negara kecil dengan pemerintahan totaliter. Migmar secara sengaja telah mengangkat seorang bocah cacat mental yang terlahir dari keturunan pemimpin masyarakat untuk dijadikan sebagai seorang lama agung boneka. Lucunya lagi, berbarengan dengan kedatangan pasukan Inggris, keluarga si bocah tuna mental ini sebetulnya telah dibaptis menjadi kristen, bahkan oleh sang pendeta kakeknya telah diberi nama baptis Yesus, ayahnya diberi nama Yesus Yunior dan si bocah sendiri dinamakan Yesus Kecil. Satu lelucon dari selera humor yang aneh dari Jodorowski.

Dalam kesewenangannya, Migmar menghancurkan semua tatanan kehidupan di dalam kuil, menghancurkan artifak dan benda benda keramat, serta yang paling parah adalah menghancurkan perpustakaan dimana ditempat tersebut terkumpul buku buku sumber ilmu pengetahuan. Yang menjadi ironis adalah bahwa Migmar telah sudi mengabdi pada orang orang Cina ini, dan rela menjadi jongos yang mentuankan orang orang Cina yang berkepentingan untuk membodohkan rakyat Tibet. Sampai kemudian terjadilah peristiwa dimana Gabriel harus melarikan diri dari kuil itu, terselamatkan, untuk hidup dalam sebuah sekolah kristen, berusaha dirubah oleh para misionaris Inggris kembali menjadi seorang Inggris.

Road to Redemption lebih kompleks, bukan hanya dari segi cerita, pun gambar gambarnya lebih sureal. Gabriel setelah bertemu kembali dengan sepupu tirinya, memutuskan untuk kembali menjadi seorang Tibet, penderitaan ibu angkatnya telah membuat Gabriel harus mencicipi jalan sesat, Gabriel menjadi seorang sakti dengan nafsu membunuh di luar batas. Lebih dari itu, Gabriel telah membawa penderitaan kepada seluruh rakyat Tibet.

Setelah melalui rentetan peristiwa panjang nan gaib, Gabriel akhirnya menemukan pencerahan, berhasil moksa, mampu mengendalikan roh, untuk kembali ke tugas awal, menjadi penyelamat Tibet dan membebaskan kuil dari pengaruh luar. Gabriel telah siap menjadi seorang penyelamat Tibet, dan menjadi teragung dari yang agung.

Walau penuh dengan adegan gaib dan gambar surealis (yang digambar dengan baik oleh Georges Bess), cerita tetap pada fokus utama Jodorowski yaitu kehidupan masyarakat Tibet yang memang konon sangat dekat sekali dengan berbagai peristiwa gaib nan sakti. Kepercayaan masyarakat Tibet akan reinkarnasi, upacara tradisional, , serta kondisi alam yang ekstrim, telah membuat masyarakat Tibet sangat unik dengan berkah kemampuan bertahan hidup yang lebih teruji dibanding manusia biasa.

Satu proses upacara masyarakat Tibet yang cukup ekstrim adalah penenggelaman bayi yang baru lahir ke sebuah danau es, dalam rangka menguji ketahanan si bayi akan kondisi dingin yang akan menyertai dia selama hidupnya.

Di akhir cerita, Jodorowski kembali mengingatkan akan nasib masyarakat Tibet -melalui ramalan Gabriel-, bahwa setelah kedatangan orang orang berkulit putih, maka giliran orang orang Cina lah yang akan membawa kesengsaraan kepada mereka. Orang orang berbendera merah dengan senjata dan mesiu itu akan menghancurkan kembali apa yang diyakini berbagai tradisi dari masyarakat Tibet.

Reinkarnasi versi bahasa Indonesia terbit sesuai dengan format penerbit Humanoids. Komik komik dari Eropa memang mempunyai format sendiri yang mereka namakan dengan album. Dengan diterbitkannya kembali komik komik dari Eropa dengan format aslinya, kita berharap khalayak masyarakat Indonesia yang telanjur akrab dengan format komik jepang akan menemukan alternatif lain sebagai pilihan. Pun pemilihan komik komik yang diberi stempel novel grafis ini ini akan membawa mode baru bagi masyarakat Indonesia yang selalu menganggap komik adalah bacaan anak yang tidak mendidik.

Dengan latar belakang dan wawasan yang dimiliki Jodorowski, White Lama ini bukanlah komik biasa, Jodorowski memahami kebudayaan Tibet dan spiritualisme masyarakat Tibet, bahkan Jodorowski kelihatan sangat memahami ilmu prana, maklum, Jodorowski adalah peminat segala apa. Dalam khazanah komik dunia, Jodorowski bersama Enki Bilal, Alan Moore, Neil Gaiman, Grant Morrison dan lain lain adalah para modernist yang menggunakan medium komik sebagai panggung paham, membawa komik kepada tatanan tingkat baru, yang paling terhormat sebagai seni kesembilan.

Ada yang patut disayangkan dari versi Gramedia ini.

Di industri komik yang sudah mapan, baik Eropa dan Amerika. Apa yang mereka sebut dengan Lettering sudah merupakan komponen yang sangat vital dalam grafis komik. Mereka bahkan mempunyai penghargaan khusus bagi mereka yang tulisan tangan nya telah menambah nilai seni secara grafis sebuah komik, Todd Klein dan Stan Sakai, adalah dua diantara para master lettering ini.

Berbeda dengan V for Vendetta versi Gramedia yang letteringnya sungguh sangat baik bahkan mungkin lebih baik dari versi aslinya ( apa memakai font komputer ? ), lettering pada The White Lama ini berpotensi merusak keindahan gambarnya. Pemilihan tinggi font tidak konsisten, beberapa balon percakapan ditabrak oleh lettering, dan pada beberapa balon, banyak ruang yang malah dibiarkan kosong, pada ”suspense ballon”, letter malah dibuat asal tebal , dan asal miring, sebagai bentuk penekanan intonasi. Memang penerjemahan komik sangat berbeda dengan buku, panjang pendek terjemahan harus juga mengindahkan besar kecil atau panjang pendek nya ruangan dari balon percakapan yang tersedia.

Mungkin pada judul judul novel grafis selanjutnya lettering harus lebih diperhatikan, sebagai penikmat grafis sebuah komik, dan pemuja tulisan tangan (pada komik), lettering bagi saya merupakan bagian dari seni komik. Padahal terjemahannya bagus sekali, sayang kalau di rusak oleh letteringnya.

Review By : Rieza Fitramuliawan